“Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka” (Markus 9:2).
Seorang dokter skeptis berkata kepada pasiennya yang Kristen, “Aku tidak pernah mengerti tentang iman yang menyelamatkan. Aku percaya akan Allah dan aku juga percaya akan Yesus. Aku tidak merasakan adanya kebimbangan dalam hal ini. Aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah adalah Anak Allah, dan aku percaya akan Alkitab. Tetapi mengapa sepertinya aku belum selamat? Aku tidak merasa bahwa Allah itu dekat denganku.
Si pasien itu berkata, “Baiklah. Seminggu yang lalu aku percaya kepada Anda bahwa Anda adalah seorang dokter yang pintar. Aku percaya, jika aku mempercayakan pengobatan ini pada tangan Anda maka aku akan sembuh. Selama seminggu hingga saat ini saya telah meminum obat misterius yang tak kukenal. Saya tidak tahu apa isi obat itu. Saya juga tidak mengerti, namun saya percaya kepada Anda. Sekarang, bila seseorang datang kepada Tuhan Yesus dan berkata, ‘Tuhan Yesus, kekristenan sepertinya sesuatu yang penuh misteri. Aku tidak mengertinya, namun saya percaya. Engkau layak untuk dipercayai. Aku menyerahkan hidupku kepada-Mu.’ Itulah iman! Sesuatu yang sederhana, bukan?”
Saudara, tidak semua misteri di Alkitab dapat kita pahami dengan baik. Pribadi Yesus sendiri masih menimbulkan pertanyaan besar bagi para skeptis. Mereka meragukan keilahian Yesus, sebab mereka berusaha memahami-Nya dengan akal pikiran mereka. Padahal, dengan iman yang sederhana saja, itu sudah cukup menyelesaikan masalah.
Petrus, Yakobus, dan Yohanes adalah murid-murid Tuhan yang “beruntung”. Mereka tidak rugi capek-capek naik gunung Hermon yang tingginya 2700 m dari permukaan laut, sebab mereka memandang Yesus dari sudut yang berbeda. Mereka menyaksikan Yesus dengan segala kemuliaan-Nya. Mata mereka tercelik bahwa Yesus benar-benar Anak Allah yang hidup.
Saudara, kita perlu juga memiliki mata yang tercelik untuk memandang Yesus dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin selama ini kita sulit melihat-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Kita menerima informasi tentang Yesus hanya dari pendeta dan buku-buku, tetapi kita belum pernah mengalaminya secara pribadi. Kita harus mengalami kemuliaan Kristus secara pribadi. Kalau tidak, Yesus tidak ubahnya seperti manusia biasa lainnya. Mintalah Yesus untuk mencelikan mata Anda, supaya Ia menyatakan kemuliaan-Nya kepada Anda.
Renungan:
Wahyu terbesar yang dinyatakan Allah kepada manusia adalah kemuliaan Yesus. Apabila kita mengalami kemuliaan Yesus, hati kita akan dipenuhi dengan hadirat Tuhan. Hidup kita akan berubah total dan pandangan kita akan Kristus juga akan berubah total.

