Blog Home | About Us | Sermon | Power Articles | Testimony | Forums | Gallery | Contact Us | Donate | Partners

Dulu Dianggap Hebat

August 21st, 2008

2 Korintus 3:7-11; Keluaran 34:29

 

 

“Sebenarnya apa yang dahulu dianggap mulia, jika dibandingkan dengan kemuliaan yang mengatasi segala sesuatu ini, sama sekali tidak mempunyai arti” (2 Korintus 3:10).

 

       Dalam dunia komputer, dulu prosesor i486DX diperkenalkan pada tahun 1989, kita berdecak kagum. Kita ingat bagaimana orang-orang terheran-heran melihat sosok komputer yang sudah dianggap tercanggih saat itu. Lalu diperkenalkanlah prosesor dengan sebutan Pentium pada tahun 1993. Dengan cepat si Pentium ini menjadi pembicaraan banyak orang. Kecepatannya dalam mengolah data benar-benar membuat kita bertepuk tangan. Microsoft Word yang biasanya agak malas-malasan nongol, dengan prosesor ini ia menjadi lebih “bersemangat”. Lalu bagaimana sekarang? Si Pentium jelas lebih cepat dan lebih hebat. Kecepatannya sudah ditingkatkan puluhan kali. Dan pada tahun 2001, Intel telah melampaui batas 2 GHz, apalagi saat ini tahun 2008. Apa yang dulu dianggap hebat, sekarang ini tidak ada apa-apanya.

      Saudara, dulu kemuliaan Musa di gunung Sinai dianggap hebat. Tetapi bila dibandingkan dengan kemuliaan yang sedang kita alami kemuliaan Musa itu tidak ada artinya. Paulus berkata bahwa pelayanan Roh itu jauh lebih besar dari pelayanan yang terukir pada loh-loh batu. Dengan kata lain, pelayanan Paulus memberitakan Injil merupakan pelayanan yang melebihi pelayanan Musa.

      Kalau Anda boleh memilih, pada zaman apakah Anda ingin hidup? Zaman Musa? Zaman Penjanjian Lama? Zaman Yesus masih ada di bumi? Atau zaman Perjanjian Baru? Kalau Anda memilih 3 zaman yang pertama, Anda salah. Sebab zaman sekarang di mana kita hidup ini adalah zaman yang melimpah dengan kasih karunia Allah. Tiga zaman yang pertama, yang berlaku adalah hukum Taurat. Kalau Anda berdosa, hukuman akan dijalankan saat itu juga. Berzinah misalnya. Hukum Musa menyatakan, siapa yang melakukannya harus dihukum mati (Im. 20:10). Karena itulah orang-orang Yahudi tidak salah saat menangkap perempuan yang berbuat zinah dan menghadapkannya kepada Yesus supaya dirajam batu (baca: Yoh. 8:1-11). Tetapi Yesus mulai membawa angin reformasi dengan pernyataan bahwa siapa yang tidak berdosa, dialah yang pertama kali melemparinya dengan batu. Tak seorangpun yang bergerak!

      Bagaimana sekarang? Ada orang Kristen yang berzinah, tetapi semuanya berjalan mulus saja. Tidak ada batu, tidak ada hukuman, dan tidak sangsi. Benarkah demikian? Tidak! Sesungguhnya Allah bersabar supaya orang itu bertobat (2 Pet. 3:9).

 

Renungan:

      Kemuliaan Allah akan semakin kita nikmati. Kita percaya bahwa kemuliaan ini akan semakin terang dan orang yang sungguh-sungguh merindukannya akan menikmatinya. Dan puncak kemuliaan ini akan terjadi saat tubuh kita mengenakan “yang tidak dapat binasa” (1 Kor. 15:53).

 

Orang yang paling bebal adalah orang yang menyiakan-nyiakan hidupnya pada zaman anugerah yang melimpah dengan kasih karunia Allah.

 

Berita Kemenangan

August 20th, 2008

2 Korintus 2:12-17; Yesaya 7:14

 

  “Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya …..” (2 Korintus 2:14).

