Prinsip Mengiring Tuhan

Renungan No Comments »

"Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.” (Kejadian 11:4)

Allah mempunyai rencana yang indah pada setiap kehidupan kita. Tetapi kesombongan dapat menghancurkan kepekaan kita untuk mengikuti rencana Allah. 1 Petrus 5:5 dan Yakobus 4:6 memperingatkan kita bahwa Allah menentang orang yang congkak, namun mengasihi orang yang rendah hati. Apa yang membedakan para pendiri menara Babel ini dengan Abraham adalah masalah kerendahan hati.

Simak baik -baik para penduduk bumi yang berniat mendirikan menara yang hendak mencapai langit. Sampai di sini mereka masih belum berdosa, tetapi setelah itu mereka berkata, "Marilah kita cari nama." Ini yang mejadikan masalah. Ini arogansi dan kesombongan yang terang-terangan. Bandingkan dengan Abraham. Saat itu Allah berkata kepada Abraham, "...... Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta MEMBUAT NAMAMU MASYHUR; dan engkau akan menjadi berkat" (Kej. 12:1-2). Siapa yang mengangkat manusia? Allah. Setiap orang yang mengangkat namanya sendiri itu artinya kesombongan.

Prinsip mengiring Kristus itu juga harus disertai dengan kerendahan hati. Yesus berkata, ".... Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku" (Mat. 16:24). Inilah prinsip pertama kali yang harus dilakukan oleh mereka yang mau percaya kepada Yesus. Menyangkal diri itu sebenarnya mengubur ego kita dalam-dalam. Ketika kita percaya kepada Yesus keberadaan kita ada di kayu salib. Tidak ada kebanggaan dalam diri kita yang patut ditonjolkan, hanya Yesus saja. Sayangnya, banyak di antara kita hidup jauh dari penyangkalan diri. Yang ada adalah keangkuhan dan tidak sedikit yang mencari nama. Allah menentang orang-orang yang congkak, tetapi mengasihi orang yang rendah hati.

Renungan:

Hendaknya kita sadar bahwa hidup kita bukan diri kita lagi, melainkan Kristus yang telah mati menggantikan kita. Apabila Kristus yang nyata dalam hidup Anda, maka Anda akan menjadi orang Kristen yang berkemenangan. Banyak orang Kristen mau memikul sekarung emas, tetapi tidak mau memikul salib.

Taat Seratus Persen

Renungan No Comments »

“Mula -mula kerajaannya terdiri dari Babel, Erekh, dan Akad, semuanya di tanah Sinear.” (Kejadian 10:10)

Nama Nimrod “tanpa diragukan lagi bagi orang Israel mempunyai ide “pemberontakan” …..terhadap Allah.” Nama Nimrod sendiri mempunyai konsep pemberontakan sesuai dengan karakter yang kita dapatkan melalui pembangunan kekaisaran pertama kali di bumi ini.

Nimrod sebagai pendiri kota Babel yang terkenal dengan kejahatan dan pemberontakannya memberikan pengertian kepada kita bahwa sejak mulanya manusia memang mempunyai inisiatif untuk melakukan pemberontakan. Apakah ini merupakan benih dari manusia pertama? Ya. Benih pemberontakan itu sudah ada sejak semula dan akan terus diturunkan dan diwariskan kepada anak cucu mereka sampai orang tersebut bersedia tunduk kepada hukum Allah di dalam Yesus Kristus.

Di dalam diri kita yang paling dalam ada sifat dasar yang merupakan warisan dari nenek moyang kita: pemberontakan. Entah di rumah, di sekolah, di kantor, atau di mana saja, sifat ini muncul dan kerap mencuat keluar tanpa kita sadari. Apabila Anda percaya kepada Yesus, maka Anda harus belajar untuk menjadi umat yang setia dan taat kepada hukum Allah. Dan ini juga akan membentuk Anda menjadi orang yang taat di kepada peraturan di mana saja Anda berada.

Yesus menjadi contoh yang terbaik bagi kita ketika Ia rela dan taat dengan mati di kayu salib (Fil. 2:8). Untuk menebus kesalahan manusia karena ketidaktaatannya, maka dia harus mati di dalam ketaatan. Yesus mampu membuktikan diri-Nya sebagai Anak Allah yang hidup ketika Ia hidup di dalam ketaatan. Saudara, sebenarnya lebih mudah untuk mendengarkan suara Tuhan daripada mentaatinya.

