Mar 31
Kejadian 4:17-26; 2 Petrus 3:9
“Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya” (Kejadian 4:17).
Selama ini kita menyorot kesalahan Kain ketika ia membunuh Habel, adik kandungnya sendiri. Tetapi kita masih menyaksikan rentetan kesalahan yang ia buat setelah ia melakukan pembunuhan. Saya mencatat ada 3 kesalahan yang dilakukan Kain pasca kasus pembunuhan:
Pertama, mendirikan kota untuk menghindari hukuman Allah. Setelah Kain membunuh adiknya, datanglah hukuman dari Allah, “Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi” (Kejadian 4:12). Kain mencoba melawan hukuman Tuhan dengan mendirikan kota. Ia tidak mau menjadi pengembara. Meskipun ia tidak mampu melawan hukuman Allah, namun niatan untuk melawan itu sudah merupakan suatu perbuatan dosa.
Kedua, membangun kota sebagai perlindungan. Kain tidak percaya kepada Allah yang berjanji untuk tidak mengizinkan ada orang yang akan mengusiknya (4:15). Ia berpikir bahwa kota itu akan mampu menjaga dan melindunginya. Ia ragu bahwa Allah sanggup menjaga ucapan-Nya. Ini kesalahan yang tidak bisa dianggap remeh. Setiap orang yang meragukan janji Tuhan itu merupakan suatu kesalahan.
Ketiga, memberikan nama anaknya sebagai nama kota tersebut. Kain memberikan nama Henokh sebagai nama kota. Henokh ini bukanlah Henokh yang bergaul dengan Tuhan hingga ia terangkat ke surga. Henokh yang terangkat ke surga itu anak Yared (Kejadian 5:18). Salahkah Kain memberikan nama anaknya sebagai nama kota? Saya yakin bahwa pemberian nama ini bukan sekedar bentuk cintanya kepada anaknya, tetapi sebagai suatu suatu bentuk arogansi. Ia mencari kemuliaan bagi keluarganya dan bukan bagi Allah. Dan kalau Anda juga mengagungkan dan mencari kemuliaan bagi keluarga Anda sendiri, itu tandanya Anda arogan dan tidak mementingkan untuk mencari kemuliaan bagi Allah.
Renungan:
Kain adalah salah satu contoh terburuk dalam peradaban manusia. Tetapi yang terjadi saat ini masih banyak ditemukan kasus yang bahkan lebih buruk dari Kain. Jadi kita jangan mencontohnya.
Dengan siapa Anda bergaul itulah Anda.
Related posts
Mar 30
Kejadian 4:1-16; Roma 13:13
“Tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram” (Kejadian 4:5).
Ada dongeng tentang seekor rajawali yang terbang lebih tinggi dari seekor rajawali lainnya, dan itu tidak menyenangkan si rajawali yang merasa dikalahkan tersebut. Rajawali terakhir tersebut mendatangi seorang pemanah dan berkata, “Aku harap kau bisa menjatuhkan rajawali itu.”
Si pemanah mau asalkan ia memiliki bulu yang bisa dikaitkan di anak panahnya. Si rajawali yang dipenuhi dengan iri hati itu mencabut satu bulunya lalu diberikan kepada si pemanah. Anak panah itu lalu dilepaskan dari busurnya namun belum mencapai sasaran, sebab rajawali itu terbang terlalu tinggi. Si rajawali yang ada di bawahnya lalu mencabuti lebih banyak bulu lagi sampai ia sendiri tidak dapat terbang karena terlalu banyaknya bulu yang dicabut. Lalu si pemanah itu berpaling kepada rawajali tersebut dan membunuhnya.
Kain dan Habil adalah satu saudara kandung. Seharusnya mereka saling mengasihi, saling menolong, dan saling menopang. Tetapi apa yang terjadi dapat kita lihat. Persaudaraan mereka berakhir dengan tragis, sebab Kain membunuh Habel. Masalahnya sebenarnya sederhana: persembahan Habel diterima Allah, sedangkan persembahannya tidak.
Sebenarnya benih iri hati dan cemburu itu sudah dapat kita lihat pada saat manusia itu masih balita. Anda yang punya anak pasti merasakan hal ini. Si kakak yang biasanya mendapatkan perhatian lebih, tiba-tiba seperti mendapatkan saingan baru ketika si adik dilahirkan. Lebih parah lagi sepertinya seisi rumah mencurahkan segenap perhatiannya kepada makhluk baru tersebut. Lalu timbullah iri hati. Karena itu para orang tua wajib memberikan pengertian dan membagi perhatian dengan bijak. Tetapi inilah fakta bahwa manusia mudah dikuasai oleh iri hati dan cemburu.
Kita masih bergulat dengan iri hati ini, bahkan sampai Anda membaca renungan ini. Sepertinya kita mempunyai ribuan alasan untuk iri hati. Biasanya hal ini dimulai ketika kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa tidak puas bila ada orang yang melebihi kita. Padahal kalau ditelaah dengan seksama, memang ada kekurangan, tetapi ada juga kelebihan dalam diri kita. Karena itu puaskan dirimu dengan anugerah yang Tuhan berikan.
