Dec 31
Lukas 6:46-49; Amsal 13:13
“Ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun” (Lukas 6:48).
Suatu hari seorang ayah masuk ke kamar anak gadisnya dan melihat ia begitu bahagia. Seseorang telah memberikan satu kotak manik-manik kepadanya. Anak itu berlari kepada ayahnya dan menunjukkan kotak itu.
“Itu memang indah anakku. Tetapi sekarang, lemparkan kotak itu ke dalam api,” kata ayahnya.
Anak itu memandang wajahnya dengan heran. Ini merupakan ujian berat.
“Ayah tidak memaksamu. Itu terserah kamu. Ayah mempunyai alasan yang kuat untuk hal itu. Percayalah kepada ayah.”
Dengan berat hati anak itu perlahan-lahan menghampiri tungku dan melemparkan sekotak manik-maniknya.
Setelah itu sang ayah tidak berkata apa-apa. Keesokan harinya ayahnya membawa boneka yang amat cantik yang telah lama diidam-idamkan anak gadisnya itu. Ayahnya berkata sambil memberikan boneka itu, “Nak, ayah memang bermaksud memberikan pelajaran kepadamu supaya kamu tahu bahwa Allah kadang-kadang bertindak seperti ini. Seringkali kita diperhadapkan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Dan Allah kerap memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak kita, tetapi lakukanlah, sebab Ia mempunyai alasan yang kuat untuk itu. Dan percayalah yang terbaik akan terjadi dalam hidup kita.”
Saudara, taat pada firman-Nya merupakan kunci untuk membuka pintu berkat. Apa yang merupakan sesuatu yang buruk, Allah dapat mengubahkan untuk kebaikan kita asal kita taat. Dan menurut pembacaan ayat hari ini Tuhan Yesus memberikan pengertian bahwa orang yang taat pada firman Allah akan mendirikan rumahnya di atas batu karang. Bila banjir datang rumah itu tidak roboh. Ia tidak ambruk karena berbagai persoalan yang melanda karena ia adalah pelaku firman.
Jadi, untuk memiliki fondasi yang kuat kita harus mendengarkan firman Tuhan dan melakukannya.
Renungan:
Marilah kita belajar untuk taat kepada firman Tuhan dari hal yang terkecil sampai yang besar. Inilah rahasia kekristenan yang berhasil ? menjadi pelaku firman. Dalam ketaatan kadang kita tidak mengerti apa yang menjadi maksud Allah, tetapi percayalah bahwa Ia menyiapkan yang terbaik untuk kita.
Ketaatan akan memperkokoh fondasi rumah kita.
Dec 30
Ringkasan Kotbah Pdt John Panggabean
Tgl 20 December 2009
Ayat bacaan 1 Korintus 3:16 dan 6:19
Dalam perjanjian lama dituliskan tentang tiga rumah Tuhan. Yang pertama adalah Tabernakel dan Tuhan sendiri yang menentukan bagaimana Tabernakel ini dibuat mulai dari bahan dan ukuran dan siapa yang boleh membangunnya. Yang kedua adalah Pondok Daud, dimana Tuhan suka hadir dan berbicara dengan Daud. Yang ketiga adalah Bait Allah yang dibangun oleh Salomo. Tuhan bisa hadir dan menyatakan kemulian-Nya di ketiga tempat di atas, tetapi Tuhan tidak berdiam dan tinggal di sana. Dan karena ketiga tempat di atas dibangun oleh tangan manusia yang berdosa, maka ketiga tempat tersebut sudah musnah rata dengan tanah.
Dalam 2 Tawarikh 6:29-30, Salomo berdoa kepada Tuhan bahwa ketika bangsa Israel berdoa menghadap Bait Allah agar Tuhan menolong dan mengampuni mereka. Tetapi melalui percakapan Yesus dengan perempuan Samaria, Yesus membatalkan ketentuan tentang berdoa menghadap Bait Allah. Tuhan ingin menunjukkan bahwa tubuh kita ini adalah rumah Tuhan yang dibangun dengan tangan Tuhan sendiri dan bukan oleh tangan manusai yang berdosa.
Karena tubuh kita adalah rumah idaman Allah, maka ada empat hal yang perlu kita mengerti:
1. Jangan takut dan jangan kuatir
Di dalam Alkitab ditulis kata-kata jangan takut dan jangan kuatir sebanyak 365 kali, sama dengan banyaknya hari dalam satu tahun. Sesuatu yang ditulis berulang-ulang dalam Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan ingin menyampaikan pesan yang penting, agar kita tidak takut dan kuatir dalam kehidupan ini. Ia tahu dan sudah menunggu kita di depan untuk memberikan berkat-Nya.
