Jul 03
Ringkasan Kotbah Pdt Yoanes Kristianus
Tgl 28 Juni 2009
Ayat bacaan Mazmur 46:11
Ketika hubungan kita dengan Tuhan terputus, maka Tuhan tidak bisa mengirimkan pesan kepada kita dan sebaliknya kita juga tidak bisa mengirim pesan ke pada Tuhan. Yang membuat kita maju dalam Tuhan adalah hubungan kita dengan Tuhan. Cara terbaik supaya kita semakin intim dengan Tuhan adalah melalui keheningan atau diam di dalam Tuhan, dan ada tiga hal yang dapat kita pelajari dari diam dalam Tuhan:
1. Diam adalah kunci membuka inspirasi yang baru
Kita tidak akan bisa mengenal seseorang dengan baik jika kita bicara secara terus menerus. Hubungan akan terjadi ketika kita diam dan tenang. Visi kita menentukan masa depan kita dan visi didapat dari hubungan kita dengan Pencipta kita. Kesibukan dapat membuat kita turun dalam kualitas. Dalam Markus 1:35 diceritakan bahwa Yesus yang adalah Tuhan masih tetap bergantung pada sumber-Nya yaitu Bapa di surga. Yesus bangun pagi hari dan menyediakan waktu untuk berdoa kepada Bapa di surga. Hubungan kita dengan Tuhan meningkatkan kualitas dan bobot kehidupan kita. Dengan diam dan beristirahat ada dua hal yang akan kita capai. Yang pertama dengan istirahat kekuatan kita akan dikembalikan dan yang kedua dengan istirahat kita akan mendapat visi dari Tuhan yang dapat meningkatkan kualitas pekerjaan dan/ atau pelayanan kita.
2. Diam adalah kunci menginsyafkan manusia akan dosa
Keheningan akan menyadarkan manusia akan (a) bahwa manusia perlu Tuhan dalam hidupnya, (b) siapa manusia sebenarnya dan (c) nasibnya dan menjadi siapakah kita nantinya. Semua yang kita miliki dan capai sampai saat ini adalah karena Tuhan yang memberkati kita. Karena itu kita harus bisa mendengar suara Tuhan yang (a) membangun, (b) menghibur dan (c) menasehati.
3. Diam adalah kunci meninggikan Tuhan yang efektif
Ketika kita meneteskan air mata kita maka Tuhan Allah akan tersentuh. Ketika kita di tengah penderitaan maka Tuhan Allah akan peduli. Akan tetapi ketika kita mulai memuji Dia, Tuhan Allah akan turun dari tahta-Nya yang agung dan menolong kita. Jika dalam hidup kita tidak ada penyembahan, maka dalam hidup kita juga tidak akan ada berkat.
Tuhan memberkati.
Jul 03
Kisah 5:26-42; Mazmur 119:43
“Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia” (Kisah 5:29).
Gereja mula-mula begitu berani menyatakan kebenaran. Mereka tidak takut kepada orang-orang yang siap menganiaya mereka. Bagaimanakah mereka menyatakan kebenaran?
Pertama, mereka menyatakan kebenaran dengan mentaati Allah (ay. 29). Mendapat perlawanan dari imam besar mereka bukannya keder dan takut, tetapi mereka malah berkata, “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.” Karena mereka telah mengetahui kebenaran, mereka sama sekali tidak gentar menyatakan kebenaran. Tuhan harus lebih ditakuti daripada manusia. Tetapi, kenyataan yang terjadi adalah kebalikannya.
Kedua, mereka menyatakan kebenaran dengan mengekspos dosa (ay. 30). Pembunuhan terhadap Anak Allah yang dianggap perbuatan yang tepat dinyatakan sebagai suatu kesalahan fatal oleh Petrus. Seharusnya kita juga tidak takut menegur orang yang bersalah. Kita juga seharusnya berani menelanjangi perbuatan orang-orang yang melakukan pelanggaran terhadap firman Allah. Tentunya teguran dilakukan dengan kasih, bukan?
Ketiga, mereka menyatakan kebenaran dengan meninggikan Kristus (ay. 31). Tidak ada keinginan yang paling besar dari seorang hamba Tuhan sejati kecuali meninggikan Tuhan. Dengan meninggikan Tuhan kita menyatakan kebenaran, sebab Allah memang telah dan terus meninggikan Kristus. Kalau Anda meninggikan Tuhan, maka Anda menyatakan kebenaran.
Keempat, mereka menyatakan kebenaran dengan menjadi saksi Tuhan (ay. 32). Para rasul jelas tidak tahan untuk tidak berbicara tentang pengalaman pribadi mereka dengan Tuhan. Tak ada satu kekuatan pun yang dapat mengatupkan mulut mereka sehingga mereka tidak dapat berkata-kata tentang kasih dan kuasa Tuhan. Bila gereja Tuhan tidak mau bersaksi, maka itu suatu langkah kemunduran yang parah. Sebab gereja yang hidup adalah gereja yang bersaksi.
