HAMBA DAN MAJIKAN

Renungan No Comments »

Kolose 3:22:4:1; Maleakhi 1:6

“Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga” (Kolose 4:1).

Kasus penyiksaan terhadap pembantu rumah tangga sampai mati membuka mata kita bahwa kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan kekuasaan masih saja terjadi di bumi ini. Lemahnya hukum yang mengatur hubungan antara majikan dengan pembantunya semakin memperparah kondisi buruh di negara kita. Tetapi kekristenan sendiri sebenarnya memberikan hubungan dan peraturan yang jelas mengenai hal ini. Anda bisa lihat dalam pembacaan ayat hari ini, dengan hikmat Allah Paulus memberikan penjelasan bahwa bagian hamba adalah mentaati tuannya, dan bagian tuan adalah berlaku jujur dan adil.
Saya perhatikan bahwa orang Kristen zaman sekarang hanya suci saja di depan jemaat, tetapi di rumahnya ia seperti serigala yang keluar dari sarangnya. Setiap hari pembantu rumah tangganya menjadi luapan amarahnya. Akhirnya pembantunya itu tidak kerasan dan minta pulang ke kampung. Tahukah Anda apa yang diceritakannya kalau ia tiba di kampung? “Eh, jangan lagi bekerja sama majikan Kristen. Masak mau ke gereja saja mesti marah-marah dulu karena Alkitabnya tidak ketemu!” Nah, kalau sudah begini pasti tidak menjadi kesaksian yang baik. Jadi kalau ada orang Kristen yang mempunyai pembantu rumah tangga yang keluar masuk itu artinya cuma satu: majikannya galak!
Dan bagian pembantu sendiri adalah setia, taat, dan tidak pacaran dengan pembantu sebelah rumah, apalagi sampai membawanya masuk ke dalam rumah. Bahkan dengan berani Paulus berkata bahwa apa yang dilakukannya hendaklah sama dengan apa yang diperbuatnya untuk Tuhan. Ini berbicara mengenai ketulusan dan kerendahan hati.
Saudara, ciptakan rumah tangga Anda dalam damai sejahtera Allah. Hubungan-hubungan yang tidak baik dalam rumah tangga dapat mengganggu hubungan Anda dengan Tuhan. Sebab Allah sendiri berkata, “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat. 5:23, 24).

Renungan:
Cobalah periksa apakah hubungan-hubungan Anda baik selama ini? Kalau Anda membuat kesalahan dengan pembantu atau bawahan Anda, jangan segan untuk mengajaknya berdamai, supaya tercipta iklim damai sejahtera pada lingkungan Anda.

Perdamaian terjadi karena ada maaf.

Related posts

MENGGUNAKAN LIDAH DENGAN BIJAKSANA

Renungan No Comments »

Kolose 4:5, 6; Mazmur 39:2

“Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kolose 4:6).

Socrates dari Constantinople (sekarang Istanbul), seorang sejarahwan gereja bercerita tentang seseorang yang datang kepadanya dan meminta kepadanya untuk mengajari kitab Mazmur atau sebagian dari Alkitab. Socrates mulai membacakan kitab Mazmur pasal 39, “….. Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku…… “ (Mzm. 39:2). Melewati bagian ini, tiba-tiba Pambo, nama orang itu, menutup Alkitab lalu pergi sambil berkata bahwa ia akan belajar bagian itu terlebih dahulu.
Socrates menunggu dan menunggunya, namun ia tidak muncul. Akhirnya, suatu hari Socrates bertemu Pambo secara tidak sengaja dan ditanyai ke mana saja ia. Pambo berkata bahwa ia sedang mempelajari bagian pertama dari ayat itu. Empat puluh lima tahun kemudian ketika seseorang bertanya kepadanya mengapa ia tidak belajar bagian Alkitab lainnya juga, Pambo selalu menjawab dengan jawaban yang sama. Ini adalah pelajaran yang paling berat baginya!
Paulus memberikan nasihat yang sama kepada jemaat di Kolose agar mereka juga tahu bagaimana menggunakan lidahnya dengan bijaksana – menggunakan kata-kata dengan kasih.
Dalam bahasa Inggris kata “words” (kata-kata) dan “swords” (pedang) hanya dibedakan oleh satu huruf, tetapi keduanya dapat berarti sama bila kita tidak menggunakan lidah kita dengan bijaksana.
Kalau Anda bertanya kepada saya seseorang yang sakit hati sampai puluhan tahun hanya karena temannya “salah ucap”, saya akan tunjukkan. Memang fakta menyatakan bahwa perkataan yang tidak digarami dan tidak didorong oleh kasih, maka akan menjadikan racun bagi yang mendengarnya. Sebelum Anda berkata sebaiknya Anda berpikir terlebih dahulu, apakah kalimatku ini nanti tidak menyakiti hatinya?
Saya tidak menganjurkan Anda menjadi orang bisu! Saya hanya menyampaikan pesan Tuhan supaya Anda melakukan segala sesuatu, termasuk berkata-kata, dengan dilandasi oleh kasih.

