Lukas 6:27-36; Mikha 7:19
“....... Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Lukas 6:27).
Mengapa kita harus mengampuni? Mengapa kita harus mengasihi dan berbuat baik kepada musuh? Berikut ini dijelaskan keuntungan-keuntungan bagi mereka yang mau mengampuni:
Pertama, pengampunan membawa persahabatan.
Alkitab berkata, “Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib” (Ams. 17:9). Menutupi pelanggaran sama artinya dengan mengampuni orang yang berbuat salah. Dan ini memerlukan kekuatan dari Allah agar kita dapat mengampuni. Dan bila kita berhasil berdamai dengan musuh kita maka persahabatan akan terjalin kembali. Mungkin kita kapok untuk menjalin persahabatan kembali secara fisik, tetapi bila kita mengampuninya berarti dalam alam roh kita sudah berdamai dan berasahabat kembali.
Kedua, pengampunan akan membawa pengampunan Allah.
Bila kita mengampuni, maka Allah juga akan mengampuni kita. Prinsip ini jelas tercantum dalam Mat. 6:15; Mrk. 11:25. Jadi, ketika hati kita mengampuni musuh kita, saat itu juga Allah akan mengampuni kita. Bila kita tidak mengampuni, apakah Allah tidak mengampuni kita? Mungkinkah Allah “tega” menyimpan kesalahan kita? Lalu, mengapa Anda juga tega menyimpan kesalahan orang lain? Sebab itu, marilah kita mengampuni supaya Allah juga mengampuni kita dan melemparkan kesalahan-kesalahan kita ke dalam tubir-tubir laut (Mi. 7:19).
Ketiga, pengampunan membawa sukacita.
Menurut majalah Time edisi 15 April 1999, pengampunan adalah topik menarik untuk dianalisa dalam sebuah riset. Beberapa hasil penyelidikan menunjukkan bahwa orang yang tidak mengampuni akan meningkatkan stres, kualitas kerjanya buruk, daya pikirnya buruk, dan untuk jangka panjang dapat mengurangi daya penguasaan diri. Beberapa ahli riset mengatakan bahwa ini disebabkan oleh penyakit jantung dan terganggunya sistem syaraf. Dan yang pasti orang yang menyimpan dendam akan kehilangan sukacita. Setiap hari hidupnya dipenuhi dengan kebencian. Jadi, untuk mengembalikan sukacita, belajarlah mengampuni.
Renungan:
Tidak susah sebenarnya mengampuni musuh kita. Kuncinya ada pada persekutuan kita dengan Allah. Bila kita memahami betapa tinggi, panjang, lebar, dan dalamnya kasih Kristus, dan Roh Kudus yang berdiam dalam kita akan menolong kita untuk mengampuninya.
Mengampuni adalah obat yang paling manjur.





Recent Comments