2. Jaga lidah dan perkataan kita
Berhati-hatilah dengan lidah dan perkataan yang keluar dari mulut kita, karena kita adalah rumah Tuhan yang berarti perkataan kita mengandung daya cipta. Ketika kita berkata berkat maka berkat yang terjadi dan ketika kita berkata kutuk maka kutuk yang terjadi.
3. Rawatlah rumah Allah
Kita adalah manusia roh yang mempunyai jiwa dan tinggal dalam tubuh karena itu rawatlah manusia roh kita dengan memiliki kehidupan doa. Kapanpun dan dimanapun kita berada teruslah bercakap-capak dan berdoa kepada Tuhan.
4. Doa kita didengar Tuhan
Roh yang ada di dalam kita berdoa kepada Bapa dengan doa-doa yang tidak terucapkan oleh kita. Dan ketika kita merasa bahwa doa kita belum dijawab oleh Tuhan, itu karena Tuhan sudah punya rencana yang indah untuk kita.
Tuhan Yesus memberkati
Dec 29
Lukas 6:43-45; Mazmur 92:13-15
“Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur” (Lukas 6:44).
Jadilah orang Kristen pohon kurma. Mengapa?
Dalam Kel. 15:27 dikatakan, “Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh POHON KURMA, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu.” Pikirkan, betapa menyenangkan melihat segerombolan pohon kurma bagi para pelancong di padang gurun. Sebab pohon ini tidak hanya memberikan tempat yang teduh, tetapi juga air, sebab pohon ini tumbuh di mana ada air.
Pemazmur juga menyatakan bahwa pohon ini masih saja berbuah pada masa tua, “Orang benar akan bertunas seperti pohon kurma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar” (Mzm. 92:13-15). Pohon ini tidak pernah “pensiun”. Banyak dari kita yang ingin cepat-cepat pensiun ? berhenti dari segala aktivitas pelayanan atau tidak lagi menghasilkan buah bagi Tuhan. Mungkin kita berpikir bahwa sudah saatnya kita membeli sebuah vila kecil di tepi danau yang indah. Di sana kita akan merajut dan bersantai sampai ajal menjemput. Ini bukan tipe orang Kristen pohon Kurma. KITA HARUS TETAP BERBUAH DAN BERKARYA BAGI KRISTUS SAMPAI TUHAN MEMANGGIL KITA.
Kitab Wahyu menyebutkan bahwa Kurma adalah gambaran kemenangan, “Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem [atau kurma] di tangan mereka” (Why. 7:9).
Orang-orang yang memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem adalah orang-orang yang telah lulus dari kesengsaraan. Dan kini mereka berdiri di hadapan Tuhan dengan daun palem di tangan.
Saudara, marilah kita menjadi orang Kristen yang berkemenangan dan berbuah lebat sampai tua seperti pohon kurma atau palem. Jangan malas, atau Allah akan datang dengan membawa kapak dan akan merobohkan pohon yang tidak berbuah. Jangan berpikir untuk pensiun melayani Tuhan.
Renungan:
Sebagai orang percaya kita semua adalah pohon yang ditanam. Ada pohon yang tidak menghasilkan buah, ada yang menghasilkan buah tapi busuk, tetapi ada juga yang menghasilkan buah yang baik. Anda mau pilih yang mana?
Pohon yang baik dengan buah yang baik pula akan memberikan kepuasan kepada majikannya.
Dec 28
Lukas 7:11-17; Yesaya 32:11
“Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan …..” (Lukas 7:13)!
Tiada hari tanpa berita kekerasan. Baca saja koran hari ini atau hidupkan televisi Anda dan temukan acara siaran berita, di sana akan diberitakan tentang perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, dan berita kekerasan lainnya. Manusia sudah kehilangan belas kasihan. Mungkin itu hal yang wajar menjelang akhir zaman. Tapi bila gereja sudah kehilangan belas kasihan, itu berita yang paling menyedihkan.
Saudara, Alkitab berkali-kali mencatat bagaimana Yesus dipenuhi dengan belas kasihan. Melihat janda kehilangan anak satu-satunya, hati-Nya menjadi gundah. Melihat massa yang banyak hati-Nya juga dipenuhi dengan belas kasihan (Mat. 14:14). Hati Yesus begitu lembut, sehingga melihat manusia yang dikuasai oleh dosa hati-Nya pilu.
