Dibenci Karena Kebenaran

Renungan No Comments »

“Dunia tidak dapat membenci kamu, tetapi ia membenci Aku, sebab Aku bersaksi tentang dia, bahwa pekerjaan-pekerjaannya jahat” (Yohanes 7:7).

Seorang "saksi kunci" dalam sebuah perkara kriminal yang melibatkan orang yang berpengaruh harus mengalami hidup serba diawasi. Ia harus disembunyikan di suatu tempat yang tidak sembarangan orang bisa masuk, setiap gerak-geriknya diperhatikan dan ia tidak bebas pergi sesuka hatinya. Mengapa? Karena ada orang yang sedang mengincarnya, bahkan ingin membunuhnya.

Sama seperti Yesus. Ia harus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Hidup-Nya seperti buronan yang sedang diincar oleh orang-orang yang membenci-Nya. Ada yang berkata, “Dia orang baik.” Ada pula yang berkata, “Tidak. Ia menyesatkan rakyat." Yesus menyadari hal itu dan Dia berkata, “Dunia tidak dapat membenci kamu, tetapi ia membenci Aku, sebab Aku bersaksi tentang dia, bahwa pekerjaan-pekerjaannya jahat” (Yoh. 7:7). Ia dibenci bukan karena berbuat dosa, bukan pula karena melakukan kesalahan, tetapi karena Ia menyatakan kebenaran dan menelanjangi perbuatan-perbuatan manusia yang jahat.

Saudara, kita memang berusaha hidup damai dengan semua orang, tetapi kadang-kadang kita tidak bisa menghindari adanya orang-orang yang membenci kita. Karena itu banyak orang yang putus asa dan tidak mau lagi menyatakan kebenaran. Yesus memberikan contoh yang baik bagi kita, Dia tidak putus asa hanya karena ada orang-orang yang membenci-Nya. Dia tetap menyatakan kebenaran.

Apabila hal ini sedang menimpa Anda, jangan tawar hati, jangan putus asa, sebab firman Tuhan dengan jelas berkata, “Bahkan orang-orang Yahudi itu telah membunuh Tuhan Yesus dan para nabi dan telah menganiaya mereka. Apa yang berkenan kepada Allah tidak mereka pedulikan dan semua manusia mereka musuhi” (1 Tes. 2:15). Dikucilkan, disingkirkan, dimusuhi, adalah hal-hal yang biasa bagi mereka yang mengiring Tuhan, sebab seorang murid tidak akan melebihi gurunya. Tetapi firman Tuhan berjanji, “Sebagai ganti keadaanmu dahulu, ketika engkau ditinggalkan, dibenci dan tidak disinggahi seorangpun, sekarang Aku akan membuat engkau menjadi kebanggaan abadi, menjadi kegirangan turun-temurun” (Yes. 60:15).

Renungan:

Apabila kita dibenci, periksalah, apakah kebencian yang kita terima karena perbuatan kita yang salah atau karena kita menyatakan kebenaran. Kalau kebencian itu karena kesalahan kita, mari kita bertobat! Tapi kalau kebencian itu karena kita menyatakan kebenaran, bersyukurlah! Dibenci karena kebenaran jauh lebih mulia daripada dipuji karena kecurangan.

Related posts

Wahyu Tentang Bapa

Renungan No Comments »

“….. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yohanes 5:19).

Kitab Yohanes banyak menyingkapkan jati diri Yesus. Salah satu rahasia yang diungkapkan di sini adalah fakta bahwa Yesus dan Bapa itu satu. Untuk itulah salah satu tujuan Yesus datang ke bumi adalah untuk menyatakan siapakah Bapa itu sebenarnya.

Dalam Perjanjian Lama umat Tuhan mendapatkan sedikit gambaran tentang Allah itu sebagai Bapa. Daud berkata, “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mzm. 103:13). Yesaya memanggil-Nya dengan “….Bapa yang kekal….” (Yes. 9:6). Yeremia menuliskan “…. engkau akan memanggil Aku: Bapaku….” (Yer. 3:19).

Tetapi seperti apakah Bapa itu sebenarnya, itu masih merupakan teka-teki bagi umat Allah. Wajar saja, sebab mereka belum melihat dan bercakap-cakap dengan pribadi yang disebut “Bapa” itu. Karena itulah Yesus berkata kepada mereka, “….. Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya” (Luk. 10:24). Sebab mereka tidak pernah mendapatkan pewahyuan tentang Bapa.

