Mar 12
Wahyu 19:6-8; Yesaya 62:3-5
”Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia” (Wahyu 19:7).
Seminggu sebelum saya hendak melangsungkan pernikahan pada 5 Mei 1999 empat tahun lalu, hati saya sudah tidak sabar lagi untuk menanti hari H tersebut. Rasanya seminggu itu seperti satu bulan. Ini adalah penantian yang mendebarkan sekaligus penuh sukacita. Sebab peristiwa inilah yang dinantikan oleh setiap pasangan calon pengantin. Saya tidak tahu dengan Anda tetapi saya percaya Andapun juga merasakan yang sama tentunya.
Pernikahan dua insan manusia yang berbeda kelamin di dunia ini sebenarnya adalah gambaran dari pernikahan yang sebenarnya di surga. Sebab pernikahan yang sebenarnya adalah pernikahan antara Kristus dan Gereja-Nya yang sempurna yang sering kita sebut dengan Perkawinan Anak Domba. Ingat berbicara pernikahan di sini tidak berbicara tentang hubungan selayaknya suami istri.
Tetapi Perkawinan Kristus dengan Gereja adalah puncak satu hubungan yang sempurna antara Sang Pencipta dengan yang diciptakan. Tidak ada hubungan yang paling sempurna dari hubungan Kristus dengan Gereja-Nya. Bukankah ini hari yang dinanti-nantikan oleh Gereja Tuhan? Gereja-Nya adalah mereka yang telah dibasuh dengan darah-Nya sendiri. Mereka ini adalah orang-orang yang telah ditebus. Kita adalah orang-orang yang telah ditebus itu. Bersiaplah bertemu dengan Pengantin Laki-laki. Itu berarti kita akan memandang Kristus muka dengan muka tanpa rasa takut dan terhukum.
Bila hari perkawinan Anak Domba itu tiba maka sampai selama-lamanya kita akan bersama dengan Dia. Tidak ada waktu yang bisa membatasi keintiman kita dengan Kristus. Kesempurnaan itu akan menyatukan kita. Apa yang Kristus punya, kita juga punya. Apa yang kita rasakan di dunia ini tidak akan sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima.
Sorak-sorai para malaikat akan mengiringi pernikahan Anak Domba Allah. Tidak ada ratap tangis semua penghuni surga menantikan peristiwa tersebut dengan seksama. Semua orang kudus akan ”memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!” [Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.]”
Renungan:
Karena pada pesta perkawinan Anak Domba nanti pakaian kita nanti bukanlah terbuat dari wool atau kulit tetapi perbuatan-perbuatan benar selama di dunia maka apa yang akan Anda lakukan di dunia ini? Bayangkan bila kita tidak melakukan hal-hal yang benar selama hidup di dunia pastilah kita akan telanjang. Sebab tidak ada yang bisa kita pakai. Tidak ada pakaian cadangan. Oleh sebab itu hiduplah kudus.
Mar 11
Wahyu 19:9-10; Mazmur 81:10
”Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: "Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat” (Wahyu 19:10).
Yesus adalah fenomena ilahi yang tak tertandingi oleh siapapun juga. Keberadaan-Nya sangat ajaib. Dimulai dengan kelahiran-Nya yang ajaib, kebangkitan-Nya yang ajaib dan kenaikan-Nya yang ajaib pula membuat Dia diperbincangkan semua makhluk di bumi ini sepanjang masa sampai kekekalan. Bukan hanya pada masa sekarang saja tetapi pada masa lalu sebelum kelahiran-Nya ke dunia juga sudah diperbincangkan. Ini adalah kesaksian Yesus.
Perjanjian Lama memberi kesaksian tentang Yesus. Perjanjian Baru juga memberikan kesaksian tentang Yesus. Kedua Perjanjian tersebut menyaksikan Pribadi yang sama sekalipun rentang waktu antara satu kitab dengan kitab lainnya cukup jauh.
Tetapi mengapa kesaksian yang disampaikannya sama, yaitu kesaksian tentang Yesus yang lahir, mati, bangkit, naik ke surga dan memerintah sebagai Raja dan Tuhan? ”Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat.” Bila kita balik kalimat tersebut bunyinya ’Roh nubuat adalah kesaksian Yesus.’ Keduanya memiliki arti yang sama yaitu nubuatan yang disampaikan para nabi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah berisikan kesaksian tentang Yesus Kristus karena nubuat mereka diilhami oleh Roh Nubuat yang sama yang tidak lain adalah Roh Kudus.
Tidak ada nubuatan yang tidak berbicara atas nama Yesus Kristus. Itu berarti semua nubuatan selalu berpusat pada Kristus. Ada tiga kelompok yang memegang kesaksian Yesus seperti pada ayat di atas: pertama, rasul Yohanes [mewakili para rasul]; kedua, orang percaya; ketiga, malaikat. Kesaksian mereka sama yaitu kesaksian Yesus.