Tetapi Yesus adalah Pribadi yang tidak sekedar peka akan suara Bapa-Nya tetapi juga siap taat seratus persen. Anda harus taat 100% ketika Allah meminta Anda melakukan sesuatu. Apabila dunia menyanyikan lagu pemberontakan, maka anak-anak Tuhan harus menyanyikan lagu ketaatan. Kita harus benar-benar berbeda dengan dunia ini.

Renungan:

Yesus mengajarkan ketaatan. Dia adalah Pribadi yang harus kita teladani. Dan Anda dipanggil untuk taat dan setia. Pemberontakan menuntun manusia pada kehancuran.

Peganglah Yang Ada Padamu

Renungan No Comments »

“Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu” (Wahyu 3:11).

Setiap kemenangan pastilah menghasilkan hadiah. Apabila Anda seorang atlit atau mantan atlit yang pernah meraih juara, tentunya Anda tahu apakah artinya sebuah piala. Kebanggaan dan keharuan bercampur menjadi satu. Kadang hadiah uang yang diterima tidak lagi menjadi tujuan utama. Yang penting adalah keberhasilan merengkuh juara.

Kekristenan juga diibaratkan dengan pertandingan. Dan memang kita sekarang berada dalam pertandingan iman. Ada hadiah yang akan diberikan kepada mereka yang berhasil menyelesaikan pertandingan itu dengan baik. Paulus berkata seperti ini, “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan -Nya” (2 Tim. 4:8).

Alkitab menyebutkan beberapa mahkota: mahkota abadi (1 Kor. 9:25), mahkota kehidupan (Yak. 1:12), dan mahkota kemuliaan (1 Pet. 5:4). Tetapi saya yakin dan dapat saya simpulkan bahwa mahkota bukan sekedar berbicara mengenai hadiah, tetapi sebuah penghargaan besar dari Tuhan kepada mereka yang setia dan dan yang bertahan sampai akhir. Tuhan berbicara kepada jemaat Filaddelfia supaya mereka memegang apa yang ada padanya. Iman, hati nurani yang murni, dan keselamatan itulah yang harus dipegang. Kalau tidak, tidak akan ada mahkota, tidak ada hadiah, dan tidak ada kemuliaan. Kita semua tahu bahwa hidup itu penuh dengan perjuangan. Kadangkala kita tertawa, tetapi juga tidak jarang kita menangis. Mulut ini tidak tahah untuk tidak berucap, “Aku sudah tidak kuat lagi….!”

Marilah kita ingat lagi janji Tuhan: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan -Ku yang membawa kemenangan” (Yes. 41:10). Tanamkan ke dalam roh Anda bahwa kemenangan adalah jaminan Tuhan kepada kita. Lalu mengapa banyak orang Kristen kalah? Sebab mereka tidak percaya kepada Tuhan. Sebab Petrus yang sedang berjalan di atas kemustahilan (air) ketika bimbang langsung tubuhnya mulai tenggelam.

Renungan:

Mahkota telah tersedia bagi mereka yang mengakhiri pertandingan iman dengan baik. Anda sebenarnya ditakdirkan untuk menerimanya, kecuali Anda mulai putus asa lalu kembali kepada hidup yang lama. Hidup itu memang berat, tetapi hadiah yang disediakan Tuhan bagi yang menang setara dengan perjuangan Anda.

Pintu Penginjilan

Renungan 1 Comment »

“Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah memb uka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama -Ku” (Wahyu 3:8).

Satu-satunya surat yang tidak berisi “kecaman” dari Tuhan adalah jemaa t di Filadelfia - satu dari tujuh jemaat yang mendapat surat khusus dari Tuhan. Tuhan berbicara mengenai pintu yang dibuka dan tidak ada satu pun yang dapat menutupnya.

Pintu itu merupakan simbol bagi sebuah berita Injil. Misalnya Paulus berkata seperti ini, “Ketika aku tiba di Troas untuk memberitakan Injil Kristus, aku dapati, bahwa Tuhan telah membuka jalan [Yunani: thura, yang juga diterjemahkan ‘pintu’ – kata ini sama dengan kata ‘pintu’ yang dipakai pada ayat di atas] untuk pekerjaan di sana” (2 Kor. 2:12) – lihat juga Kol. 4:3.

Di Filadelfia Tuhan membukakan pintu penginjilan. Dan saya yakin jemaat Filadelfia meresponi dengan baik, dan mereka berpesta dengan jiwa -jiwa baru. Tidak hanya itu saja tetapi mereka juga taat kepada firman Tuhan dan tidak menyangkal nama Tuhan. Hidup tanpa cacat – itulah yang menjadi tekad jemaat Filadelfia. Meskipun disebutkan mereka itu kecil – mungkin jemaat ini sederhana dan secara politik tidak mempunyai pengaruh yang kuat, namun gereja ini mendapatkan pujian Tuhan. Gereja sebenarnya juga harus agresif dalam memberitakan Injil. Tetapi orang Kristen akan beralasan bahwa pintu masih ditutup jadi tidak bisa memberitakan Injil.