 

      Dua misionaris ditangkap dan dipenjara di sel yang sama, namun dilarang untuk saling berbicara. Hari itu hari Natal.

      Salah seorang misionaris, sambil menggigil dan membisu bermain-main dengan jerami yang ada di lantai penjara. Tiba-tiba ia mempunyai ide untuk berkomunikasi dengan temannya. Ia membentuk tulisan “Imanuel” dari jerami itu. Temannya yang membaca tulisan itu tiba-tiba wajahnya menjadi ceria. Kata itu membangkitkan semangatnya kembali dan mengingatkannya akan janji Allah bahwa Sang Imanuel itu akan selalu menyertainya. Meskipun mereka berdua berada dalam penjara, namun mereka percaya bahwa Allah beserta mereka dan kemenangan Kristus menjadi milik mereka.

      Kalau Natal diartikan pesta saja, arti Natal akan menjadi kabur. Natal sebenarnya adalah berita sukacita bahwa Yesus berkenan lahir di dunia untuk menyelamatkan manusia. Dan yang penting lagi, Natal adalah berita kemenangan bagi orang benar.

      Dunia senang merayakan Natal, sebab hal ini berarti uang besar (bagi para pedagang hiasan Natal), gaji besar (bagi karyawan yang mendapatkan bonus Natal), makanan lezat (bagi yang diundang pesta Natal), lebih ekstrim lagi, Natal berarti teler (sebab merayakannya sambil menenggak minuman keras). Yesus pasti sedih melihat anak-anak-Nya yang merayakan “ulang tahun”-Nya sambil berhura-hura seperti itu. Saya yakin, malaikat-malaikat Allah sendiri pasti “mengecam” gaya umat Allah merayakan Natal.

      Walaupun saat ini kita tidak sedang merayakan Natal, tetapi biarlah menjadi peringatan bahwa ketika kita merayakan Natal maka kita fokuskan pada suatu kemenangan Kristus. Paulus sebagai hamba Tuhan yang terbiasa dalam penderitaan, semangatnya tidak pernah pupus. Meskipun orang-orang menganiaya dan mencoba membunuhnya, tetapi Paulus tegar. Dia tahu bahwa Kristus merupakan jaminan kemenangan baginya. Dengan berani ia berkata, “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Rm. 8:37). Kita adalah lebih dari pemenang di dalam Yesus.

 

Renungan:

      Masalah boleh datang, badai boleh menerpa, tetapi Yesus selalu bersama kita. Jangan kecil hati bila Anda berada dalam lembah kegelapan, sebab Yesus sudah memenangkan pertempuran, dan Ia mewariskan kemenangan itu kepada kita.

 

Janganlah menyerah atau putus asa atas pergumulan yang sedang engkau hadapi sebab kemenangan ada di tanganMu.

     

 

Yang Hidup Diburu

August 19th, 2008

2 Korintus 2:5-11; Kejadian 39:6-10

 

“Supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya” (2 Korintus 2:11).

 

      Seorang Kristen muda yang bekerja pada juragan kaya, selalu berkata kepada rekan-rekannya bahwa dia bergumul melawan tipu daya setan setiap hari, namun ia selalu menang. Tuannya yang mendengar cerita ini mengejeknya dan mengatakan kepada orang Kristen muda ini bahwa setan tidak pernah mengganggunya. Orang Kristen ini tidak bisa menjawab olokan itu.

      Suatu hari si orang Kristen muda ini diajak berburu oleh tuannya. Mereka menembak gerombolan angsa liar dan membunuh beberapa di antaranya, tetapi yang cedera melarikan diri. Tuannya berteriak, “Lari, tangkaplah yang terluka itu sebelum melarikan diri.” Orang Kristen itu mematuhi perintah tuannya. Tak lama kemudian ia kembali sambil tertawa. Ia mempunyai jawaban terhadap olokan tuannya. “Tuan, mengapa setan tidak memburu Tuan, sebab secara rohani Tuan sudah mati, seperti angsa-angsa yang mati itu. Tetapi yang hidup masih diburu-buru, seperti aku.”

