Mar 07
Wahyu 19:1-5; Mazmur 150:6
“Maka kedengaranlah suatu suara dari takhta itu: "Pujilah Allah kita, hai kamu semua hamba-Nya, kamu yang takut akan Dia, baik kecil maupun besar” (Wahyu 19:5)!
Menurut majalah Pentecostal Evangel, J.K. Gressett menceritakan seseorang bernama Samuel S. Scull yang tinggal di gurun Arizona bersama istri dan anak-anaknya.
Suatu malam badai gurun yang dahsyat menghantam dengan diiringi hujan air dan es serta angin kencang. Menjelang fajar menyingsing, dengan perasaan takut akan apa yang dilihatnya itu, Samuel bergegas memeriksa kerusakan yang ditimbulkan.
Badai itu telah menghancurkan taman dan menghempas truk sampai ke tanah; sebagian atap rumah terangkat; kandang ayam terhempas tertiup angin, dan ayam mati di mana-mana. Kehancuran dan kerusakan ada di mana-mana.
Sementara ia memandangi dengan linglung sambil berpikir apa yang akan dilakukannya, samar-samar ia mendengarkan suara ribut di antara reruntuhan kandang ayam. Ternyata seekor ayam jantan tua miliknya yang mencoba mendaki reruntuhan dan belum berhenti sampai ia mencapai puncak tertinggi. Ayam jantan tua itu basah kuyup dan sebagian bulunya tercabut. Namun ketika matahari mulai muncul ayam tua ini mengepakkan sayapnya lalu dengan penuh keyakinan ia berkokok.
Saudara, seharusnya kita juga seperti ayam ini – memuji Tuhan di dalam segala hal. Dan kalau Anda memuji Tuhan itu merupakan suatu keharusan bagi segala makhluk seperti Alkitab katakan, “Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya” (Mazmur 150:6)!
Surga kelak dipenuhi dengan pujian. Kalau Anda tidak terbiasa memuji Tuhan setiap saat dan dalam segala situasi, maka Anda akan tersipu malu saat Anda berada di surga, sebab Anda terlihat “kaku” ketika memuji Tuhan.
Hari ini Anda mungkin mengalami hari sial, semuanya berjalan tidak sesuai dengan harapan Anda. Saat Anda menggerutu pada saat yang sama ada pujian di surga. Saat Anda ngedumel malaikat Allah sedang mengangkat tangan memuji Tuhan. Anda tidak sinkron dengan irama surgawi. Marilah kita memuji Tuhan sebab itu adalah kewajiban bagi kita.
Renungan:
Allah kita layak dimuliakan. Sementara umat lain dengan giat memuliakan Allah dan bangun pagi-pagi menyembah allahnya, di manakah kita saat itu? Pulas di tempat tidur? Ayo kita bangun dan memuji Allah kita.
Ayam tahu cara memuji Tuhan, bagaimana dengan Anda?
Mar 06
Wahyu 16:8-14; Yeremia 5:3
“Dan malaikat yang keempat menumpahkan cawannya ke atas matahari, dan kepadanya diberi kuasa untuk menghanguskan manusia dengan api. Dan manusia dihanguskan oleh panas api yang dahsyat, dan mereka menghujat nama Allah yang berkuasa atas malapetaka-malapetaka itu dan mereka tidak bertobat untuk memuliakan Dia” (Wahyu 16:8-9).
Dalam zaman Yosia bin Amon raja Yehuda, Tuhan memakai Yeremia untuk menyampaikan berita pertobatan kepada umat-Nya. Tetapi tampaknya umat Israel tidak mau mendengarkan teguran Tuhan. Tuhan terus memberikan kesempatan kepada umat untuk bertobat, tetapi kesempatan itu tidak dipakainya.
Akhirnya dengan berat hati Tuhan menyatakan didikan-Nya. Penghukuman Tuhan akhirnya tidak dapat dielakan, dengan tujuan supaya umat-Nya bertobat. Bahkan dalam pergumulannya Yeremia berkata:
“Ya TUHAN, tidakkah mata-Mu terarah kepada kebenaran? Engkau memukul mereka, tetapi mereka tidak kesakitan; Engkau meremukkan mereka, tetapi mereka tidak mau menerima hajaran. Mereka mengeraskan kepalanya lebih dari pada batu, dan mereka tidak mau bertobat” (Yeremia 5:3). Dijelaskan dalam ayat di atas, manusia dihanguskan oleh panas api yang dahsyat, dan reaksinya justru menghujat nama Allah, dan mereka benar-benar tidak mau bertobat untuk memuliakan Dia.
Masih ada kesempatan bagi kita saat ini untuk mengecap kebaikkan Tuhan, sebab kasih setia-Nya selalu baru setiap pagi disediakan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Tiada henti-hentinya berkat dicurahkan atas hidup kita entah waktu tidur atau berjaga-jaga (Mazmur 127:2). Ia adalah Allah yang setia, penuh kasih dan rahmat karunia. Kasihnya begitu hebat dan luar biasa, 2000 tahun yang lalu Ia datang untuk mencari dan menyelamatkan manusia berdosa, supaya oleh-Nya kita semua diselamatkan-Nya.
