“Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yohanes 6:35).
Terry Bell menceritakan pengalaman yang tidak pernah ia lupakan:
“Saat itu tahun 1969. Itulah perjalanan misi saya yang “sesungguhnya”. Ketika itu saya yang berusia 20 tahun berada di sebuah desa kecil di India Selatan dan sedang merindukan kampung halaman, rindu dengan cheeseburger yang terakhir saya makan 2,5 bulan yang lalu.
Tanah tempat tinggal saya setengah hutan dan setengah semak belukar. Tarzan pasti kerasan tinggal di sini, tetapi saya tidak. Pada suatu sore yang membosankan, saya bermain-main dengan beberapa kera yang kerap bermain di sekitar situ. Sambil berdiri di sebuah loteng, saya menggoda kera-kera itu sambil menyodorkan remah-remah roti yang saya remas-remas membentuk bulatan-bulatan kecil. Dengan cepat kera-kera ini menyambar makanan di tangan saya. Sungguh bermain-main yang menyenangkan!
Tiba-tiba saya menyadari, di bawah
Perkataan itu seperti sebuah tikaman di hati saya. Di jalan-jalan di bawah
Setiap hari pemandangan ini terjadi dalam gereja-gereja - lebih penting bermain-main dengan kera-kera.” Saudara, Yesus adalah roti hidup. Semua orang membutuhkan roti hidup. Tetapi kepada siapa roti hidup itu kita berikan? Benarkah kita memberikan roti? hidup kepada yang membutuhkan ataukah kita bermain-main dengan kera - melakukan perkara-perkara yang tidak berguna bagi Kerajaan Allah?
Renungan:
Di luar