Renungan:
Satu-satunya cara untuk menjadikan kita orang-orang yang beda adalah dengan menyatakan kebenaran. Daud berseru, “Janganlah sekali-kali mencabut firman KEBENARAN dari mulutku, sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu” (Mzm. 119:43). Beranilah mengucapkan firman kebenaran ini kepada siapa saja.
Kebenaran yang tidak dinyatakan adalah penyesatan terselubung.
Jul 02
Kisah 4:32-37: Mazmur 72:12-14
“Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama” (Kisah 4:32).
Seorang psikoterapi, Sigmund Freud berkata bahwa apa saja yang kita lakukan bersumber dari 2 motivasi: keinginan seksual dan keinginan untuk menjadi yang terbesar. Sedangkan John Dewey, seorang filosof, menyampaikan pendapatnya bahwa keinginan terdalam manusia adalah menjadi orang penting. William James berkata, “Prinsip paling dalam dari sifat dasar manusia adalah keinginan untuk dihargai.”
Sadar atau tidak kita juga sering kali tidak lepas dari keinginan dasar ini. Tetapi Yesus memberikan kunci untuk menjadi yang terbesar yang akan bertentangan dengan prinsip ini, “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Mat. 20:26-28). Menjadi pelayan atau hamba adalah kunci untuk menjadi yang terbesar.
Saya percaya bahwa ciri ini ada pada gereja mula-mula. Setiap jemaat mempunyai hati yang tulus untuk menjadi pelayan Tuhan. Mereka mempunyai keinginan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Mereka tidak segan-segan memberikan harta ? bagi orang sekarang adalah “benda keramat” yang tidak boleh diberikan kepada orang lain ? kepada orang-orang yang membutuhkan (ay. 34, 35). Dan para rasul membagi-bagikan harta itu dengan adil kepada orang yang membutuhkan.
Mengapa mereka bisa melakukan perbuatan seperti ini? Sebab mereka adalah jemaat yang dipenuhi dengan Roh Kudus dan hidup dalam ketulusan hati. Mereka semua bersehati dan saling memperlakukan seperti saudara sendiri. Mungkinkah gereja Tuhan meniru mereka? Bukankah selama ini kita menabuh genderang iman yang mengatakan bahwa Allah akan mengembalikan gereja zaman sekarang kepada zaman gereja mula-mula: Allah akan melakukan perbuatan-perbuatan ajaib; Allah akan membangkitkan rasul-rasul dan nabi-nabi; Allah akan memenuhi gereja-Nya dengan Roh Kudus; sembilan karunia Roh Kudus akan dinyatakan di antara umat Allah; bahkan mereka yakin bahwa gereja akan dipersatukan? Tapi mana keyakinan yang menyatakan bahwa akan ada orang-orang yang membagikan harta kepada orang miskin?
Renungan:
Menjadi yang terbesar adalah menjadi pelayan Tuhan tanpa keinginan untuk menjadi orang terkenal. Kalau Anda menjadi pelayan Tuhan, pikirkan bagaimana caranya menjadi berkat bagi orang lain, kalau perlu mengorbankan harta kita juga.
Anda tidak layak menjadi pelayan Tuhan bila masih mengkorupsi pujian yang menjadi milik Tuhan.
Jul 01
Kisah 5:12-16; Mazmur 80:20
“Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan” (Kisah 5:14).
