Tujuan Kita Yerusalem Sorgawi

Renungan No Comments »

Galatia 4:21-27; Mazmur 23:4

 

“Tetapi Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita” (Galatia 4:26).

 

Ada sebuah iklan di televisi yang menanyai cita-cita anak kecil. Anak pertama ditanya, "Kalau besar mau jadi apa?" Menjadi dokter! Anak yang kedua ditanyai, "Kalau besar mau jadi apa?" Menjadi insinyur! Anak yang ketiga ditanyai, "Kalau besar menjadi apa?" Menjadi pilot! Anak yang ke empat ditanya, "Kalau besar mau jadi apa?" Dengan lucunya, sambil menunjukkan giginya yang ompong ia menjawab, "Mau menjadi presiden!" Dan ketika anak yang terakhir ditanyai, "Kalau besar mau jadi apa?" Anak ini menjawab mau seperti ibunya. Inilah cita-cita anak kecil.

Sementara menyaksikan acara tersebut, saya teringat masa kecil saya. Ketika saya ditanyai, "Kalau besar mau jadi apa?" Saya menjawab, "Menjadi pengelana sampai ke ujung dunia!" Sebab saya pikir kalau sudah mengelilingi dunia,  tujuan hidup saya sudah tercapai. Ternyata tujuan utama orang benar yang sesungguhnya bukan menjadi dokter, insinyur, pilot bahkan presiden sekalipun. Tetapi tujuan kita sesungguhnya adalah Yerusalem Surgawi (Yerusalem Baru).

Rasul Paulus mengibaratkan Hagar sebagai Gunung Sinai di tanah Arab, dan ia sama dengan Yerusalem yang sekarang (Gal. 4:25). Dan Sara adalah Yerusalem surgawi atau yang sering disebut Yerusalem Baru. Dan tujuan kita sesungguhnya adalah kota Yerusalem baru, seperti Alkitab katakan, “Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru” (Why. 3:12).

Hidup ini seperti suatu perjalanan. Kita sedang menapaki setapak demi setapak. Langkah awal sangat penting, akan tetapi langkah awal tidak akan sempurna tanpa ada langkah akhir yang baik. Kita sudah memulai langkah awal yang sangat baik yaitu menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ini adalah langkah awal menuju Yerusalem surgawi. Sebab tanpa percaya Yesus tak seorang pun sampai ke kota kudus Allah. Tetapi dalam perjalanan ini kita masih menghadapi banyak rintangan-rintangan. Kadang-kadang ada jalan licin dan terjal yang harus kita lewati. Tetapi kalau kita bersama Tuhan, kita pasti bisa melewati rintangan-rintangan itu. Kita harus berkata seperti Daud, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku (Mzm. 23:4).

 

Renungan:

Anda boleh memiliki cita-cita menjadi apa saja. Jadi dokter, insinyur, pilot, bahkan menjadi presiden sekalipun. Tetapi jangan lupa jadikan tujuan akhir Anda adalah Yerusalem Baru.

 

Tidak ada yang lebih indah dalam hidup ini selain masuk ke kota Yerusalem Baru

 

Kembali Ke Kubangannya

Renungan No Comments »

Galatia 4:1-11; Yesaya 64:6

 

“Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal

Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan

miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya” (Galatia 4:9)?

 

Seorang pelatih sirkus mendandani seekor babi. Babi itu dikenakan kain sarung yang bagus, hem berwarna putih dan jas berwarna hitam. Di lehernya dikenakan dasi kupu-kupu dan di kepalanya bertengger sebuah topi bertuliskan “Olimpiade” dan memanggul sebuah bendera layaknya peserta sebuah kontingen. Babi itu dituntun oleh pelatihnya dan berjalan di atas pentas, para penonton bersorak gembira dan berdecak kagum melihat penampilan babi tersebut, sebab tingkah laku babi itu mirip dengan manusia. Selesai pertunjukan, babi tersebut kembali ke belakang pentas dan di situ ada genangan air yang berlumpur. Walaupun sudah didandani, namanya babi tetap babi. Tabiat lamanya tetap ada. Tanpa  membuka baju langsung nyebur ke dalam kubangan.