      Ya, setan tidak perlu memburu orang yang sudah mati secara roh - mereka yang belum percaya kepada Yesus. Tetapi orang yang rohnya telah dibangkitkan Kristus menjadi sasaran dari “operasi militer” kuasa kegelapan.       

      Alkitab banyak menceritakan kisah keberhasilan maupun kegagalan iblis dalam memperdaya orang-orang benar. Siapa yang berhasil? Yusuf misalnya. Melalui istri Potifar, setan berusaha membujuk Yusuf untuk tidur bersama. Setiap hari Yusuf mendapatkan serangan gencar, namun kita tahu Yusuf punya sistem pertahanan iman yang tangguh. Ia bergeming (tidak goyah).

      Sedangkan Daud pernah terbujuk oleh setan supaya ia menghitung orang Israel (1 Taw. 21:1-17). Hal ini dianggap suatu kesalahan oleh Tuhan, karena dengan melihat begitu banyak jumlah pasukannya, maka ia tidak mengandalkan Tuhan. Apapun alasannya, setan berhasil menipu orang benar.

      Jangan beri keuntungan atau kesempatan pada setan - itu adalah nasihat Paulus yang tepat untuk menghindarkan kita dari malapetaka. Pada ayat lain Alkitab memberikan nasihat, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1 Pet. 5:8).

 

Renungan:

      Setiap hari setan mengincar kita. Yang diincar pasti tidak menyadarinya. Saya sampaikan hal ini supaya Anda waspada dan berjaga-jaga senantiasa. Tinggallah dalam persekutuan yang akrab dengan Tuhan supaya Anda tetap berdiri.

 

Setan tidak memburu orang mati.

 

Mengucapkan Kata-Kata Angkuh

August 18th, 2008

2 Korintus 3:1-6; Amsal 16:18

 

“Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah” (2 Korintus 3:5).

 

      Aktor pemain film Magnum P.I, Tom Selleck, berkata, “Apabila saya mulai sombong, saya teringat dengan pengalaman saya ketika sepasang suami istri Uzur yang mendekatiku dengan kamera di sebuah jalan di Honolulu. Saat sudah siap sambil sedikit bergaya untuk difoto, tapi si pria tua itu berkata, “Bukan, bukan itu maksud kami, kami minta tolong Anda untuk mengambil gambar kami berdua.”

      Tuhan membenci orang sombong. Begitu banyaknya orang sombong yang merasa dirinya paling besar, hebat, tidak terkalahkan, dan tidak tertandingi. Tetapi siapakah kita ini sebenarnya? Bukankah kita ini hanyalah terbuat dari “bahan baku” tanah liat? Dan lihatlah, kalau mati paling-paling kita akan menempati “bunker” kecil berukuran 1,5 x 2 meter, alias liang lahat.

      Siapa lagi yang mengucapkan kata-kata angkuh?

      “Tidak ada manusia yang mengalahkan aku. Aku terlalu cerdik. Aku terlalu piawai Akulah yang terbesar. Akulah raja!” - Komentar Mohammad Ali menjelang petarungannya yang terkenal itu melawan Joe Frazer. Tetapi bagaimana keadaannya kini? Anda tahu sendiri kalau ia telah “di-KO” Parkinson (ini bukan nama orang, tapi penyakit).

      “Tak seorang pun yang mengalahkan aku lagi!” - komentar Mike Tyson sebelum dipukul KO oleh James Buster Douglas.

      “Aku telah 62 tahun dalam dunia acting. Tidak perlu lagi orang mengajariku bagaimana berakting.” - komentar aktor Mickey Rooney.

      “Biarpun semuanya tergoncang imannya…. tapi aku tidak.” - Komentar Petrus sebelum menyangkali Gurunya.

      Tidak ada orang sombong yang akan tahan berdiri. Mereka akan bertumbangan, sebab kalimat mereka adalah kalimat tantangan terhadap Yang Maha-Kuasa. Kalau Anda berdiri dalam posisi kuat, jangan terbuai dan menjadi sombong. Ingatlah selalu bahwa Allah yang mengangkat Anda, dan itu bukanlah usaha Anda. Firman Tuhan berkata, “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (Ams. 16:18).

