Tidak Mengubah Fakta

Renungan No Comments »

“Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia” (Yohanes 19:1).

Anda harus memberikan penghargaan kepada Pilatus, sebab ia mencoba membebaskan Yesus. Tercatat empat kali ia mencoba membebaskan Yesus: 1. Ketika ia mencoba mengirim Yesus kembali kepada pemimpin Yahudi; 2. Ketika ia mencoba mengirim-Nya kepada Herodes; 3. Ketika ia menawarkan untuk membebaskan antara Yesus dengan Barabas; 4. Ketika ia mencuci tangannya sebagai tanda bahwa ia tidak ikut mencampuri urusan ini.

Meskipun demikian, Pilatus sudah menandatangi kematian bagi Anak Allah. Semua alasan dan usaha yang dilakukan untuk membebaskan Anak Allah tidak mengubah FAKTA bahwa dia ikut bertanggung jawab atas penyaliban Anak Allah. Mengapa? Sebab pada akhirnya ia takut dengan ancaman orang-orang Yahudi yang menyebut-nyebut nama kaisar bila ia membebaskan Dia (Yoh. 19:12, 13). Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada orang-orang Yahudi untuk diadili sendiri (ay. 16).

Mungkin ia merasa sedikit bersalah. Mungkin ia sedikit menyesal. Mungkin ia kasihan dengan orang yang namanya Yesus itu. Tetapi, sekali lagi, itu tidak mengubah keadaan bahwa Yesus tetap saja disalibkan.

Saudara, betapa seringnya kita melakukan hal seperti Pilatus. Melakukan perbuatan yang kita coba merasionalkan dengan pikiran kita dan membenarkan tindakan kita. Mungkin kita ingat, ketika kita:

· Cepat memaklumi karakter kita yang buruk.

· Memahami ketidakhadiran kita pada ibadah hari Minggu.

· Mencoba beralasan mengapa kita tidak mau bersaksi.

. Mencoba membenarkan mengapa kita harus terlibat selingkuh.

· Menjelaskan mengapa kita tidak menolong orang lain.

Pilatus mengingatkan kita bahwa alasan-alasan itu tidak dapat diterima. Kita harus bertanggung jawab terhadap setiap tindakan kita. Lakukan tindakan yang memakai firman Tuhan sebagai standar hidup Anda, bukan standar Anda.

Renungan:

Dalam kitab Wahyu, Yesus menegur jemaat di Laodikia, “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku” (Why. 3:16). Inilah yang disebut dengan Kristen tanggung! Jadilah orang Kristen yang selalu membara bagi Allah.

Doa Nehemia (Nehemia 1: 1-11, 2: 1-5)

Sermon 2 Comments »

Ringkasan Kotbah : Pdt. Dr. Agus Gunawan
Tanggal : 24 February 2008

Nehemia adalah seorang Israel yang lahir di negara asing, tetapi dia dapat menjadi berhasil di negara asing. Dia menjabat juru minum raja, yang merupakan suatu jabatan yang tinggi pada waktu itu. Dia adalah seorang kepercayaan raja yang selalu berada dekat raja, karena perkejaannya adalah mencicipi semua makanan dan minuman raja sebelum disuguhkan pada raja. Nehemia tinggal di dalam segala kemewahannya di puri Susan bersama dengan kurang lebih 15 ribu prajurit.

Nehemia berhasil membangun kembali tembok Israel yang telah runtuh selama kurang lebih 150 tahun hanya dalam waktu 52 hari saja (Nehemia 6: 15). Salah satu kunci keberhasilan Nehemia dalam hal ini adalah doanya. Baiklah kita pelajari cara berdoa Nehemia.

1.  Mulai dengan mempunyai beban.

Nehemia mempunyai beban yang besar terhadap bangsa Israel, di pasal 1 ayat 4 terlihat betapa sedihnya Nehemia ketika mendengar berita tentang keadaan tembok Israel. Dengan hati yang penuh beban Nehemia berdoa dan berpuasa untuk masalah ini. Doa yang dinaik-kan dengan hati yang benar-benar terbeban dan doa yg dinaik-kan sambil lalu adalah sangat berbeda.

2.  Tidak di tempat umum tetapi di tempat yang rahasia.

Nehemia berdoa dan berpuasa selama 4 bulan sebelum raja melihat kesedihan hatinya. Selama jangka waktu itu tidak ada seorangpun yang menyadari kesedihan hatinya karena Nehemia selalu berdoa dengan penuh beban di tempat yang tersembunyi tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya. Tuhan menjawab doa yang dinaikan di tempat yang tersembunyi.