Kalau kita mengaku sebagai tubuh Tuhan apakah kita juga memiliki belas kasihan seperti Yesus? Apakah kita membaca koran yang setiap hari selalu dilemparkan ke teras rumah kita hanya sekedar informasi belaka? Ya, kita mulai kehilangan belas kasihan terhadap jiwa-jiwa yang menderita. Air mata kita menjadi beku sehingga tidak bisa menangisi mereka lagi. Pembunuhan, perampokan, penganiayaan, dan berita kriminal lainnya tidak mampu membujuk air mata kita untuk meleleh di pipi. Mengapa tidak ada tangisan lagi bagi dunia yang sedang sekarat ini?
Jangan berbicara tentang kebangunan rohani apabila kita belum mempunyai belas kasihan. Jangan berbicara tentang acara-acara spektakuler sebelum kita menangisi jiwa-jiwa yang terhilang. Sebab gereja Tuhan sedang sakit. Gereja Tuhan tidak lagi peduli dengan jiwa-jiwa yang patut ditangisi.
Mari saudara, bangkitkan lagi tangisan untuk bangsa ini. Gantilah baju pesta kita dengan kain perkabungan. Gantilah sorak-sorai dengan tangisan, sebab jutaan manusia menjadi bulan-bulanan dosa dan kuasa kegelapan. Gereja Tuhan, gantilah acara-acara yang hebat ? mengadakan KKR dengan mengundang artis top ibu kota ? dengan kebaktian doa bagi yang berduka. Jangan lagi mengambil sikap acuh, sebab jutaan jiwa sedang dipertaruhkan dalam kamar doa kita.
Renungan:
Maukah Anda menangis saat ini untuk satu jiwa saja yang Anda kenal? Marilah, singkirkan dulu semua kesenangan yang sedang Anda alami dan masuklah ke dalam hadirat Tuhan dengan kain kabung dan menangislah……!
Gereja yang ”menangis” adalah gereja yang mengerti isi hati Bapa.
Dec 27
Lukas 6:27-36; Mikha 7:19
“....... Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Lukas 6:27).
Mengapa kita harus mengampuni? Mengapa kita harus mengasihi dan berbuat baik kepada musuh? Berikut ini dijelaskan keuntungan-keuntungan bagi mereka yang mau mengampuni:
Pertama, pengampunan membawa persahabatan.
Alkitab berkata, “Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib” (Ams. 17:9). Menutupi pelanggaran sama artinya dengan mengampuni orang yang berbuat salah. Dan ini memerlukan kekuatan dari Allah agar kita dapat mengampuni. Dan bila kita berhasil berdamai dengan musuh kita maka persahabatan akan terjalin kembali. Mungkin kita kapok untuk menjalin persahabatan kembali secara fisik, tetapi bila kita mengampuninya berarti dalam alam roh kita sudah berdamai dan berasahabat kembali.
Kedua, pengampunan akan membawa pengampunan Allah.
Bila kita mengampuni, maka Allah juga akan mengampuni kita. Prinsip ini jelas tercantum dalam Mat. 6:15; Mrk. 11:25. Jadi, ketika hati kita mengampuni musuh kita, saat itu juga Allah akan mengampuni kita. Bila kita tidak mengampuni, apakah Allah tidak mengampuni kita? Mungkinkah Allah “tega” menyimpan kesalahan kita? Lalu, mengapa Anda juga tega menyimpan kesalahan orang lain? Sebab itu, marilah kita mengampuni supaya Allah juga mengampuni kita dan melemparkan kesalahan-kesalahan kita ke dalam tubir-tubir laut (Mi. 7:19).
Ketiga, pengampunan membawa sukacita.
Menurut majalah Time edisi 15 April 1999, pengampunan adalah topik menarik untuk dianalisa dalam sebuah riset. Beberapa hasil penyelidikan menunjukkan bahwa orang yang tidak mengampuni akan meningkatkan stres, kualitas kerjanya buruk, daya pikirnya buruk, dan untuk jangka panjang dapat mengurangi daya penguasaan diri. Beberapa ahli riset mengatakan bahwa ini disebabkan oleh penyakit jantung dan terganggunya sistem syaraf. Dan yang pasti orang yang menyimpan dendam akan kehilangan sukacita. Setiap hari hidupnya dipenuhi dengan kebencian. Jadi, untuk mengembalikan sukacita, belajarlah mengampuni.
Renungan:
Tidak susah sebenarnya mengampuni musuh kita. Kuncinya ada pada persekutuan kita dengan Allah. Bila kita memahami betapa tinggi, panjang, lebar, dan dalamnya kasih Kristus, dan Roh Kudus yang berdiam dalam kita akan menolong kita untuk mengampuninya.
Mengampuni adalah obat yang paling manjur.
Recent Comments