 

Renungan:

      Dunia penuh dengan keangkuhan (1 Yoh. 2:16). Mereka saling meninggikan diri. Biarpun orang-orang meninggikan dirinya, tetapi kita berkata seperti Paulus, “Kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.”

 

Orang yang sombong belum pernah merasakan tamparan malaikat Tuhan.

 

Permata Simpatik

August 17th, 2008

2 Korintus 1:1-11; Yesaya 49:13

 

“Terpujilah Allah …..yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah” (2 Korintus 1:3, 4).

 

      Seseorang mengunjungi toko berlian. Dia ditunjukkan sebutir berlian yang menawan dengan sinar kemilau keemasan dan beberapa butir batu permata lainnya yang tidak kalah cantiknya. Namun si calon pembeli ini memperhatikan sebutir batu permata lainnya yang sama sekali kurang berkilau-kilauan. “Yang ini sepertinya tidak ada keindahannya sama sekali.”

      Si penjual kemudian mengambil batu permata yang dimaksud dan meletakkan di atas cekungan telapak tangannya dan menggenggamnya dalam beberapa menit. Saat tangannya dibuka, terlihatlah keindahannya. “Mengagumkan!” Seru si calon pembeli, “Setiap bagian berkilauan seperti pelangi. Mengapa bisa terjadi seperti ini?”

      “Ini adalah opal. Inilah yang dinamakan permata simpatik. Hanya dibutuhkan sentuhan dengan tangan manusia supaya keindahannya muncul.”

      Saudara, betapa banyak manusia di sekitar kita yang sebenarnya dapat memunculkan keindahannya apabila disentuh dengan simpatik kita. Selama ini persepsi kita telah terbentuk mengenai orang-orang di sekitar kita yang tidak kita kenal. Kita selalu berpikiran negatif terhadap mereka. Melihat orang tinggi besar berkulit gelap dengan rambut panjang, pikiran kita langsung membayangkan penjahat besar yang sedang menguntit mangsanya. Padahal orang itu adalah orang yang baik. Dan kalau toh orang itu adalah penjahat dia pun membutuhkan simpatik kita. Kalau kasih ditaburkan maka hati sekeras apapun dapat diluluhkan.

      Paulus adalah hamba Allah yang senang menebarkan simpatik. Tidak hanya itu saja ia juga menghibur mereka yang membutuhkan penghiburan. Bagi Paulus manusia jahat sekalipun adalah manusia yang perlu dikasihi. Kalau kita mau melakukan hal demikian, paradigma lama kita akan berubah. Sebab tetangga yang selama ini kita anggap sebagai musuh dalam selimut, eh tidak tahunya orang yang baik.

 

Renungan:

      Kalau Anda telah mendapatkan penghiburan Allah, saatnya kita pergi dan memberikan penghiburan kepada mereka yang membutuhkan penghiburan. Dan Paulus sendiri melakukan hal itu. Di dalam masa-masa berat yang dihadapinya, ia masih memberikan penghiburan kepada orang lain.

     

Orang Kristen adalah penghibur dalam kesusahan bagi sesamanya.

 

Kasih Bukanlah Kata-Kata

August 16th, 2008

1 Korintus 13:1-7; Amsal 15:17

 

“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (1 Korintus 13:1).

 

      Dari dahulu sampai sekarang, semua orang pasti mendambakan kasih, baik kasih dari orang tua, teman, pacar, atau dari orang-orang di sekeliling kita. Namun apa yang terjadi, ternyata tidak semua orang dapat menikmati kasih, sehingga mereka mencari kasih ke tempat-tempat yang berbahaya. Anak yang merasa kecewa dengan orang tuanya, karena kurang mendapat perhatian, akhirnya memburu kasih di tempat-tempat yang salah. Dan salah satunya yang menjerumuskan mereka adalah narkoba yang sudah memakan ribuan anak muda.