3.  Doa berdasarkan Firman Tuhan.

Nehemia di dalam doanya dia mengutip Firman Tuhan, i.e.: Neh 1:8 kutipan dari Im 26: 33, dan Neh 1: 9 kutipan dari Ul 30:1-5. Doa yang di naik-kan berdasarkan Firman adalah doa yang sesuai dengan janji Tuhan dan kehendak Tuhan maka doa yang demikian akan besar kuasanya.

Marilah kita semua meneladani Nehemia berdoa dengan hati yang penuh beban, di tempat yang tersembunyi, dan berdasarkan Firman Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.

Kebenaran Yang Sepotong

Renungan No Comments »

“Kata Pilatus kepada-Nya: "Apakah kebenaran itu” (Yohanes 18:38a)?

Suatu hari iblis berjalan dengan salah satu anak buahnya. Mereka melihat seseorang memungut sesuatu yang bercahaya. “Apa yang ditemukan orang itu?” Tanya anak buah iblis.

“Sepotong kebenaran,” jawab iblis. “Tidak gusarkah kau melihat bahwa yang ditemukan itu adalah sepotong kebenaran?” Tanya anak buah iblis dengan penasaran. “Tidak!” Jawab iblis, “Aku hanya memperhatikan dan berharap bahwa dia akan mendirikan agama melalui sepotong kebenaran itu.”

Kebenaran yang sepotong lebih berbahaya daripada dusta yang penuh. Sebab melalui kebenaran yang sepotong manusia berusaha mendirikan kebenaran yang mutlak. Lihat saja orang-orang yang mengaku sebagai nabi yang paling benar kemudian mendirikan agama yang “paling benar” untuk mencari pendukung sebanyak-banyaknya. Celakanya, banyak orang terkesima dengan kebenaran yang sepotong ini. Tidak sedikit pula yang rela mati demi yang sepotong ini.

Pilatus menghadapi teka-teki dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa Dia bersaksi tentang kebenaran. Kebenaran apa? Apakah ini merupakan kebenaran yang sepotong juga? Yesus tidak menyampaikan kebenaran yang sepotong, tetapi penuh, sebab Dia sendiri adalah kebenaran. Yesus berkata, “…… Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6).

Yesus adalah kebenaran! Yesus merupakan standar dari kebenaran Allah. Dalam Perjanjian Lama disebutkan bahwa “Taurat Allah benar” (Mzm. 119:142); “perintah Allah adalah benar” (Mzm. 119:151); “dasar firman Allah adalah kebenaran” (Mzm. 119:160). Dengan kata lain Allah bermaksud menyampaikan bahwa sebagai Penguasa alam semesta, Ia berhak menyandang gelar sebagai Kebenaran. Semua yang diucapkan-Nya adalah kebenaran. Sedangkan kita tahu bahwa Yesus adalah firman yang menjelma menjadi manusia (Yoh. 1:1, 14). Dia adalah kebenaran yang mutlak!

Renungan:

Banyak kebenaran-kebenaran yang kita temukan di dunia ini. Namun kita percaya bahwa kebenaran sejati dan yang penuh itu adalah kebenaran Allah. Yesus adalah kebenaran itu! Bila tidak ada Yesus, maka tidak akan ada kebenaran.

Rekayasa Dua Tuduhan

Renungan No Comments »

 

“Maka Hanas mengirim Dia terbelenggu kepada Kayafas, Imam Besar itu” (Yohanes 18:24).

Dalam sejarah peradilan di dunia, kesalahan terbesar yang dilakukan oleh lembaga yang membela keadilan ini bukanlah dilepaskannya bandar judi dari jeratan hukum atau dibebaskannya seorang koruptor kelas kakap, tetapi hukuman mati yang dijatuhkan oleh Sanhedrin ­- pengadilan tertinggi orang Yahudi - kepada seorang yang sama sekali tidak bersalah.

William Barclay dalam salah satu komentarnya tentang suasana dalam sidang ini menulis:

“….. Sanhedrin mempunyai peraturan tertentu. Semua kasus kriminal harus diperiksa selama siang hari dan harus selesai juga pada siang hari juga. Kasus kriminal tidak dapat dilakukan pada masa Paskah…… Dan tidak ada keputusan Sanhedrin yang sah bila tidak dilakukan pertemuan dalam Hall of Hewn Stone di dalam Bait Allah. Semua bukti harus diteguhkan oleh 2 orang saksi, diperiksa secara terpisah dan mereka tidak boleh saling bertemu. Dan setiap saksi dusta akan dihukum mati……“

Semua prosedur dalam sidang yang mengadili Yesus itu ilegal alias tidak sah! Mereka tidak dapat menemukan saksi yang bahkan saling sependapat untuk dituduhkan kepada Yesus. Tetapi apakah artinya prosedur atau peraturan bila hati sudah demikian panas agar segera bisa membantai lawan? Itulah yang ada dalam benak ahli-ahli Taurat dan Imam Besar! Akhirnya mereka merekayasa 2 tuduhan yang dibuat-buat: pertama, Yesus akan merobohkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam 3 hari (Mat. 26:61); kedua, lebih parah lagi, Yesus menyamakan diri-Nya dengan Allah (Yoh. 10:33; Mat. 26:63, 64).

