Jan 31
Wahyu 8:1-5; Mazmur 141:2
“Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah” (Wahyu 8:4).
Allah sangat menghargai doa. Sebab hanya melalui doa Allah dapat berkomunikasi dengan kita. Tetapi doa sendiri tidak lagi menjadi bagian yang penting dalam kehidupan rohani kita. Kita menganggap doa itu suatu kewajiban yang harus dilaksanakan, sebab kalau tidak…. kita akan berpikiran bahwa dengan muka merah Allah akan mendatangi dan menghukum kita. Dahulu, saat masih kanak-kanak, kalau saya tidak berdoa sebelum makan, saya khawatir nasinya keluar masih tetap jadi nasi. Jadi berdoa membawa saya pada ketakutan.
Tetapi setelah dewasa saya sadar bahwa doa bukan sekedar kewajiban, tetapi juga sarana untuk berkomunikasi dengan Allah dan alat untuk membawa kita semakin intim dengan-Nya. Banyak orang Kristen yang frustasi dengan kehidupan doanya. Mereka merasa doa-doa mereka tertiup angin, sehingga jawabannya tidak kunjung tiba. Anda pasti merasakan hal yang demikian manakala permintaan Anda tidak datang-datang juga. Akhirnya Anda patah semangat lalu tidak berdoa lagi. Itu salah!
Dalam kitab Wahyu ini Tuhan berkenan menyingkapkan suatu rahasia. Dan Alkitab menyebutkan tentang asap kemenyan yang dipersembahkan bersama doa-doa orang kudus. Ayat 4 seperti pada pembacaan di atas disebutkan tentang naiknya asap tersebut BERSAMA doa-doa orang kudus lainnya.
Tidak ada doa yang sia-sia! Asalkan Anda melakukannya dengan iman dan segenap hati Anda, maka doa itu adalah asap yang akan naik ke takhta Allah. Jauh sebelum kitab Wahyu ditulis, Daud sudah mengungkapkan kebenaran ini, “Biarlah doaku adalah bagi-Mu seperti persembahan ukupan, dan tanganku yang terangkat seperti persembahan korban pada waktu petang” (Mazmur 141:2).
Anda lihat, doa bukan sekedar perkara meminta saja, tetapi suatu persembahan yang menyenangkan hati Tuhan. Apabila Anda berdoa yakinlah bahwa Anda sedang melakukan ritual penting dalam peribadahan Anda kepada Allah. Di dalam Perjanjian Lama seluruh acara peribadahan bangsa Israel dilakukan dengan segenap hati. Maka Anda juga harus melakukan hal yang sama. Ketika Anda sedang berada di dalam kamar dan berlutut, lakukanlah dengan segenap hati. Sebab Anda sedang membakar ukupan yang berisi doa-doa Anda. Jadi janganlah mengira bahwa doa itu bernilai rendah. Jangan anggap enteng perihal doa ini.
Renungan:
Mulailah giat untuk berdoa. Semakin banyak Anda berdoa, maka Anda semakin sering mempersembahkan ukupan kepada Allah. Dan saya yakin Anda akan berubah menjadi manusia yang mencerminkan rupa Kristus.
Doa adalah ritual mempersembahkan korban ukupan kepada Allah.
Jan 30
Wahyu 6:3, 4; Yesaya 48:18
"Dan majulah seekor kuda lain, seekor kuda merah padam dan orang yang menungganginya dikaruniakan kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi, sehingga mereka saling membunuh, dan kepadanya dikaruniakan sebilah pedang yang besar" (Wahyu 6:4).
Setiap kali membuka dan menutup suratnya, Rasul Paulus selalu mengatakan “Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.” Tuhan Yesus pun saat bertemu dengan murid-Nya selalu berkata: “damai sejahtera bagimu,” dan didalam Yohanes 14:27 Ia juga berkata : “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”
Hal ini diucapkan-Nya, karena Ia tahu bahwa sesuatu hal orang dapat kehilangan damai sejahtera. Bisa karena persoalan, tantangan, sakit, atau karena sedang dalam perseteruan. Dengan demikian menunjukkan pentingnya damai sejahtera bagi setiap jemaat Tuhan. Damai sejahtera itu harganya sangat mahal, yaitu semahal darah Yesus Kristus. Jadi setiap orang percaya harus menjaga dan memelihara damai sejahtera yang diberikan Tuhan Yesus Kristus. Jangan sampai kita kehilangan damai sejahtera, sebab kita adalah anak-anak Allah.