Rencana Allah ialah semua orang datang kepada-Nya dan menerima anugerah yang disediakan-Nya. Namun kenyataannya tidak semua orang mau masuk dalam anugerah-Nya. Manusia memiliki kecenderungan berjalan dengan jalannya sendiri. Bahkan salib Kristus dianggap sebagai suatu kebodohan. Di sisi lain ada umat-Nya yang mulai bergeser kepada kedagingan. Sudah mengenal Tuhan cukup lama, tetapi hidupnya tidak mencerminkan kemuliaan-Nya. Begitu banyak orang yang dulunya rohani mengalami kemunduran yaitu memulai dengan Roh, mengakhiri dengan daging.
Renungan:
Ada yang dingatkan berkali-kali melalui berbagai peristiwa, namun hal itu tidak digubrisnya. Di dalam menyatakan kasih-Nya, kadang Allah harus mendisiplin umat dengan penghukuman, tetapi tujuan bukan untuk menghancurkan kita melainkan menuntun umat untuk bertobat dan kembali kepada-Nya.
Lalu bagimanakah dengan kita? Allah mau supaya kita hidup di dalam pertobatan, supaya terhindar dari api siksaan kekal.
Hiduplah di dalam pertobatan sebab itulah kunci kepada hidup berkelimpahan.
Mar 05
Wahyu 17:1-6; Yesaya 53:5
“Dan aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus. Dan ketika aku melihatnya, aku sangat heran” (Wahyu 17:6).
Sebuah buletin "The Voice of the Martyrs" menceritakan kisah pilu sekaligus kepahlawan seorang bernama Mary Khouri:
"Mary Khoury berumur 17 tahun ketika desanya, Damour di Lebanon diserang oleh tentara 'agama lain' yang radikal. Mereka memaksa semua orang di desa tersebut untuk memeluk 'agama lain' dengan kekerasan. Ia dan orang tuanya diberikan satu pilihan: "Jika kalian tidak berpindah agama, kalian akan ditembak."
Mary mengetahui bahwa Yesus juga diberikan pilihan yang sama, yaitu: menyerahkan kedudukan-Nya sebagai Anak Allah dan disalibkan atau tetap mempertahankan kedudukan-Nya. Ia lebih memilih salib. Jadi Mary menjawab, "Saya dibaptis sebagai seorang Kristen dan firman-Nya kepada saya adalah: Jangan sangkali imanmu. Saya akan mematuhi-Nya. Silakan tembak saya!" Mereka menembaki ayah dan ibunya. Mereka juga menembaknya dan meninggalkannya dalam keadaan sekarat.
Dua hari kemudian Palang Merah Internasional datang ke desanya. Mereka menemukan bahwa hanya Mary yang satu-satunya masih hidup. Orang tuanya meninggal dalam kejadian tersebut. Ia menjadi lumpuh karena tembakan tersebut mengenai urat syaraf tulang belakang. Lengannya tidak dapat digerakkan.
Mulanya Mary menjadi depresi. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kemudian Tuhan berbicara kepadanya dan ia sekarang mengetahui apa yang harus ia lakukan walaupun dalam keadaan lumpuh. "Setiap orang mempunyai pekerjaan," katanya.
"Saya tidak akan pernah menikah atau melakukan pekerjaan fisik. Jadi saya akan menyerahkan hidup saya untuk melayani para pemeluk 'agama lain', khususnya bagi mereka yang telah memotong leher ayah saya, menusuk ibu saya sambil mengutukinya dan mencoba membunuh saya......"
Ini adalah sekelumit saja cerita tentang penganiayaan terhadap orang percaya. Dan Tuhan sudah menubuatkan bahwa penganiayaan akan semakin meningkat menjelang kedatangan-Nya. Dan sampai kapanpun setan akan berusaha menganiaya orang percaya. Dan jangan heran pula kalau dunia begitu membenci Anda. Tetapi orang yang bertahan sampai akhir akan menerima kemuliaan bersama dengan Allah.
Renungan:
Apapun yang terjadi Injil harus diberitakan. Kalau toh penganiayaan harus terjadi, Kabar Baik harus disampaikan kepada seluruh dunia bahwa Anak Allah telah menjadi korban bagi keselamatan manusia.
Yesus mau berkorban untuk Anda; Anda mau berkorban untuk-Nya?
Mar 04
Wahyu 18:1-8; Nahum 1:2
“Sebab dosa-dosanya telah bertimbun-timbun sampai ke langit, dan Allah telah mengingat segala kejahatannya” (Wahyu 18:5).
Perjanjian Lama berkata, “TUHAN itu Allah yang cemburu dan pembalas, TUHAN itu pembalas dan penuh kehangatan amarah. TUHAN itu pembalas kepada para lawan-Nya dan pendendam kepada para musuh-Nya” (Nahum 1:2).