Ilustrasi ini menggambarkan bagaimana orang Kristen yang sudah diampuni dosanya, disucikan hidupnya, tetapi masih kembali kepada kehidupan lama. Bukankah kita ini tadinya sudah rusak karena dosa? Hidup manusia tidak ada harganya di hadapan Allah. Bahkan kebaikan manusia dianggap seperti kain kotor (Yes. 64:6). Tetapi karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan anak-Nya yang tunggal sehingga barang siapa percaya kepada-Nya tidak binasa (Yoh. 3:16). Berarti melalui Yesus kita diperdamaikan kembali dengan Allah. Ibaratnya kita ini didandani kembali sehingga menjadi layak di hadapan Allah. Setelah kita menjadi bersih, harum, dan wangi di hadapan Allah masakan kita kembali nyemplung ke lumpur dosa?

Banyak orang menyia-nyiakan kasih karunia Allah. Mereka yang tadinya hidupnya bergelimang dengan dosa, jauh dari Allah, bahkan menyembah illah-illah lain sekarang diangkat, disucikan, dan dikuduskan oleh Allah. Setelah menjadi anak Allah masakan kembali kepada kehidupan lama? Mereka tidak menyadari kalau hidupnya sudah dimerdekakan dari perhambaan dosa, tetapi mereka memperhambakan diri lagi kepadanya. Rasul Paulus menegur jemaat Tuhan di Galatia, sebab mereka tidak menyadari bahwa mereka adalah ahli waris kerajaan Allah.

Rasul Petrus lebih keras lagi menegur orang-orang yang sudah menerima kasih karunia Allah tetapi menyia-nyiakannya. Petrus menyamakan mereka dengan hewan (2 Pet. 2:12). Petrus juga berkata, “Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: "Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya" (2 Pet.  2:22).

 

Renungan:

Janganlah kita seperti Esau yang menjual hak kesulungan. Apabila sudah lewat, kita tidak dapat mengambil kembali walaupun dengan mencucurkan air mata darah.

 

Anugerah Allah adalah harta yang terbesar.

 

Kematian Orang Benar

Renungan No Comments »

Galatia 2:15, 16; Pengkhotbah 7:1

 

“Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus ……” (Galatia 2:16).

 

      Kalau untuk masuk surga diberi syarat “melewati rambut dibelah tujuh”, agaknya tidak ada satu pun manusia yang sanggup melakukannya. Tapi itulah yang coba dilakukan oleh hukum Taurat. Dan memang buktinya tidak satu pun manusia yang sanggup melakukannya. Dan itu pula maksud Allah memberikan hukum Taurat, yakni supaya manusia sadar bahwa tidak ada perbuatan manusia yang sanggup membawanya ke surga. Jadi hanya melalui kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus saja kita dapat memperoleh hidup kekal itu. Dan firman Tuhan menyatakan bahwa hukum Taurat sudah mati, supaya kita hidup bagi Allah. Dan kita akan melihat kematian lainnya yang harus terjadi dalam hidup kita setelah kita menerima Yesus:

      Pertama, seperti yang telah disebutkan di atas, kematian atas hukum Taurat (Gal. 2:19). Kita dibebaskan dari peraturan-peraturan dan perintah-perintah yang membelenggu hidup kita. Keputusasaan karena ketidakmampuan kita menuruti hukum Taurat tidak lagi terjadi dalam hidup kita. Tetapi bukan berarti juga kita hidup seenaknya atau “semau gue”. Sebab sekarang kita menjadi pelaku firman dengan kekuatan Allah.

