TUHAN Tidak Pernah Mengecewakan

“Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” (Lukas 7:23).

under his wing ward TUHAN Tidak Pernah Mengecewakan

Ketika Henry M. Stanley bertemu David Livingstone - misionaris besar yang meluangkan waktu selama 30 tahun di pedalaman Afrika - memintanya untuk kembali ke Inggris bersamanya, Livingstone menolak. Dua hari kemudian Livingstone menulis dalam buku hariannya: “19 Maret, ulang tahunku; Yesusku; Raja; hidupku; seluruh hidupku. Aku menyerahkan hidupku lagi kepada-Mu. Terimalah aku, dan karuniakanlah, oh Bapa yang mulia, supaya hari-hari yang akan datang aku dapat menyelesaikan pekerjaan-Mu. Dalam nama Yesus aku memohon. Amin.”

Satu tahun kemudian para pembantu Livingstone menjumpainya sudah meninggal dunia dalam keadaan berlutut. Kehidupan Livingstone merupakan contoh dari sebuah kesetiaan dan komitmen. Kehidupannya jauh dari glamor, malahan penuh dengan penderitaan, demi memberitakan Injil kepada penduduk Afrika. Ia masih setia kepada Allahnya. Ia tidak pernah kecewa kepada Allahnya, sebab ia tahu mahkota kemuliaan sedang menantinya.

Yesus menyerukan, “Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” Kapan kita merasa kecewa kepada Tuhan? Saat doa kita tidak dijawab. Saat rumah tangga kita hancur. Saat persoalan melanda. Saat situasi buruk mendatangi hidup kita. Saat itulah kita merasa Tuhan tidak beserta kita. Oh saudara, kita masih belum seperti Paulus atau David Livingstone. Kita tidak pernah mengalami siksaan seperti mereka, namun toh mereka setia dan tidak pernah kecewa dengan Allah.

Banyak orang Kristen yang manja. Mereka enggan menjadi dewasa. Maunya setiap hari selalu disuapi dan tidak mau menerima hal-hal yang buruk. Kalau itu terjadi, mereka dengan cepat akan menyalahkan Tuhan. Bila ada masalah sedikit saja, mereka ngambek sama Tuhan. Oh Tuhan, jadikan kami orang-orang yang mengerti isi hati-Mu. Jauhkan dari kami bibir yang menyalahkan-Mu.

Saudara, Allah tidak pernah berbuat kesalahan dan Ia tidak dapat berbuat kesalahan. Kadang Allah mendidik kita dengan menghajar kita, karena kita dianggap anak (Ams. 13:24). Dan setiap peristiwa buruk yang menimpa kita pasti ada hikmahnya. Hikmah itu hilang tatkala hati kita dipenuhi dengan kekecewaan kepada Allah. Mintalah Roh Kudus menerangi hati Anda supaya Anda mengerti apa yang menjadi maksud Allah.

Renungan:

Penuhi hati Anda dengan ucapan syukur kepada Tuhan, baik untuk hal yang baik maupun yang buruk. Belajarlah mengucap syukur dalam segala hal supaya Anda melihat setiap permata di balik penderitaan. Temukan permata dibalik penderitaan.

leave a comment

Latest Sermon

Translator