Tapi itulah Yesus. Dia tahu bahwa hidup-Nya telah ditentukan untuk menjadi tumbal bagi dosa seisi dunia, karena itu Ia tidak mencoba berteriak memanggil bala tentara surgawi ataupun berseru kepada Bapa-Nya. Apa yang dilakukan saat itu adalah berserah kepada Bapa. Ia tahu saat itu ketidakadilan berlaku atas diri-Nya. Ia tahu bahwa diri-Nya hanyalah menjadi obyek kekesalan orang-orang yang membenci-Nya. Tapi kasih-Nya kepada manusia membuat Ia rela menerima perlakuan itu.

Renungan:

Yesus mendapatkan perlakuan yang tidak adil, namun hati-Nya tetap lembut. Semuanya itu dilakukan untuk Anda dan saya. Marilah kita mengucapkan syukur kepada Yesus, Anak Allah yang telah menderita buat kita. Yesus adalah bukti nyata kasih Allah kepada manusia.

Dengan Kasih

Renungan No Comments »

“Kata Yesus kepada Petrus: "Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” (Yohanes 18:11).

Raja Olaf II dari Norwegia adalah musuh bebuyutan orang-orang kafir. Selama masa pemerintahannya itu ia menjadi momok dan melakukan teror bagi rakyatnya, dan ia tidak mudah diajak berteman. Ia membunuh, membakar rumah, dan menjarah banyak harta dengan tujuan agar mereka menjadi orang Kristen. Ia dan pasukannya mengenakan tanda salib putih di perisai dan ketopongnya. Mereka meneriakkan yel-yel, “Majulah, tentara Allah! Manusia Salib!”

Sayang, sepak terjangnya akhirnya terhenti sebab ia terbunuh pada tahun 1030. Ia mencoba membenarkan tindakan barbarnya itu dengan berkata, “Saya membela kehormatan Allah.” Pertanyaannya, apakah kehormatan Allah itu didapatkan dengan cara membunuh dan memaksa rakyat supaya menjadi Kristen?

Yesus juga tidak setuju dengan tindakan Petrus yang dengan emosional memotong telinga seorang hamba bernama Malkhus. Apa yang dipikir Petrus sebagai tindakan yang mulia, namun bagi Yesus itu adalah kesalahan. Yesus harus minum cawan yang diberikan Bapa. Cawan ini adalah penderitaan dan kematian-Nya di kayu salib.

Kekristenan adalah berita damai sejahtera (Ef. 6:15) sekaligus peperangan, sebab Yesus datang juga membawa pedang (Mat. 10:34). Pedang ini bukanlah ditafsirkan sebagai perang untuk memaksa orang lain mengikuti agama Kristen, tetapi pedang ini adalah pedang Tuhan Yesus untuk memisahkan manusia yang percaya kepada-Nya dengan orang-orang fasik. Jadi tidaklah heran bila timbul penganiayaan terhadap orang yang bertobat itu.

Kita memberitakan Injil seharusnya tidaklah dengan membawa bazooka untuk ditodongkan kepada orang supaya percaya kepada Yesus, tetapi dengan kasih yang lemah lembut. Kadang timbul kejengkelan apabila mereka menolak dengan mengejek kita. Mulailah hati kita menjadi marah sambil menyumpahi, “Awas, kamu pasti masuk neraka!” Ini bukanlah memberitakan Injil dengan kasih. Apabila kita mengasihi mereka, meskipun penganiayaan datang, tetaplah memberitakan Injil. Dan doakanlah mereka dengan tidak jemu, sebab doa orang benar itu sangat besar kuasanya.

Renungan:

Beritakanlah Injil dengan kasih, sebab kekristenan tidaklah identik dengan kekerasan. Kasih itu lebih kuat dan dahsyat daripada kekerasan. Dan dunia yang keras ini dapat kita taklukkan dengan kasih. Biarlah yang percaya berkata: amin! Kasih mampu menghancurkan kedengkian manusia.

Copyright 2009 © Successful Bethany Families Sydney. All rights reserved.
| Sitemap
Entries RSS Comments RSS Log in