      Kedua, mati bagi dosa (Rm. 6:2). Dosa tidak lagi membelenggu dan menguasai hidup kita sejak hidup kita diserahkan kepada Yesus. Kita mempunyai kemampuan yang basar untuk mengalahkan dosa yang setiap saat datang menggoda, sebab kita tidak hidup di dalamnya. Manusia yang masih menjadi tahanan dosa tidak akan bisa melepaskan diri darinya. Lalu bagaimana dengan orang Kristen yang jatuh bangun di dalam dosa? Sebab orang Kristen itu tidak mau melakukan perlawanan terhadap dosa. Ia seharusnya tidak perlu jatuh bangun di dalam dosa bila mau melawannya dengan kekuatan Allah.

      Ketiga, mati bagi diri sendiri (Ef. 4:22; Rm. 6:6). Kita harus tahu bahwa tubuh manusia adalah alat bagi dosa untuk bekerja. Dan orang Kristen wajib mematikan hawa nafsunya supaya dosa jangan mulai bergerilya. Kematian bagi diri sendiri bukanlah tugas  Allah untuk melakukannya, tetapi kita!

      Keempat, mati bagi dunia (Gal. 6:14). Kita memang hidup di dunia, tetapi bukan berarti kita harus mengikuti cara-cara dunia. Kita mempunyai prinsip hidup yang tidak sama dengan dunia, dan ini berarti risiko. Dunia membenci orang-orang yang tidak sama dengan cara yang ditawarkannya. Anda harus berani untuk tidak berkompromi dengan dunia.

 

Renungan:

      Kalau Anda sadar hidup Anda sebenarnya adalah untuk Kristus. Belajarlah untuk mengecilkan nama Anda, bahkan meniadakannya sama sekali supaya nama Yesus yang semakin besar dalam hidup Anda.

 

Hidup kekristenan yang sesungguhnya dimulai saat kita mulai menyadari bahwa kita sudah mati dan hidup lagi bagi Kristus.

 

 

Tetap Pada Pendirian

Renungan No Comments »

Galatia 3:1-5; Yesaya 40:8

 

“Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu” (Galatia 3:1)?

 

      Pernahkah Anda mendengar tentang kapal “Dewa Ruci”, yaitu kapal perang Indonesia pada zaman dahulu yang tidak memiliki mesin kapal dan hanya memakai layar saja? Kapal ini sanggup berlayar ke berbagai negara yang ada di dunia walaupun hanya mengandalkan layar untuk mencapai tujuannya. Mungkin Anda bertanya, bagaimana kapal ini dapat sampai padahal di tengah laut arah angin dapat berubah-ubah? Tentu bagi seorang pelaut yang berpengalaman hal ini bukanlah masalah. Dengan memutar dan mengatur layar sedemikian rupa, maka arah perahu dapat berjalan lurus kepada tujuannya.

      Kapal layar di atas menggambarkan tentang kehidupan kita sebagai orang-orang percaya yang seringkali diperhadapkan kepada beberapa angin pengajaran yang membuat haluan kita bisa berubah. Bahkan pengajaran yang menyesatkan itu kelihatan lebih mempesona padahal jalannya menuju maut. Alkitab berkata, “Sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan” (Ef. 4:14).

      Saudara, saat ini ada banyak hal yang menarik dari dunia ini, seperti percabulan, pesta pora, kekayaan, dan lain sebagainya. Bahkan Iblis saat ini sedang gencar-gencarnya menawarkan kesenangan dunia kepada orang-orang percaya. Banyak dari antara anak-anak muda yang terlibat narkoba, anak-anak yang kecil mulai menggemari komik-komik yang tidak mendidik, dan orang tua yang terlalu mengejar uang dan kekayaan, serta ada beberapa orang percaya yang menukar imannya dengan kekayaan. Semuanya itu merupakan jerat bagi orang percaya yang dapat mengubah haluan menuju Yesus.