Apa yang tertulis di dalam kitab Wahyu ini sebagai peringatan yang perlu kita cermati, sebab disebutkan “Kuda merah padam penunggangnnya membawa sebilah pedang yang besar, diberi kuasa untuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi..." Akibatnya, penduduk bumi saling membunuh. Inilah peperangan. Inilah pembantaian ganas yang tidak mengenal prikemanusiaan. Inilah anarki sipil. Inilah macam peperangan yang terjadi apabila ketertiban sosial; ambruk, apabila gerombolan orang turun ke jalan dan mulai membunuh seenaknya. Ini adalah gambaran samar dari kehancuran besar-besaran yang akan terjadi nanti. Kemudian “pedang besar” berbicara tentang semacam senjata perusak yang hebat, sebuah senjata pemusnah masal (bnd Yehezkiel 38, 39).
Damai sejahtera itu harganya mahal dan kita harus menjaganya. Jangan sampai damai sejahtera itu hilang atau undur dari hidup kita, sebab jika itu terjadi, janganlah heran jika hidup kita akan dipenuhi kebencian, iri hati, percideraan dan tidak bisa mengampuni. Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun. Alkitab berkata, "Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus" (Rm. 14:17,19).
Renungan:
"Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan" (Rm. 15:13).
Dalam kondisi apapun pertahankan damai sejahtera Allah.
Jan 29
Wahyu 6:7-8; Amsal 21:31
Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hijau kuning dan orang yang menungganginya bernama Maut dan kerajaan maut mengikutinya. Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan dan sampar, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi (Wahyu 6:8).
Setiap angkatan bersenjata dalam suatu negara memiliki komando pasukan khusus, dan biasanya komando ini juga dijuluki sebagai pasukan maut. Dalam menjalankan operasinya mereka terkenal sadis, tidak mengenal belas kasihan, apalagi jika ditengarai orang-orang yang di hadapannya adalah musuh. Segala cara dan upaya ditempuh untuk menghancurkan lawannya. Pasukan ini memiliki keahlian yang melebihi pasukan lainnya, pasukan ini memiliki kemampuan destruksif, yaitu menghancurkan dan meluluhlantakkan sasaran operasi.
Demikian halnya dengan pasukan maut yang digambarkan dengan kuda hijau kuning, penunggangnya bernama maut, ia diberi kuasa untuk membunuh seperempat penduduk bumi, yaitu dengan pedang, kelaparan, sampar, dan binatang buas.
Pedang yang haus darah mengincar setiap orang dan siap membunuh serta memberikan serangan mautnya. Begitu banyak orang menderita dan kelaparan karena kekurangan pangan, seperti yang digambarkan di benua Afrika tepatnya di Etiopia. Penyakit sampar menyatakan tentang sakit penyakit yang disebarkan oleh berbagai macam virus dan sebab lainnya yang akan memakan korban jutaan orang, apalagi penyakit itu sudah menjadi epidemi. Sedang binatang buas mengacu kepada penerapan hukum rimba, diwarnai dengan balas dendam dan sadisme, manusia tidak lagi menghargai nyawa sesamanya. Saat ini kita sedang berada ditengah-tengah situasi yang seperti ini, walaupun hal itu tidak sedahsyat saat firman ini tergenapi seluruhnya.
Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Sehingga Ia katakana : Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" (1 Korintus 15:55). Kita adalah umat pemenang. Janganlah kita membiarkan kemenangan kita direbut oleh pasukan maut yang tidak ada sengatnya. Kita harus mempertahankan kemenangan yang diberikan Tuhan kepada kita. Jangan beri kesempatan kepada pasukan maut untuk merebut kemenangan dan menghancurkannya. "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia" (1 Korintus 15:57, 58).
Renungan:
"Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan” (1 Korintus15:54).
Kasih, iman dan pengharapan ditakuti oleh pasukan maut.
Jan 28
Wahyu 7:1-8; Mazmur 46:2
"..... Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka" (Wahyu 7:3)!
Meterai di samping berbicara mengenai tanda kepemilikan, juga berbicara mengenai perlindungan. Perhatikan bahwa penghukuman Allah dilaksanakan setelah malaikat memberikan tanda meterai pada dahi semua suku keturunan Israel.
Kita diingatkan juga tentang tanda darah yang harus dioleskan pada kedua tiang pintu dan ambang atas sebelum malaikat Allah mengambil nyawa setiap anak sulung, baik manusia maupun hewan, yakni pada masa bangsa Israel di bawah pimpinan Musa (Keluaran 12:23). Apa maksudnya? Ini berbicara mengenai perlindungan Allah kepada umat-Nya.