Siapapun nabinya bila tidak berpusat pada Yesus, dia adalah nabi palsu. Siapapun malaikatnya bila tidak membawa kesaksian Yesus, dia adalah iblis atau roh-roh jahat yang menjelma menjadi malaikat terang. Ingat perkataannya Paulus, ”Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil [Kesaksian Yesus] yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia” (Galatia 1:8).
Renungan:
Pertanyaan saya apakah Allah punya kesaksian Allah? Atau kesaksian siapa yang Allah punyai? Selama Roh Kudus hidup di dalam diri Allah maka Allah pasti memiliki kesaksian Allah. ”Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.” (Yoh. 15:26). Pegang terus kesaksian Allah dan hiduplah sesuai dengan kesaksian Allah.
Mar 10
Wahyu 20:1-3; Yesaya 65:25
” Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya,” (Why. 20:1-2)
Bukankah selama ini kita menuduh iblis sebagai dalang segala kekacauan dan pemicu dosa? Memang. Dan secara jujur sebenarnya kita menginginkan dalam hidup ini satu kehidupan yang bebas dari iblis dan pengaruhnya. Bisa Anda bayangkan bagaimana kehidupan tanpa adanya iblis dan konco-konconya itu? Tentunya sangat menyenangkan bukan?
Itulah yang akan dilakukan Allah bagi bumi ini pada masa seribu tahun. Pada masa yang lalu iblis mengambil rupa seekor ular tetapi pada masa itu dia mengambil rupa seekor naga, itu menunjukkan bahwa manifestasi iblis menjadi semakin besar maka pada masa seribu tahun si ular tua itu benar-benar tidak berdaya alias mati kutu. Mengapa? Sebab dia diikat dan dimasukkan ke dalam jurang maut selama seribu tahun lamanya.
Karena pada masa seribu tahun iblis tidak berkutik sama sekali maka saya percaya pada masa itu tidak akan ada yang namanya percekcokan ataupun kejahatan, diskotik, pelacuran, perjudian dan tempat-tempat maksiat lainnya. Mengapa? Sebab pertanyaan saya, apakah bisa berdiri diskotik, pelacuran, perjudian dan tempat-tempat maksiat lainnya tanpa kehadiran iblis? Tentu tidak! Sebab justru karena ada iblis maka diskotik, pelacuran, perjudian dan tempat-tempat maksiat lainnya berdiri. Dialah yang mempengaruhi dan yang memberikan inisiatif kepada manusia untuk mendirikan tempat-tempat tersebut serta membakar hawa nafsu manusia untuk membangun dan melakukannya.
Memang masih ada orang berdosa di dalam kerajaan seribu tahun tetapi sifat dosa yang ada pada mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa atau dengan kata lain padam. Karena pemicunya [iblis] sudah tidak ada. Sebaliknya dalam kerajaan seribu tahun hadirat dan kemuliaan Tuhanlah yang mendominasi bumi ini sebab Yesuslah yang menjadi Raja dan Pemimpinnya. Haleluya!
Atmosfir rohani dalam kerajaan seribu tahun adalah atmosfir surga. Tidak ada kegelapan sama sekali di dalamnya. Atmosfir yang demikian bukan hanya mempengaruhi manusianya untuk tidak berbuat dosa tetapi juga mempengaruhi alam dan lingkungannya serta flora dan faunanya yang bersahabat dengan manusia. Boleh dikatakan singa, harimau dan binatang buas lainnya tidak lagi menjadi buas. Semuanya ini karena hadirat Allah saja. Inilah kerajaan tanpa iblis. Hidup tanpa iblis.
Renungan:
Apakah Yesus menginginkan suasana seperti itu? Tidak usah ditanya, Yesus pasti menginginkannya. Bila Yesus menginginkannya mulai sekarang persiapkan diri dengan hidup kudus dan berkenan kepada Yesus. Sebab hanya mereka yang hidup kudus yang akan dingkat hidup-hidup dan memerintah bersama Yesus. Haleluyah!!!
Tanpa iblis dosa menjadi mati, tanpa Yesus hidup menjadi mati.
Mar 09
Wahyu 19:17-21; 2 Tawarikh 20:17
“Maka tertangkaplah binatang itu dan bersama-sama dengan dia nabi palsu, yang telah mengadakan tanda-tanda di depan matanya, dan dengan demikian ia menyesatkan mereka yang telah menerima tanda dari binatang itu dan yang telah menyembah patungnya. Keduanya dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang” (Wahyu 19:20).
Dunia klenik dan supranatural mulai banyak ditayangkan di media massa baik cetak maupun elektronik. Dunia misteri dan sejenisnya mulai menjadi kegemaran masyarakat, ditambah lagi dengan pengobatan alternatif yang memakai ilmu kanuragan. Tanda-tanda ajaib ditampilkan, dan sekilas aktifitas itu begitu hebat dan spektakuler, sehingga banyak orang berdecak kagum melihatnya. Bahkan mulai berduyun-duyun untuk mengikuti ritual tersebut. Banyak alasan mengapa orang melakukannya, ada yang pingin jabatannya naik, ada yang pingin cepat kaya, ada yang ingin cepat dapat jodoh, cepat naik pangkat, ramai tokonya dan laris dagangannya.
