“Jawab Yesus kepada mereka: "Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku” (Yohanes 7:16).
Seorang pemuda ditugaskan untuk menjaga sebuah rumah besar, indah, dan mewah. Mulailah ia beraksi sebagaimana layaknya orang kaya: cara duduk, cara berjalan, cara makan, bahkan cara berbicara. Ketika seorang pria setengah baya masuk ke dalam rumah tersebut, pemuda ini menghardiknya, “Siapa kamu dan siapa yang Anda cari?" Pria setengah baya ini menjawab, “Saya adalah pemilik rumah ini. Kamu siapa?” Pemuda ini kaget. Dengan malu ia berkata, "Maaf pak, maaf, mari silakan masuk."
Ilustrasi ini adalah gambaran orang-orang yang dititipi karunia oleh Tuhan, namun ia bertingkah laku seolah-olah karunia itu adalah miliknya sendiri.?
Siapa tidak tahu bahwa Yesus adalah ahli melakukan mukjizat. “Prestasi-Nya” dapat dicatat, mulai dari mengubah air menjadi anggur di Kana, memelekkan mata Bartimeus, membangkitkan Lazarus, sampai menempelkan telinga Malkhus yang dibabat pedang oleh Petrus. Khotbah-khotbah-Nya menarik dan dikagumi, sehingga banyak orang yang berdecak kagum. Semua orang tahu bahwa hal itu dilakukan oleh seorang yang bernama Yesus dari Nazaret. Banyak kesempatan bagi Yesus untuk mempermuliakan diri-Nya sendiri. Tetapi dengan rendah hati Dia berkata: "Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku (Yoh. 7:16). Hidup-Nya benar-benar hanya untuk memuliakan Allah.
Banyak orang - ketika masih belum dipakai Tuhan secara luar biasa - masih bisa merendahkan diri. Tetapi setelah ia mulai naik daun - diundang di mana-mana untuk berkhotbah - dan pelayanannya banyak terjadi mukjizat, mulailah dia meninggikan dirinya. Ia berlagak seperti pemuda di atas - mengaku-ngaku memiliki rumah mewah yang dititipkan.
Semua kemampuan, talenta, karunia, atau kelebihan apa saja yang kita miliki itu semua adalah titipan dari Yang Maha-Kuasa. Seringkali kita mencoba mencuri kemuliaan yang menjadi hak Tuhan. Manakala orang-orang bertepuk tangan - memberikan pujian kepada kita, maka tampaklah kepala kita mendongak ke atas sembari mengantongi setiap pujian yang disodorkan. Yesus berkata, “Tetapi Aku tidak mencari hormat bagi-Ku: ada Satu yang mencarinya dan Dia juga yang menghakimi” (Yoh. 8:50). Segala perbuatan Yesus adalah untuk hormat bagi yang mengutus-Nya, Allah Bapa. Bagaimana dengan Anda?
Renungan:
Marilah kita mencari kemuliaan bagi Allah dengan tulus. Bila talenta,? karunia, maupun kemampuan yang kita miliki, pandanglah semua itu sebagai alat untuk memuliakan Allah Bapa di surga. Berikan kemuliaan dan pujian hanya kepada Tuhan.




June 19th, 2009 at 2:38 am
Muliakan TUhan dengan harta milikmu