Saudara, dunia saat ini dilanda kecemasan luar biasa – kecemasan akan ekonomi, politik, keamanan, dan berbagai isu rasialisme. Dari yang miskin sampai kaya semuanya dilanda ketakutan. Dan renungan hari ini Tuhan mau mengingatkan kita bahwa di dalam diri kita ada meterai yang menjadi tanda bagi Allah untuk mengenali milik-Nya (Efesus 1:13). Dan itu berarti Allah juga menyediakan perlindungan-Nya kepada kita.
Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang ibu dengan dua orang anak. Keduanya sudah menginjak remaja. Melihat keadaan keluarga ibu ini saya menyimpulkan bahwa dia dan keluarganya berbahagia, apalagi dari segi keuangan mereka tak pernah kekurangan. Tetapi ada satu ganjalan yang akhirnya dia ungkapkan. Apa itu? Kecemasannya terhadap keselamatan anak-anaknya! Tidak hanya itu saja tetapi juga kekhawatirannya terhadap pengaruh buruk lingkungannya. Wajar bukan untuk cemas melihat anak-anak kita hidup di tengah isu maraknya narkoba dan hal-hal buruk lainnya?
Tetapi pada akhir permbicaraan itu dia berkata, "Dahulu, selama bertahun-tahun aku dilanda kecemasan terhadap anak-anakku, tetapi setelah Allah memberikan pengertian kepadaku bahwa Dia sanggup menjaga mereka, maka hilanglah segala kecemasan itu!"
Saya bertanya kepada Anda, "Apakah Anda mengalami kecemasan yang sama dengan ibu di atas sebelum ia mendapatkan pengertian dari Allah?" Apabila Anda mengandalkan diri sendiri untuk menjaga anak-anak Anda, suatu saat Anda akan frustasi sendiri, sebab Anda hanya sanggup menjaganya sepanjang mata Anda memandang. Bagaimana kalau mereka berada di sekolah? Di luar rumah? Inilah saatnya Anda mempunyai wahyu baru tentang meterai Allah. Serahkan anak-anak Anda kepada Allah. Dia sanggup untuk menjaga mereka! Dan yang penting lagi adalah serahkan kekhawatiran Anda dan saat Anda menyerahkan anak-anak Anda kepada Allah, berhentilah menjadi khawatir. Tidak hanya itu saja, kalau anak-anak Anda terkenal bandel dan susah diajar, mintalah Allah untuk mendidik anak-anak Anda.
Renungan:
Tanpa meterai tidak ada dari kita yang akan diselamatkan. Meterai tidak hanya sebagai tanda kepemilikan dari Allah, tetapi juga sebagai jaminan perlindungan Allah.
Jangan percaya kepada perlindungan manusia, melainkan kepada perlindungan Allah.
Jan 27
Wahyu 6:12-17; Amsal 16:18
Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: "Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu" (Wahyu 6:16).
Isu-isu kesombongan cukup mendominasi komunitas manusia, hampir setiap orang memiliki potensi untuk masuk ke dalam perangkap kesombongan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mau direndahkan martabatnya, semua orang memiliki kecenderungan untuk dihargai, dihormati dan diakui kepribadiannya.
Diakui karyanya, diakui kemampuanya, diakui keahliannya, diakui prestasinya, sehingga karena hal inilah seringkali muncul iri hati dan saling mendengki. Sebab satu sama lain disadari atau tidak sering terlibat persaingan untuk terus berkompetisi guna mengejar prestasi dan keuntungan, bahkan untuk mencapainya kadang segala cara dipakai - yang penting dirinya diuntungkan.
Persaingan demi persaingan mulai bergulir, sampai-sampai melupakan waktu bersekutu dan bersama dengan Allah. Jam-jam doa mulai berkurang, saat teduh tidak pernah dikerjakan, baca Alkitab hanya sekali seminggu, doa keluarga mulai padam, penyembah mulai sepi, kidung-kidung pujian hanya menjadi penghias ruangan semata, tidak ada waktu yang tersisa, tidak ada kesempatan sama sekali, semua waktu sudah habis hanya untuk mengejar prestasi dan mengejar uang.
Inilah kebodohan manusia, ia mulai menjadi sombong, ia mulai bergeser dengan menuhankan diri dan pekerjaannya untuk kemudian mulai meninggalkan Tuhannya. Orang yang seperti ini tidak tahu, bahwa ada masa di mana kesombongan itu akan dihancurkan Tuhan dengan tangan-Nya yang perkasa. Wahyu 6:11-15 mengungkapkan bagaimana Tuhan menjungkirbalikkan kesombongan manusia. Ketika meterai yang keenam dibuka terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah.
Renungan:
Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan. Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang, orang yang mencari TUHAN akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya! – Mazmur 22:27; 149:4.
Hancurkan kesombongan atau ia akan menghancurkanmu.
Recent Comments