      Selain itu, kita melihat ada berjuta-juta anak yang kehilangan kasih sayang dari orang tua karena peperangan, kemiskinan, ketidakadilan dan lain sebagainya. Berapa banyak kita melihat anak-anak jalanan yang tidak mempunyai orang tua dan tidur di emper toko, dan anak-anak pengungsi yang harus berjuang bertahan hidup di barak-barak pengungsian tanpa kasih sayang orang tua mereka? Juga berapa banyak anak-anak muda yang diusir keluarganya dan dititipkan di panti asuhan - panti asuhan?

      Saudara, pertanyaan bagi kita saat ini adalah: “Apakah kita peduli dan mengasihi mereka?” Kalau belum maka kita harus bertobat! Maksud Rasul Paulus memberikan pengajaran ini adalah agar jemaat Tuhan tidak egois dan tidak mementingkan diri sendiri saja. Kita harus memiliki kasih, karena kasih merupakan anugerah yang terbesar yang kita terima, dan merupakan hal yang tak ternilai harganya di dunia ini. Firman Tuhan berkata, “Lebih baik sepiring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian” (Ams. 15:17).

      Ini berarti bahwa kasih merupakan sesuatu yang sangat berharga dan memiliki peranan yang sangat penting. Tetapi banyak orang salah mengerti. Mereka mengira bahwa kasih dapat ditukar dengan uang atau harta. Akibatnya adalah banyak anak-anak yang terjerumus dalam lembah hitam oleh karena kasih mereka ditukar dengan uang dan harta. Ini merupakan hal yang salah!

 

Renungan:

      Saudara, dunia saat ini telah kehilangan kasih dan mereka sangat membutuhkan kasih.  Dengan kasih, dua orang yang bermusuhan dapat diperdamaikan; dengan kasih, anak dan orang tua dapat dipersatukan. Dengan kasih, dunia ini pasti dapat hidup rukun satu dengan yang lainnya. Mari wujudkan kasih itu kepada sesama kita, karena ini adalah perintah Tuhan Yesus (Mat. 22:37-39).

 

Banyak anak muda yang kebutuhannya tercukupi, kecuali kasih sayang.

 

Bahasa Rahasia

August 15th, 2008

1 Korintus 14:1-9; Mazmur 138:3

 

"Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia" (1 Korintus 14:2).

 

      Kalau Anda berkata-kata dengan orang Amerika Anda harus menggunakan bahasa Inggris. Dan bila Anda ingin berkomunikasi dengan orang Mesir, maka bahasa Arablah yang harus dipakai. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bila orang Madura yang tidak bisa berbahasa Inggris bertemu dengan orang Australia yang tidak bisa berbahasa Madura atau Indonesia? Yang pasti mereka akan memakai bahasa Tarzan. Anda pasti tahu apa artinya itu.

      Bahasa merupakan alat komunikasi yang dipakai manusia untuk menyatakan segala sesuatu yang ada di benak mereka. Begitu pentingnya bahasa dalam kehidupan pendidikan dan bisnis, orang rela kehilangan jutaan rupiah hanya untuk bisa berbicara dalam bahasa tertentu dengan baik. Tetapi ada satu bahasa yang Anda tidak perlu belajar dan mengeluarkan uang banyak supaya bisa mengucapkannya. Apa itu? BAHASA ROH!

      Apakah itu BAHASA ROH? Secara sederhana adalah bahasanya Roh Kudus. Mengapa? Sebab bahasa tersebut bukan hasil dari pikiran atau imajinasi manusia tetapi berasal dari Roh Kudus. Setiap kata dalam bahasa roh itu adalah inspirasi Roh Kudus. Siapa yang menggunakannya? Pemercaya. Kapan itu terjadi  pertama kali? Saat Anda dibaptis dan dipenuhi dengan Roh Kudus, maka dari dalam diri Anda akan mengalir bahasa-bahasa baru yang berasal dari dalam roh Anda kemudian keluar melalui mulut Anda sebab Roh Kudus tinggal di dalam roh Anda. Bagaimana cara mendapatkannya? Kursus? Diajari? Tidak! Tetapi Bapa surgawi yang akan mengaruniakan kepada Anda.