Renungan:
Iri hati itu pembunuh. Mulanya itu seperti bisul kecil, namun lama-kelamaan menjadi benjolan besar yang berbahaya dan dapat membunuh Anda. Ingatlah kasus Kain dan Habel.
Related posts
Mar 29
Ringkasan Kotbah : Pdt. Agus Gunawan
Tanggal : 21 Maret 2010
Ayat bacaan Kejadian 22:1-8 & 14
Alkitab mengajarkan agar kita melihat janji Tuhan digenapi dalam kehidupan kita. Kita harus belajar untuk mengikuti cara hidup orang-orang yang mendapatkan janji Tuhan dalam hidup mereka, yaitu dengan melalui iman dan kesabaran. Dua tokoh Alkitab yang harus kita contoh adalah Abraham dan Yosua, dan ada tiga hal yang dapat kita pelajari dari mereka:
1. Miliki hati yang rela
Peristiwa di dalam ayat bacaan di atas terjadi di tanah Moria dan Tuhan memerintahkan Abraham untuk mengorbankan anak perjanjian, Ishak, kepada-Nya. Peristiwa ini terjadi setelah berbagai-bagai peristiwa lain yang sudah dialami oleh Abraham bersama Tuhan: Abraham keluar dari tanah kelahirannya, tinggal di Mesir, perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, perpisahan dengan Lot dan berperang dengan raja Kedorlaomer, melihat Sodom dan Gomorah dihancurkan, kepergian Ismael dan Sarah yang diculik. Ujian terakhir dari Tuhan adalah agar Abraham mengorbankan Ishak. Jika kita mau menerima janji-janji Tuhan, kita harus beriman dan sabar dengan berdasar pada kasih kita akan Tuhan. Selain itu kita juga harus memiliki hati yang rela. Ketika kita memprioritaskan Tuhan dalam hidup kita, maka Ia juga akan memprioritaskan kita.
2. Percaya akan kuasa Tuhan yang tiada batas
Abraham mengenal akan kuasa kebangkitan Tuhan. Dia berjalan tiga hari ke gunung Moria, yang melambangkan tiga hari Yesus harus mati. Dalam perjalanannya Abraham sudah membayangkan bahwa ia akan mengorbankan Ishak dengan membakarnya sebagai korban persembahan untuk Tuhan. Tetapi dalam tiga hari itu Abraham mengenal konsep kebangkitan dan percaya bahwa Tuhan jugalah yang akan membangkitkan Ishak. Dia percaya bahwa akhir hidupnya bukan kekalahan atau kepahitan, melainkan kemenangan.
Yosua adalah contoh yang lain. Ketika ia berdoa kepada Tuhan ia meminta agar matahari berhenti bergerak supaya ia bisa melanjutkan perang dan menang. Itu adalah doa yang salah karena yang bergerak adalah bumi, akan tetapi Tuhan mengerti maksud Yosua dan doanya dikabulkan Tuhan.
3. Percaya Tuhan adalah Yehovah Jireh
Abraham percaya bahwa Tuhan yang menyediakan dan mencukupi. Abraham tidak mengatakan ketika ia sudah di atas gunung, tetapi Abraham mengatakannya ketika ia masih di lereng gunung. Abraham percaya bahwa Tuhan sudah menyediakan domba untuk korban persembahan.
Yosua meminta kepada bangsa Israel agar ia dikuburkan di batas terluar dari negeri Kanaan, karena ia percaya bahwa janji Tuhan akan digenapi.
Mari kita miliki iman sejati seperti yang dimiliki Abraham dan Yosua yang tidak pernah mau menerima kekalahan dan yang selalu percaya bahwa Tuhan akan memberikan kemenangan.
Tuhan Yesus memberkati
Related posts
Mar 29
Kejadian 3:1-24; 1 Yohanes 3:8
”Ia menjawab: ”Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi” (Kejadian 3:10).
Bisa dibayangkan betapa indahnya taman Eden itu. Suhu udaranya yang sempurna dan tanahnya yang sangat subur membuat tumbuh-tumbuhan, hewan dan ternak bisa hidup dengan nyaman di dalamnya. Demikian juga dengan Adam dan Hawa sebagai sang penguasa taman Eden bisa hidup nyaman dan berdampingan dengan segala jenis makhluk ciptaan Tuhan lainnya tanpa ada permusuhan.
Tetapi tiba-tiba manusia DIUSIR KELUAR dari Eden. Manusia tidak lagi berpijak pada tanah yang subur tetapi tanah yang terkutuk. Manusia hidup dalam ekosistem yang tanpa kehadiran Allah di sekelilingnya. Hewan-hewan menjadi buas dan menjadi musuh manusia.
Manusia menjadi merasa tidak nyaman lagi. Mereka harus berpeluh keringat supaya bisa makan. Harus menanggung sakit bersalin. Manusia harus terpisah dari Sang Penciptanya. Manusia tidak lagi berselimutkan dan bergelimangan dengan kemuliaan Allah melainkan telanjang. Dan kematian mulai menghadang manusia.