      Janganlah juga mempunyai kebiasaan berpindah gereja, hanya karena mau mengejar pengkhotbahnya yang terkenal. Anda mencari-cari pengajaran-pengajaran yang dapat memuaskan telinga Anda. Cepat atau lambat rohani Anda akan loyo, sebab rohani Anda tidak diberi makanan firman yang sehat. Ini juga patut diwaspadai.

 

Renungan:

      Apakah kita termasuk orang-orang yang terpengaruh dengan tawaran iblis dengan berbagai angin pengajarannya? Jangan bodoh! Saudara, keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita nilainya jauh lebih besar dari apa yang ada di dunia ini. Jangan mencoba-coba aliran atau alternatif-alternatif doktrin yang kelihatannya hebat, tetapi ujungnya membawa maut

 

Sekali Yesus tetap Yesus!

 

Kebanggaan Sebagai Anak Allah

Renungan No Comments »

Galatia 3:19-26; Hosea 11:1

KEBANGGAAN SEBAGAI ANAK ALLAH

 

“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus” (Galatia 3:26).

 

      Saya membaca di sebuah harian, seorang pembaca menulis demikian, “Adakah di antara Ibu Bapak yang berniat mengadopsi anak? Saya akan mengadopsikan anak saya yang baru lahir. Anak saya laki-laki yaitu anak ketiga, saya ingin mencari orang yang mau mengadopsinya. Waktu saya masih hamil, suami saya merantau ke Malaysia. Sampai anaknya lahir nggak ada kabarnya. Saya sangat bingung saat ini. Soalnya anak saya masih dua orang lagi. Keduanya butuh biaya sekolah, sedangkan saya tak punya apa-apa lagi……. Oleh karena itu, saya ingin mencari orang yang mau mengadopsi anak saya ini.”

      Berbagai perasaan berkecamuk di dalam diri saya, antara kasihan dan gregetan. Tetapi saya memahami posisi ibu di atas yang daripada tidak mampu menghidupi anaknya, lebih parah lagi menelantarkannya, lebih baik menyerahkannya kepada orang yang mampu merawatnya.

      Cerita tentang adopsi bukanlah cerita asing di Alkitab. Dikatakan bahwa setiap orang percaya yang dilahirkan kembali diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12, 13). Di bagian lain dipakai istilah adopsi dalam arti teologis. Adopsi di sini bukanlah berarti bahwa anak yang diadopsi akan menerima segala sesuatu yang berkelas dua. Tidak! Allah mengakui kita sebagai anak yang berhak atas hak yang sama, bahkan sama dengan Yesus. Alkitab mengatakan bahwa kita didudukkan bersama-sama dengan Yesus (Ef. 2:6).

      Sebelum menjadi anak Allah, kita adalah anak liar yang tidak berhak atas warisan Allah. Kita orang luar dan bukan termasuk anggota Kerajaan Allah. Kita ibarat gelandangan yang setiap hari mengai-ais sampah dan tidak tahu arah tujuan hidup. Tetapi kasih karunia Allah melimpah dalam hidup kita. Seorang raja yang datang dari negeri surga tiba-tiba memungut kita dan mengadopsi kita sebagai anak-Nya. Inilah yang saya katakan dengan kasih karunia Allah.

      Saudara, marilah kita menghargai posisi kita sebagai anak Allah. Tuhan telah memberikan janji-janji dan warisan-Nya kepada kita. Tuhan mau kita hidup sebagaimana posisi kita sebagai anak-anak Allah. Jangan melakukan hal-hal yang dapat membuat malu nama Bapa kita di surga.

 

Renungan:

      Kita patut bangga menjadi anak-anak Allah. Kalau Anda belum memiliki kemegahan ini, mintalah Tuhan membuka mata hati Anda supaya Anda melihat Allah dalam dimensi yang baru.

 

Kita bangga mempunyai Bapa seperti Allah kita, tetapi apakah Dia bangga memiliki anak seperti kita?

 

Copyright 2009 © Successful Bethany Families Sydney. All rights reserved.
| Sitemap
Entries RSS Comments RSS Log in