Renungan:
Jadikan lidah Anda menjadi berkat bagi orang lain. Hendaknya perkataan Anda itu menghibur, membangun, menguatkan, menyegarkan, dan menyembuhkan. Mintalah maaf kalau kalimat Anda terlanjur dilepaskan dan itu menyakitkan saudaramu.

Perkataan kasih itu menguatkan, namun perkataan kasar itu menghancurkan.

Related posts

MENGUCAP SYUKURLAH!

Renungan No Comments »

1 Tesalonika 1:1-4; Yeremia 17:26

“Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami” (1 Tesalonika 1:2).

Apabila seseorang diselamatkan, ia menjadi anak-anak Allah. Ia menjadi anggota keluarga besar Kerajaan Allah. Dan kita semua menjadi satu di dalam Yesus. Ini membawa pengertian bahwa ada dukungan dari masing-masing anggota terhadap anggota lainnya.
Hubungan Paulus dengan jemaat-jemaatnya begitu baik. Dan ia selalu mengucap syukur dan menyebut mereka dalam doa-doanya. Kalau Anda sebagai orang percaya harus berdoa kepada rekan seiman yang lain apa yang patut Anda ucapkan syukur? Kita akan renungkan 3 hal ini yang harus kita ucapkan syukur atas rekan-rekan kita seiman:
Pertama, mengucap syukurlah karena pembebasan mereka.
Mereka sudah dibebaskan dari perbudakan dosa. Mereka telah berjalan di padang gurun dan telah Allah tuntun masuk ke dalam tanah perjanjian. Dan untuk itulah kita mengucapkan syukur.
Kedua, mengucap syukurlah karena ketetapan mereka.
Tidaklah mudah untuk “…. berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar” (ayat 9). Ini berarti penyangkalan dan pengorbanan yang tidak kecil. Ada orang-orang yang rela dikucilkan, bahkan dibunuh hanya karena mereka berbalik dari kepercayaan mereka yang lama untuk melayani Allah yang benar. Tetapi orang-orang seperti ini telah ditetapkan untuk tinggal bersama Allah dan umat-Nya. Bersyukurlah terhadap orang-orang yang telah Allah tetapkan ini.
Ketiga, mengucap syukurlah karena kekekalan mereka.
Ayat 10 berkata, “….. untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.” Sungguh indah menerima keselamatan dan berjalan bersama Allah. Anda seperti berjalan di padang belantara di bumi ini sebelum Anda memasuki tanah perjanjian. Dan selama kita berjalan di bumi ini kita menantikan kedatangan Kristus. Setiap orang yang namanya sudah tercatat di kitab kehidupan akan menerima kemuliaan. Anda dan saya telah ditentukan untuk menerima semua kemuliaan yang telah Allah sediakan.

Renungan:
Marilah kita mengucap syukur senantiasa atas anugerah Allah yang Dia limpahkan kepada umat-Nya. Dan kiranya pengucapan syukur kita itu semakin melimpah dan Allah dimuliakan melalui ucapan syukur kita.

Hanya anak Tuhan yang tahu berterima kasih yang mengucap syukur.

Related posts

GEREJA YANG MENGERANG

Renungan No Comments »

Kolose 4:10-14; Amsal 22:6

“…. Epafras …. hamba Kristus Yesus, yang selalu bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah” (Kolose 4:12).