Dosa atau ketidaktaatan menjadi pemicu semuanya itu. Dosa membuat manusia kehilangan dominion [kekuasaan] [yang Allah telah berikan kepada mereka] dan tidak lagi menjadi penguasa bumi ini, sebagai gantinya si ularlah [iblis] yang menjadi ”ilah dunia ini.” Dosa membuat sakit penyakit, kemiskinan dan kemalangan masuk ke bumi ini. Dosa telah membuat manusia menjadi terkutuk. Bisa dosa telah menjalar kepada semua keturunan Adam sehingga tidak ada manusia yang tidak berdosa semuanya menjadi manusia berdosa. Itulah tragedi Eden.
Siapa yang bisa menghentikan virus dosa yang sudah menjalar itu supaya tidak menelan banyak korban sehingga tragedi Eden tidak terulang lagi? ”Keturunan perempuan.” Siapa itu? Y E S U S! Melalui kematian Yesus di atas salib itulah ”kepala si ular” diremukkan. Di atas salib itulah virus dosa dihentikan. Di atas salib itulah tragedi Eden berakhir. Di atas salib itulah dominion direbut kembali.
Untuk siapa Yesus lakukan itu semua? Untuk siapa dominion itu? Untuk siapa kemenangan itu? Untuk Yesus? Yesus tidak perlu semua itu. Yesus sudah memiliki semua itu. Itu semua untuk Anda dan saya. Oleh sebab itu sewaktu kita percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dominion yang pernah dimiliki oleh Adam diberikan kepada Anda dan saya. Tragedi Eden tidak lagi terulang dalam kehidupan kita. Dosa tidak lagi berkuasa atas hidup kita.
Renungan:
Jangan izinkan tragedi Eden terulang lagi dalam hidup Anda gara-gara Anda tidak hidup menurut firman Allah. Dominion telah ada di tangan Anda. Kuasailah bumi ini.
Tanah yang Anda injak tidak lagi terkutuk sebab Anda bukan manusia terkutuk. Hidup Anda diberkati dan sehat walafiat.
Salib mengakhiri tragedi Eden dan mengawali kemenangan.
Related posts
Mar 28
Wahyu 22:20-21; Bilangan 6:24-26
“Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin” (Wahyu 22:21).
Ini adalah ayat terakhir dari seluruh Alkitab. Kasih karunia disebutkan lagi dan ditegaskan lagi pada akhir kitab ini. Selain Yohanes yang menulis kitab Wahyu ini, saya mencatat ada dua tokoh besar Alkitab yang mengakhiri suratnya dengan menyebut kasih karunia. Mereka adalah Paulus yang berkata, “Tuhan menyertai rohmu. KASIH KARUNIA-Nya menyertai kamu” (2 Timotius 4:22)! Dan Petrus yang berkata, “Tetapi bertumbuhlah dalam KASIH KARUNIA dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya” (2 Petrus 3:18).
Tanpa kasih karunia, tidak ada manusia yang diselamatkan. Tanpa kasih karunia tidak ada surga bagi manusia. Tanpa kasih karunia manusia berada dalam cengkeraman kuasa kegelapan. Dan kasih karunia Allah itu tidak bisa dijabarkan dengan detail ke dalam lembaran kertas. Dan kasih karunia itu adalah hadiah yang seharusnya tidak layak diterima oleh manusia, tetapi Allah berkenan memberikannya.
Seluruh isi Alkitab mempunyai satu pusat: keselamatan melalui kasih karunia oleh Tuhan Yesus Kristus. Dan Yohanes meneguhkan, “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia” (Yohanes 1:16). Karena satu orang ini, Yesus, maka kita menerima kasih karunia demi kasih karunia. Bukan satu, tetapi banyak kasih karunia. Luar biasa Allah kita.
Dan yang terpenting lagi disebutkan di Alkitab, “Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima” (2 Korintus 6:1). Adakah orang-orang yang menyia-nyiakan kasih karunia? Banyak. Saya berikan salah satu contohnya adalah Saul. Kurang apa kasih karunia Allah kepadanya? Dia diberikan kedudukan yang tertinggi dalam kerajaan Israel sebagai raja. Allah mengangkatnya dari rakyat jelata menjadi raja Israel. Anda pasti setuju kalau ini adalah kasih karunia Allah. Tetapi Saul berubah setia dengan ketidaktaatannya dalam beberapa kasus. Dia menyia-nyiakan kasih karunia Allah.
Saudara, tinggallah dalam kasih karunia Allah. Jangan membuat sia-sia pengorbanan Kristus. Dia sudah bersusah payah sampai menderita dan mati buat Anda, masakan Anda hendak meninggalkan Dia? Masakan Anda tidak lagi hidup di dalam iman? Masakan Anda mau lari dari kasih karunia-Nya? Jangan membuat sia-sia kasih karunia Allah.
Renungan:
Marilah kita tinggal dalam kasih karunia Allah. Kita tidak tahu kapan Dia datang, tetapi persiapkanlah diri Anda, sebab bisa saja malam ini Dia datang dan menjemput Anda.
Alkitab adalah buku kisah tentang kasih karunia Allah.
Related posts
Recent Comments