      Kepada siapa kita berbicara dalam bahasa roh? Allah! Sebab BAHASA ROH adalah bahasa doa kita kepada Allah, di samping berdoa dalam akal budi. Setan sama sekali tidak mengerti arti BAHASA ROH yang kita ucapkan itu. Mengapa? Sebab itu adalah bahasa rahasia. Artinya saat kita berkata-kata dalam BAHASA ROH kepada Allah sebenarnya kita sedang mengungkapkan dan mengucapkan hikmat Allah atau rencana Allah bagi hidup kita atau orang lain. Serta meminta kepada-Nya agar digenapi dalam hidup kita. Dan hanya Allah saja yang mengerti hal itu, kecuali Tuhan juga memberikan kepada kita penafsirannya juga.

 

Renungan:

      Semakin Anda berdoa dan berkata-kata dalam BAHASA ROH, maka Anda sebenarnya sedang mempersiapkan masa depan Anda sejalan dengan rencana Allah. Rencana Allah atas hidup Anda adalah baik, berkenan, sempurna, berhasil, sukses dan diberkati. Oleh sebab itu mintalah kepada Roh Kudus untuk terus menuntun, memenuhi dan menguasai hidup Anda. Dan ucapkanlah bahasa-bahasa rahasia kepada Allah agar rencana-Nya digenapi.

 

Berdoa dalam roh berarti mengobarkan api di dalam diri Anda.

 

Tugas Tuhan Untuk Kita

August 14th, 2008

Ringkasan kotbah Pdt. Esther Lie

Tanggal 10 Agustus 2008

 

Ayat bacaan 1 Raja-Raja 19:1-18

 

Dunia saat ini sedang membutuhkan uluran tangan kita, dan Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk menjadi tanganNya di dunia ini.

 

Kita sebagai umat Kristen mendapat tugas dari Tuhan, sama seperti Elia (ayat 15-18).

 

Ayat 3 menceritakan Elia yang membunuh nabi-nabi baal, akan tetapi ia lari ketakutan ketika Izabel mengancamnya. Marilah kita lihat keadaan kita sendiri. Apa yang sedang kita alami saat ini atau perkara kecil apa yang sudah membuat kita lari ketakutan dari tugas Tuhan walaupun kita sudah pernah melakukan perkara yang besar di dalam Tuhan.

 

Ayat 9 menceritakan Elia yang masuk ke dalam gua untuk bersembunyi. Ketika kita menghadapi masalah sering kali kita lari dan mengucilkan diri. Kita kemudian menyalahkan orang-orang atau keadaan di sekeliling kita atas tindakan yang kita ambil.

 

Ayat 11 mengajarkan bahwa Tuhan mau kita untuk keluar, berdiri dengan tegak dan tidak melarikan diri dari persoalan kecil kita.

 

Ayat 5-7 mengajarkan bahwa ada waktu kita untuk makan dan minum sebelum kita melakukan pekerjaan Tuhan. 

 

Ayat 11 mengajarkan bahwa makanan Tuhan itu untuk mempersiapkan kita menghadapi segala macam kesulitan yang akan kita hadapi ketika.

 

Ayat 12 mengajarkan bahwa ketika kita digoncang habis-habisan oleh persoalan yang sedang kita hadapi, selama kita tetap di dalam hadirat Tuhan dan bersekutu dengannya maka urapan Tuhan akan turun atas kita untuk menguatkan kita. Dia Allah yang turut bekerja bersama kita untuk mendatangkan kebaikan. Dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah selama kita ada dalam Dia (Roma 8:35-39).

 

Kita sebagai anak-anak Tuhan memiliki tugas dari Tuhan dan dengan pertolonganNya kita akan mampu menyelesaikan tugas tersebut. Dan Allah menjadikan kita agar kita bisa memuliakan Dia dalam hidup kita (2 Korintus 4:7-15).

 

Tuhan memberkati.