Tetapi, pada zaman Perjanjian Baru Yesus mengungkapkan secara gamblang mengenai pribadi yang disebut “Bapa” itu. Apa yang ucapkan sebenarnya seperti ini: “Inilah pekerjaan-pekerjaan Bapa. Seperti inilah Bapa itu.” Maksudnya, bila kita mengenal Yesus berarti kita mengenal Bapa. Yesus berkata pada kesempatan lain, “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia” (Yoh. 14:7).

Tetapi dalam Yohanes 14, Yesus mendapatkan kenyataan pahit. Sebab Thomas, salah satu murid Tuhan yang selalu bersama-sama dengan-Nya masih saja belum mengerti kebenaran ini. Thomas meminta Yesus untuk menyatakan Bapa (ay. 8). Jadi selama ini pikirannya masih belum terbuka. Oh, betapa menyedihkan!

Saudara, Yesus bukan sekedar nabi, guru, atau pengajar agama, tetapi Dia adalah ALLAH YANG HIDUP! Semua karakter ilahi diam di dalam-Nya. Itulah Allah yang Anda sembah.

Renungan:

Apakah Anda telah mendapatkan pewahyuan bahwa Dia adalah Bapa yang baik yang mempedulikan kita? Sebagai seorang Bapa, Ia mempedulikan, mengasihi, dan menjaga Anda. Tahukah Anda kebenaran ini? Ayah yang terbaik adalah Bapa di surga.

Related posts

Aku Ini, Jangan Takut!

Renungan No Comments »

Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut” (Yohanes 6:20)!

Harry Emerson Fosdick menceritakan sebuah kisah menarik yang dituturkan oleh Edward R. Murrow, salah satu komentator berita yang terkenal pada abad ke-20.

Murrow berkata, pada tahun 1940 ketika Nazi menghujani kota London dengan bom setiap malam, ia melihat spanduk di sebuah dengan tulisan: “Jika lututmu gemetar, berlututlah kepada mereka.”?

Menurut Nenien C. McPherson, Jr., takut jatuh dan takut suara keras adalah ketakutan yang alamiah bagi kita. Hanya ada dua, sedangkan yang lainnya dipelajari.

Ketakutan adalah awal dari sebuah bencana. Sebab ketakutan adalah hasil dari puncak kebimbangan kita kepada Allah. Kepada murid-murid-Nya yang ketakutan, Yesus memberikan jaminan, “Aku ini, jangan takut!”

Mungkin kalimat ini tidak cukup menarik perhatian kita, tetapi bila kita lihat dalam bahasa aslinya Anda akan melihat sebuah kebenaran yang indah. Perkataan, “Aku ini, jangan takut”, dalam bahasa aslinya adalah, “Jangan takut, AKU.” Kata “AKU” adalah nama Tuhan yang diperkenalkan pertama kali kepada Musa. “Lalu Musa berkata kepada Allah: “…… dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? - apakah yang harus kujawab kepada mereka?" Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU…..” (Kel. 3:13, 14).

Yesus adalah AKU. Yesus tidak pernah berubah dari dahulu sekarang dan selamanya (Ibr. 13:8). Ia menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang memelihara dan melindungi kita. Apa yang menjadi ketakutan Anda saat ini? Ingatlah bahwa Dia adalah AKU!

Kita sadar bahwa ketakutan menjadi sahabat kita setiap hari, apalagi didukung dengan situasi yang semakin panas di negara kita ini. Justru di tengah pergolakan dan angin ribut Yesus datang menghampiri kita. Ia tidak akan terlambat menolong kita.

Hitung saja berapa kali Anda ketakutan dalam sehari. Mungkin Anda selama ini menganggap bahwa itu adalah hal yang wajar, sebab yang lainnya pun mengalami hal yang sama. Kalau begitu lebih baik Anda mencoret setiap janji Allah yang berkata, “Jangan takut……!”, sebab Anda menganggap bahwa janji ini adalah omong kosong belaka.

Renungan:

Percayalah bahwa Allah sanggup untuk menolong dan melindungi Anda dan keluarga Anda. Percayakan semua keluarga Anda kepada pemeliharaan-Nya dan Ia pasti akan melakukannya! Bila Anda tidak takut, musuh Anda akan menjadi takut.

Related posts

Meluruskan Motivasi

Renungan No Comments »

“Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus” (Yohanes 6:24).

Untuk apa orang banyak itu mencari Yesus? Jawabannya kita temukan dalam ayat 26, “Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.”

Ternyata ada motivasi terselubung dibalik pencarian Yesus itu. Yesus berharap bahwa penggandaan roti itu akan menjadi tanda bahwa Dia adalah Mesias yang dijanjikan. Tetapi massa lebih tertarik untuk mendapatkan roti dan ikan lagi karena perut mereka telah dikenyangkan. Mereka tidak peduli apakah orang ini Mesias atau bukan, yang penting mereka mendapatkan kembali makanan itu.

