Filemon 1:8-10; Kejadian 50:16-21
“Mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus” (Filemon 1:10).
Seperti yang Anda ketahui Filemon bertobat melalui pelayanan Paulus. Filemon, seorang kaya yang mempunyai budak dan salah seorang di antaranya bernama Onesimus. Sepertinya ada masalah antara Filemon dengan Onesimus. Karena suatu hal yang tidak dijelaskan di Alkitab, Onesimus melarikan diri dari rumah Filemon, dan kemungkinan dengan membawa beberapa harta tuannya untuk ongkos pelariannya itu. Dan kalau Filemon saat itu menjadi marah saya pikir suatu hal yang wajar. Dan menurut hukum bangsa Romawi, budak yang melarikan diri dapat dihukum mati.
Filemon menghadapi dilema. Di satu pihak ia segan dengan Paulus yang memberikan kesan yang baik kepada Onesimus yang rupanya telah bertobat dan menjadi pelayan Paulus, tetapi di sisi lain ia mengalami kerugian finansial, lagi pula ulahnya itu amat menjengkelkannya. Filemon sedang menghadapi ujian iman. Dan memang pada akhirnya Filemon mengampuni Onesimus, tetapi tentunya dengan pergumulannya sendiri yang tidak diceritakan di Alkitab.
Saudara, kita belajar mengenai mengampuni. Anda mungkin saat ini sedang disakiti oleh anak yang meninggalkan Anda dengan cara yang tidak baik, bahkan pembantu rumah tangga Anda yang pulang ke kampungnya sambil membawa cincin berlian Anda. Kalau sudah begini, yang ada di hati Anda adalah sakit hati dan kemarahan yang membara. Tanpa Anda sadari sebenarnya Anda sedang menghadapi ujian kasih. Selama ini Anda baru menerapkan teori, tetapi sekarang adalah prakteknya. Memang tidak mudah, seperti Filemon yang disakiti oleh Onesimus. Tetapi pada akhirnya Filemon mampu mengampuni Onesimus, dan sekarang giliran Anda juga harus mampu mengampuni “Onesimus-Onesimus” dalam hidup Anda.
Cobalah Anda melihat kehidupan Yusuf. Dia dibenci oleh saudara-saudaranya, dan yang lebih parah lagi dijual sebagai budak. Yusuf sudah dianggap hilang oleh saudara-saudaranya, dan memang inilah yang diinginkan mereka. Tetapi apa balasan Yusuf setelah ia menjadi orang terkenal dan penguasa di Mesir? Ia mengampuni mereka. Tidak hanya itu saja tetapi juga menanggung kehidupan anak-anak mereka (Kej. 50:21). Luar biasa! Pengampunan membawa pemulihan bagi sebuah keluarga yang hancur berantakan karena kebencian.
Renungan:
Kalau Anda jujur saat ini Anda sedang sakit hati. Kemarahan Anda terpendam selama bertahun-tahun dan harapan Anda masih sama: semoga musuh saya itu mendapatkan musibah. Ah, Anda menjadi orang jahat kalau bersikap seperti ini. Tuhan mau Anda mengampuninya supaya berkat Allah tidak terhalang dalam hidup Anda.
Dunia tidak mengenal kata “perang” bila selalu ada pengampunan.




Recent Comments