“Kata Pilatus kepada-Nya: “Apakah kebenaran itu” (Yohanes 18:38a)?
Suatu hari iblis berjalan dengan salah satu anak buahnya. Mereka melihat seseorang memungut sesuatu yang bercahaya. “Apa yang ditemukan orang itu?” Tanya anak buah iblis.
“Sepotong kebenaran,” jawab iblis.
Kebenaran yang sepotong lebih berbahaya daripada dusta yang penuh. Sebab melalui kebenaran yang sepotong manusia berusaha mendirikan kebenaran yang mutlak. Lihat saja orang-orang yang mengaku sebagai nabi yang paling benar kemudian mendirikan agama yang “paling benar” untuk mencari pendukung sebanyak-banyaknya. Celakanya, banyak orang terkesima dengan kebenaran yang sepotong ini. Tidak sedikit pula yang rela mati demi yang sepotong ini.
Yesus adalah kebenaran! Yesus merupakan standar dari kebenaran Allah. Dalam Perjanjian Lama disebutkan bahwa “Taurat Allah benar” (Mzm. 119:142); “perintah Allah adalah benar” (Mzm. 119:151); “dasar firman Allah adalah kebenaran” (Mzm. 119:160). Dengan kata lain Allah bermaksud menyampaikan bahwa sebagai Penguasa alam semesta, Ia berhak menyandang gelar sebagai Kebenaran. Semua yang diucapkan-Nya adalah kebenaran. Sedangkan kita tahu bahwa Yesus adalah firman yang menjelma menjadi manusia (Yoh. 1:1, 14). Dia adalah kebenaran yang mutlak!
Renungan:
Banyak kebenaran-kebenaran yang kita temukan di dunia ini. Namun kita percaya bahwa kebenaran sejati dan yang penuh itu adalah kebenaran Allah. Yesus adalah kebenaran itu! Bila tidak ada Yesus, maka tidak akan ada kebenaran.