Pada zaman sekarang pun orang Kristen yang seperti ini banyak sekali. Mereka datang ke setelah usaha mereka bangkrut atau perusahaan mereka mengalami pailit. Sebagian karena mereka sungguh-sungguh bertobat, tetapi sebagian lagi karena Yesus itu seperti “orang sakti” yang dapat memulihkan bisnis mereka yang hancur. Apabila bisnis mereka benar-benar dipulihkan, ya…. mengucapkan “selamat tinggal” pada Tuhan Yesus. Ada lagi orang yang ke karena baru saja kehilangan pacar dan ia berharap Yesus dapat mengembalikan pacarnya itu.

Syukurnya, orang-orang yang datang dengan motivasi salah itu berhasil diluruskan kembali oleh Tuhan sehingga kini mereka datang kepada Tuhan dengan motivasi yang benar. Masalahnya masih banyak orang Kristen yang bertahun-tahun menjadi pengikut Tuhan tapi motivasinya semata-mata untuk mencari “roti” yang dapat mengenyangkan. Mereka tidak melihat bahwa mengikut Kristus adalah mengabdi kepada-Nya dan memuliakan nama-Nya. Ingat, Tuhan adalah penguji orang benar dan yang melihat batin dan hati manusia (Yer. 20:12).

Kita harus mengakui bahwa kadang-kadang kita berdoa kalau kita lagi membutuhkan Tuhan. Manakala persoalan sudah tidak dapat diatasi lagi, baru kita bersujud di hadapan-Nya setiap jam. Kalau persoalan beres? Cukup seminggu sekali saja berdoa! Apa Tuhan itu seperti ban serep yang saat ban kempis saja baru dibutuhkan? Bukankah Ia layak untuk kita sembah setiap saat?

Renungan:

Luruskan motivasi Anda di hadapan-Nya, kalau tidak, Anda tidak akan tahan uji. Bila ujian iman itu datang, dan penderitaan itu menimpa kita, masihkah iman kita berdiri dengan kokoh bila motivasi kita belum diluruskan? Datanglah kepada Tuhan dengan hati lurus dan tulus.

Related posts

Iman Hana (1 Sam 1:1-28)

Sermon 6 Comments »

Ringkasan Kotbah : Pdt. DR. Agus Gunawan
Tanggal : 20 January 2008

Hana adalah ibu dari salah satu nabi terbesar sepanjang masa. Dan juga Hana adalah seorang yang luar biasa karena dia adalah salah satu dari hanya beberapa orang yg tertulis di Alkitab sebagai orang yg diingat Tuhan (selain Nuh, Abraham, Kornelius etc). Disini kita mau mempelajari ciri-ciri iman Hana (yang mana merupakan tanda-tanda dari orang beriman):

1.  Orang beriman adalah orang yang setia.

Hana adalah orang yang setia beribadah, walaupun Hana mempunyai 2 persoalan berat yaitu mandul sehingga suaminya menikah lagi, dan madunya selalu mengejek dia.? Selain itu ditambah lagi dengan keadaan Israel yang sedang bobrok pada jaman itu.? Sebenarnya Hana punya banyak alasan untuk berhenti beribadah dalam keadaan yang begitu, tetapi Hana dan suaminya tetap setia datang beribadah dari tahun ke tahun di Siloh.

2.  Orang beriman adalah orang yang berdoa sungguh-sungguh.

Hana adalah orang yang berdoa dengan sunguh-sungguh. Dlm 1 Sam 1:10-18 dapat di lihat bagaimana Hana telah berdoa dengan sungguh-sungguh (Hana berdoa dengan menagis, bernazar, terus menerus, spt orang mabuk, mencurahkan isi hati, tidak makan, sujud menyembah).

3.  Orang beriman adalah orang yang menepati janji.

Hana adalah orang yang menepati janjinya dengan menyerahkan Samuel anaknya kepada Tuhan. Samuel adalah anaknya satu-satunya pada saat itu, jawaban atas doanya yang telah dia tunggu-tunggu untuk menyelesaikan masalah yang dia hadapi. Tuhan mengembalikannya dengan berlipat kali ganda. Setelah Hana menyerah Samuel kepada Tuhan, Tuhan memberkati Hana dengan 3 anak laki-laki dan 2 anak perempuan lagi.

Marilah kita semua mengikuti teladan Hana menjadi orang yg setia kepada Tuhan, berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, dan menepati janji-janji kita kepada Tuhan. Tuhan memberkati.

Related posts

Copyright 2009 © Successful Bethany Families Sydney. All rights reserved.
| Sitemap
Entries RSS Comments RSS Log in