Sekilas kita mempunyai gambaran yang negatif mengenai Allah kita. Dia pencemburu. Dia pembalas. Penuh kehangatan amarah. Dia pendendam. Dia pengingat segala kejahatan manusia.
Satu hal yang harus Anda pahami bahwa Alkitab menggunakan bahasa manusia untuk menjelaskan tentang Allah. Keterbatasan bahasa ini menjadi kendala bagi kita untuk memahami Allah kita dengan benar. Misalnya dikatakan bahwa ‘Allah ….berjalan-jalan dalam taman itu….” (Kejadian 3:8). Kata ‘berjalan-jalan’ digunakan untuk memudahkan kita memahami tentang keberadaan Allah saat itu. Apakah Allah itu punya kaki lalu berjalan-jalan seperti kita? Atau dikatakan bahwa Allah itu cemburu. Jangan samakan cemburu Allah ini dengan cemburu Anda. Kalau Anda cemburu itu adalah cemburu dengan tendensi untuk memiliki dan Anda tidak mau kehilangan milik Anda. Tetapi Allah cemburu supaya manusia tidak binasa! Beda, bukan?
Begitu juga bila dikatakan bahwa Allah itu pembalas dan pendendam kepada musuh-musuh-Nya. Saya menangkapnya dalam pengertian bahwa Allah itu tidak sekali-kali melepaskan manusia dari hukuman apabila orang itu bersalah (Nahum 1:3). Tetapi sisi lain Anda harus melihatnya sebagai Allah yang penuh kasih dan kaya akan pengampunan. Dia tidak pelit menyatakan belas kasihannya dan menunjukkan kasih setia-Nya, seperti Alkitab katakan, “Tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku” (Keluaran 20:6).
Ingatan Allah itu tajam. Dia tidak pernah lupa. Dia mengingat dosa, tetapi juga mengingat kebaikan Anda. Jadi sekarang tergantung Anda. Apakah Allah ingin Dia mengingat kesalahan Anda ataukah mengingat kebaikan Anda. Kalau Anda terlanjur berbuat salah, bertobatlah supaya Allah tidak mengingat dosa-dosa Anda, “….. sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka” (Yeremia31:34).
Renungan:
Tidak ada kesalahan atau kebaikan yang lolos dari pengamatan-Nya. Mungkin Anda mengira bahwa apa yang Anda lakukan 20 tahun yang lalu akan dilupakan Allah. Jadi kalau dosa Anda kubur sampai puluhan tahun sebelum Anda mengakui dan bertobat, itu masih tersimpan dalam memori Allah. Tetapi sekejap akan sirna ketika Anda berlutut memohon pengampunan-Nya.
Ingatan Allah selalu tajam dan tidak terkikis oleh waktu.
Mar 03
Wahyu 17:7-18; Amsal 16:6
Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia" (Wahyu 17:14).
Kita tentu ingat firman yang berkata: “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu…… (Amsal 3:3). Ada dua hal penting yang harus tetap ada di dalam hidup orang percaya, yaitu kasih dan setia. Kita diselamatkan karena kasih Allah. Karena kasih-Nya Ia menebus dosa-dosa kita di kayu salib, bukan dengan darah hewan korban, tetapi dengan darah-Nya sendiri. Berikutnya Allah mau supaya kasih-Nya tinggal di dalam kita, untuk disalurkan kepada orang di sekeliling kita. Namun kenyataannya tidak demikian.
Mengapa kasih menjadi suam dan akhirnya dingin? Salah satunya adalah kurang setia untuk mengerjakan kasih dalam situasi dan kondisi apapun. Kita bisa saja rajin untuk melakukan kasih ,tetapi jika itu dikerjakan hanya beberapa tahun saja percuma. Kasih perlu dikerjakan dengan ketekunan dan kesetiaan. Banyak yang rajin tetapi sedikit yang setia, tetapi Allah mau kedua-duanya ada di dalam kita yaitu kasih dan setia, supaya kita tidak terperangkap kefasikan.
Allah mau kita hidup di dalam kemenangan, bagaimana caranya? Tuhan Yesus berkata: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (Yohanes 15:4). Kita hidup di dalam kemenangan jika kita tinggal bersama-sama dengan Allah.
Ayat di atas juga menekankan : “…. Mereka yang bersama-sama dengan Dia, akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia" (Wahyu 17:14). Sebagai umat pilihan, Allah mau kita memiliki kasih dan kesetiaan. Sebab orang yang setia dikenan oleh Allah (Amsal 12:22)
Kalau kita setia jangan takut dengan keadaan dan persoalan yang sedang kita hadapi, sebab firman-Nya berkata: “…..janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan (Yesaya 41:10).
Renungan:
Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni, karena takut akan TUHAN orang menjauhi kejahatan. Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya! (Amsal 16:6; Mazmur 117:2).
Recent Comments