Epafras adalah salah satu rekan setia Paulus, salah seorang guru di Kolose. Dia mengajarkan firman Tuhan dengan setia dan akhir hidupnya, menurut tradisi gereja, mati sebagai martir.
Satu hal yang diwariskan Epafras kepada kita adalah pergumulannya di dalam doa syafaat bagi jemaat Tuhan. Kata “bergumul” sendiri mengesankan tentang perjuangan yang tidak ringan. Dan memang setiap anak Tuhan diberi tanggung jawab untuk “bergumul” dalam arti berjuang di dalam iman untuk rekan-rekan yang lain.
Kepada jemaat di Galatia, Paulus menuliskan, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu” (Gal. 4:19). Anda yang menjadi ibu pasti “kapok” mau melahirkan anak lagi, sebab perjuangan yang Anda rasakan untuk melahirkan anak itu sungguh berat. Itulah yang terjadi dengan jiwa-jiwa yang berada dalam tanggung jawab Paulus. Jadi Paulus sebagai Rasul Allah tidak sekedar memberitakan Injil, lalu finish! Tidak! Paulus mempunyai kerinduan agar setiap orang yang sudah bertobat dapat menjadi seperti Kristus. Dan ini berarti proses yang panjang dan membutuhkan doa dan pengorbanan, seperti seorang ibu yang bergumul saat proses kelahirannya tiba.
Menjadikan murid Tuhan adalah inti dari perintah agung Tuhan Yesus Kristus., bukan sekedar memberitakan Injil saja. Bacalah Alkitab Anda, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa MURID-KU dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19). Menjadikan bangsa-bangsa murid Tuhan adalah tugas kita bersama.
Sayang, gereja sekarang lebih senang melihat jumlah daripada kualitas jemaatnya. Jumlah memang penting, tetapi kalau jemaatnya masih belum diajar menjadi murid Tuhan, kita perlu merevisi lagi misi dan visi gereja kita. Gereja disebut bertumbuh bila jumlahnya semakin bertambah dan kualitas rohaninya semakin meningkat.

Renungan:
Kalau Anda mengaku sudah dewasa di dalam Tuhan, Anda wajib ”melahirkan” anak-anak rohani, dan mendidik mereka untuk menjadi murid Tuhan yang setia. Jangan puas kalau cuma duduk sebagai ketua departemen saja!

Gereja yang mengerang lebih diperkenan Tuhan daripada gereja “hura-hura”.

Related posts

TIKHIKUS – SAHABAT SEJATI

Renungan No Comments »

Kolose 4:7-9; Amsal 18:24

“Semua hal ihwalku akan diberitahukan kepada kamu oleh Tikhikus, saudara kita yang kekasih, hamba yang setia dan kawan pelayan dalam Tuhan” (Kolose 4:7).

Tikhikus. Apa? Siapa Tikhikus itu? Itulah pertanyaan spontan yang dilontarkan bila kita menyebut nama “Tikhikus”. Saya yakin Anda tidak akan memilih nama ini untuk Anak Anda, kendati nama ini ada di Alkitab.
Tikhikus mempunyai reputasi yang cukup baik. Paulus sendiri menyebutnya dengan “hamba yang setia” dan “kawan pelayan dalam Tuhan”.
Kalau saya mencari teman saya akan mencari teman seperti model Tikhikus ini. Mengapa? Sebab dia adalah model teman yang setia dan selalu menemani saat kita berada dalam kesusahan. Ingat, saat itu Paulus berada dalam penjara ketika ia menyebut Tikhikus dengan “hamba yang setia” atau “kawan”.
Paulus bukanlah hamba Allah yang rohaninya selalu berada di puncak. Kadangkala ia letih. Kadangkala ia lelah, juga capek secara fisik dan mental menghadapi ancaman dan teror orang-orang yang memusuhi Injil. Apalagi teman-temannya sebagian meninggalkannya dan tidak mempedulikan dia lagi. Pada saat itulah ia membutuhkan seorang sahabat yang mau mengerti dia. Salah satu yang dia temukan adalah Tikhikus. Saya yakin Tikhikus datang sebagai sobat yang mampu memberikan penghiburan kepadanya.
Firman Tuhan berkata, “Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara” (Ams. 18:24).
Dua jenis teman disebutkan di sini: yang mendatangkan kecelakaan dan yang karib alias yang dapat memberikan penghiburan kepadanya. Dan semua orang Kristen yang kita temui adalah sahabat kita, namun sayangnya tidak semuanya adalah baik. Sebagian dari mereka adalah parasit yang hanya mencari keuntungan diri sendiri. Mereka bukanlah orang Kristen yang bertipe Tikhikus.
Marilah kita menjadi teman yang baik bagi saudara kita. Perhatikanlah segala kesusahan mereka dan datanglah kepadanya, sebab saat itulah ia membutuhkan Anda. Setidak-tidaknya sepatah kata yang lemah lembut akan memberikan penghiburan kepadanya.

Renungan:
Saudara, jadilah sahabat yang baik bagi orang lain. Sahabat yang baik itu selalu menemani dan memberikan penghiburan di saat temannya mendapatkan kesusahan. Jangan menjadi Yudas Iskariot yang menjual Sahabat dan Gurunya sendiri.

Sahabat sejati adalah kawan di saat susah.

Related posts

Copyright 2009 © Successful Bethany Families Sydney. All rights reserved.
| Sitemap
Entries RSS Comments RSS Log in