Bagaimana Anda tahu kalau pintu tertutup kalau Anda tidak melihatnya di dalam roh? Paulus sendiri meminta jemaat untuk mendoakan supaya pintu dibukakan tetapi Paulus yang penuh dengan Roh Allah tahu dalam dunia roh bahwa pintu itu perlu dibuka. Dan yang paling penting lagi adalah menjaga iman kita supaya jangan kita bertindak seperti Petrus yang men yangkali imannya. Itulah topik yang Tuhan sampaikan kepada jemaat Filadelfia.

Siapa yang menyangkali nama Tuhan, maka bisa dipastikan bahwa Yesus juga akan menyangkalinya di hadapan Bapa (Mat. 10:33). Mereka yang menyangkali Tuhan akan menangis meraung -meraung saat Yesus tidak mengakuinya sebagai anak-Nya. Dan ini berarti malapetaka di atas malapetaka.

Renungan:

Kita dapat mencontoh jemaat Filadelfia. Secara materi dan penampakan fisik mungkin mereka diremehkan, tetapi hati mereka berkenan di hadapan Tuhan. Dan pada akhirnya mereka akan menuai sukacita bersama Tuhan. Banyak orang Kristen lebih peduli dengan pintu berkat, daripada pintu penginjilan.

Hidup Dan Mati

Renungan No Comments »

“Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati” (Wahyu 3:1)!

Dengan segala aktivitas dan kegiatan gereja di Sardis, bagaimana mungkin Tuhan berkata bahwa dia hidup, tetapi mati? Bukankah segala rutinitas dan ibadah berjalan seperti biasanya? Mengapa dikatakan “mati”? Ini teguran yang amat serius! Dan memang kenyataannya gereja dapat menjadi mati, meskipun kegiatan peribadahannya masih berlangsung dengan semarak. Ada 3 hal yang menyebabkan gereja mati:

Pertama, iman tanpa perbuatan. Ayat dua berkata, “Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah -Ku.” Kata ‘pekerjaan’ dalam ayat ini berasal dari kata ‘ergon’ yang juga diterjemahkan dengan ‘perbuatan’. Lalu pekerjaan apa yang tidak didapati sempurna di sini? Itulah pekerjaan yang berasal dari Roh. Setiap orang yang bertobat dan dilahirkan kemb ali harus menunjukkan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatannya itu – menghasilkan buah yang berkenan kepada Tuhan dan menjadi terang bagi segala bangsa. Kepada Raja Agripa, Paulus berkata, “ ……bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan [ergon] yang sesuai dengan pertobatan itu” (Kis. 26:20) [Lih. juga Mat. 5:16; Kol. 1:10].

Kedua, penyembahan tanpa kekudusan. Ayat empat berkata, “Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu.” Pakaian putih berbicara mengenai kekudusan. Sebaliknya ada pakaian lain yang tercemar oleh keinginan-keinginan dosa (Yud. 1:23). Tidak peduli seberapa kuat jemaat Tuhan menyembah Tuhan, tanpa kekudusan semuanya itu seperti tong kosong yang nyaring bunyinya. Tuhan mau hatimu dahulu yang dibersihkan baru datang menyembah Tuhan.

Ketiga, kasih tanpa pengorbanan. Kembalilah pada Wahyu 2:4 mengenai kasih mula-mula. Tidak ada kasih yang tidak berkorban. Kalau Anda mengasihi Tuhan tidak sepatutnya Anda berpikir mengenai berkat apa yang akan Tuhan lemparkan dari surga kepada Anda, tetapi pikirkan apa yang dapat Anda lakukan bagi Dia. Selama kasih Anda tidak membara, saya sangsi apakah Anda mau berkorban sebagai ekspresi kasih Anda kepada-Nya?

Renungan:

Tidak semua orang yang duduk manis di bangku gereja adalah jemaat yang “hidup”. Seperti jemaat di Sardis, masih banyak ditemukan jemaat yang hidup tapi mati. Periksalah apakah Anda hidup atau mati atau hampir mati (secara rohani tentunya)?Hanya gereja yang hidup yang dapat mempermuliakan Tuhan.

Copyright 2009 © Successful Bethany Families Sydney. All rights reserved.
| Sitemap
Entries RSS Comments RSS Log in