Kita lebih senang membicarakan pengalaman masa lalu, apalagi masa lalu itu begitu manis untuk dikenang. Dalam sejarah gereja, kita senang mengungkit masa-masa kejayaan kebangunan rohani: Charles Finney, Alexander Dowie, Evan Roberts, Smith Wigglesworth, atau Oral Roberts. Apakah kita hanya hidup pada masa lalu? Tidak! Kita hidup pada zaman sekarang! Apabila kita belum melihat gereja dipenuhi dengan kuasa Allah, apa yang tidak beres? Yang salah jemaatnya atau belum waktunya Tuhan? Seorang hamba Tuhan memberikan alasan-alasan mengapa kita masih belum melihat kebangunan rohani hingga kini: Pertama, gereja kehilangan kerinduan. Kesibukan dan aktivitas yang luar biasa membuat kita kehilangan kerinduan akan hal-hal rohani. Jujur saja, kita bisa duduk berjam-jam dengan “manis” dengan rekan yang menawarkan prospek bisnis yang bagus. Namun, berbicara mengenai firman Tuhan, 5 menit saja sudah begitu membosankan dan menjemukan. Kapan kebangunan rohani akan terjadi kalau hati kita begitu dingin terhadap perkara-perkara rohani? Hal ini bukan berarti kita harus selalu melakukan hal-hal rohani 24 jam sehari, tetapi yang dimaksudkan disini adalah adalah bagaimana tetap menciptakan kerinduan tanpa harus kehilangan aktivitas kita sehari-hari. Kedua, gereja malas berdoa. Mungkin saudara ingat dengan seorang yang masih berstatus sebagai pacar. Tidak ada kebosanan yang terpancar di wajahnya saat ia sedang bercengkerama dengan sang pacar. Nyamuk-nyamuk yang membentuk brigade di sekeliling kaki dan tangannya tidak mengurangi minat sedikit pun untuk terus “rapat” yang tidak ada kesimpulannya itu dengan sang pacar. Sebab apa? Jawabannya satu kata: cinta! Sama juga dengan gereja Tuhan. Kalau gereja sudah tidak atau berkurang cintanya kepada Tuhan, doa akan menjadi rutinitas yang amat menjemukan. Padahal, dulu saat baru jatuh cinta dengan Tuhan, berdoa menjadi hobi yang tidak dapat digantikan dengan kegiatan apapun juga. Ketiga, gereja mudah berkompromi dengan dosa. Hal ini merupakan persoalan serius dalam gereja. Banyak gereja yang kurang ketat dalam menerapkan teguran terhadap jemaat Tuhan yang berbuat dosa. Padahal firman Tuhan mengajarkan supaya kita menegur dengan kasih bagi mereka yang melakukan pelanggaran. Akhirnya masuklah budaya “sungkan”, apalagi ini menyangkut jemaat kehormatan yang setia memberikan sumbangan kepada gereja dalam jumlah besar!
Renungan:
Marilah kita mempunyai perasaan bersalah apabila api kemuliaan Allah belum membakar gereja. Berdoalah mulai sekarang supaya Allah memberikan kebangunan rohani bagi gereja-Nya.
Gereja adalah alat bagi Allah untuk memberkati bangsa lain.
Jun 30
Kisah 5:1-11; 2 Samuel 6:6-10
“Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah
nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu” (Kisah 5:5)
Kisah di atas agak membuat bergidik. Bagaimana tidak, seorang pengikut Kristus yang menjual ladangnya lalu sebagian dari hasil penjualan ladang tersebut dipersembahkan kepada Tuhan, tetapi ketika ia sedang berhadapan dengan hamba Tuhan untuk mempersembahkan sebagian hasil penjualan ladangnya tersebut, malah dia rebah ke tanah dan putuslah nyawanya. Wow … hal ini sangat mengerikan! Bukan hanya sampai di situ, kira-kira tiga jam kemudian istrinya juga rebah ke tanah, sebab ia juga berdusta terhadap Roh Kudus. Mereka berdua telah mencemarkan kekudusan Tuhan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena di dalam kekudusan ada kuasa yang sangat dahsyat.
Kekudusan bukan hanya sekedar sebuah kata tetapi kekudusan adalah sesuatu yang memiliki kuasa. Apabila kita perhatikan dalam Perjanjian Lama, di mana ada kekudusan, di situ pasti sesuatu yang dahsyat terjadi. Misalnya, ketika Tuhan menampakkan diri di gunung Sinai kepada Musa dan bangsa Israel, maka terjadilah guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan. Musa menyatakan seluruh gunung itu kudus dan barangsiapa menyentuhnya pastilah ia mati (Kel. 19:16). Para imam yang melaksanakan tugas harus kudus. Kalau tidak, ia akan mati. Bahkan Raja Daud pernah mengungsikan tabut perjanjian ke rumah Obed - Edom karena tabut tersebut telah merenggut nyawa Uza yang mencoba menyentuhnya (2 Sam. 6:6-10). Di sini terlihat jelas bahwa kekudusan Tuhan sangat berkuasa.
Dalam gereja mula-mula, orang yang berdusta saja mengalami sesuatu yang luar biasa, tetapi bagaimana dengan gereja sekarang? Kadang-kadang kita prihatin mendengar ada orang-orang dalam gereja yang sudah jelas-jelas melakukan dosa, bisa bebas "berkeliaran" di dalam jemaat Tuhan. Dapatkah gereja sekarang kembali memiliki kuasa seperti gereja mula-mula? Jawabannya: dapat! Asal tingkat kekudusannya sama dengan gereja mula-mula. Bagaimana agar kekudusan gereja sekarang dapat sama dengan gereja mula-mula? Kita harus kembali kepada cinta gereja mula-mula, kasih gereja mula-mula, dan ketekunan berdoa gereja mula-mula.
Renungan:
Untuk melihat pernyataan kuasa Allah yang dahsyat kita harus hidup dalam kekudusan Allah. Kita harus berani membersihkan setiap kotoran yang melekat pada baju-baju jemaat.
Mukjizat tidak menjamin orang hidup dalam kekudusan, tetapi kekudusan menjamin terjadinya mukjizat.
Recent Comments