Pengaruh klenik ini juga memikat orang-orang yang secara formal beragama Kristen, apalagi jika di dalamnya mereka melihat ada tanda salib dan juga Alkitab yang ditaburi bunga setaman. Ini adalah mistik Kristen, banyak orang Kristen yang terjebak disini. Apalagi selama ini banyak orang yang berkonotasi bahwa tanda salib itu identik dengan kekristenan, dan semua orang yang memakai tanda itu adalah Kristen. Ini salah! Sekarang banyak orang yang memakai tanda ini, termasuk penyembahan setan yang juga mengklaim punya gereja sebagai pusat penyembahan di mana di dalamnya ada altar persembahan.
Kita perlu ingat bahwa akhir zaman seperti sekarang begitu banyak bermunculan nabi-nabi palsu dan guru-guru palsu, sebagaimana Tuhan Yesus pernah sampaikan: "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Matius 7:15).
Tuhan Yesus sudah memberikan kita kemenangan, dan Ia mau supaya kita tetap tinggal di dalam kemenangan apapun kondisi yang kita hadapi, sebab maut sudah dikalahkan. Jangan mau lagi kita terperangkap oleh tipu muslihat iblis dan kroninya. Apapun alasannya iblis sudah dikalahkan, sejak 2000 tahun yang lalu, sekarang dan seterusnya.
Sampai akhirnya, iblis dan pengikutnya harus masuk ke gehena. Gehena adalah tempat penyiksaan kekal dimana di dalamnya ada api yang menyala-nyala oleh belerang. Di sinilah pada akhirnya iblis dan pengikutnya akan dimasukkan dan disiksa untuk selama-lamanya.
Renungan:
Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yangtelah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita (1 Korintus15:55-57).
Jangan biarkan kemenanganmu direbut oleh musuh yang sudah kalah. Bertahanlah dan terus kerjakan keselamatan yang dari Allah
Mar 08
Wahyu 19:11-16; Yesaya 53:7
”Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: ”Firman Allah” (Wahyu 19:13).
Yesus Kristus memiliki banyak sebutan di dalam Alkitab. Bila kita membaca semua 66 kitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru maka kita akan menemukan bahwa setiap kitab berbicara tentang Yesus dengan sebutan yang berbeda-beda baik secara tipologi maupun secara wujud pribadi. Contoh, dalam kitab Kejadian YESUS digambarkan sebagai Domba di atas mezbah Abraham. Dalam kitab Wahyu YESUS disebut sebagai Raja segala raja dan Tuhan segala Tuhan.
Setiap sebutan menunjukkan siapa Yesus Kristus itu sebenarnya. Jadi bila kita menyebut nama Tuhan Yesus, maka itu sudah meliputi semua sebutan yang dimiliki Yesus seperti yang dicatat di dalam Alkitab.
Dalam renungan kita hari ini kita mengenal bahwa Yesus Kristus nama-Nya adalah FIRMAN ALLAH [LOGOS]. Mengapa? Sebab dari awalnya Dia adalah memang FIRMAN ALLAH. Ingat apa yang dikatakan Injil Yohanes 1:1-3, ”Pada mulanya [sebelum segala sesuatunya ada yang ada] adalah Firman [YESUS]; Firman [YESUS] itu bersama-sama dengan Allah dan Firman [YESUS] itu adalah Allah. Ia [YESUS] pada mulanya bersama-sama dengan Allah.”
Tetapi FIRMAN ALLAH itu telah menjadi manusia yang tidak berdosa. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, FIRMAN ALLAH mempersembahkan tubuh-Nya untuk mati di atas kayu salib demi dosa kita. Dan pada hari ke-3 FIRMAN ALLAH bangkit dari kematian. Empat puluh hari kemudian Dia naik ke surga, kembali ke asalnya. Tetapi jangan lupa bahwa semua yang pernah Dia lakukan selama menjadi manusia tidak pernah hilang. Semuanya itu dicatat, direkam dan diabadikan di surga. Oleh sebab itu ayat di atas mencatat, ”Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah...” Jubah di sini berbicara perbuatan atau karya Yesus. Dan jubah inilah yang kemudian dicelupkan ke dalam darah-Nya sendiri, membuktikan bahwa karya kematian-Nya bagi dosa manusia sekali dan untuk selamanya tetap dikenang hingga kekekalan.
Sekalipun Dia menjadi manusia Dia tetap FIRMAN ALLAH. Sekalipun Dia telah bangkit dari kematian, kematian-Nya tidak pernah dilupakan. Dampak kematian-Nya bukan hanya mempengaruhi bumi tetapi juga mempengaruhi surga.
Renungan:
Sekarang bukan hanya FIRMAN ALLAH menjadi manusia tetapi FIRMAN ALLAH harus menjadi hidup kita dan mendarah daging dalam hidup kita sehingga perkataan dan tingkah laku kita berasal dari FIRMAN ALLAH. Itu adalah perkara yang tidak mudah untuk dilakukan namun hal itu harus dilakukan bila kita ingin menang.
Recent Comments