“Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu” (Kisah 5:5)
Kisah di atas agak membuat bergidik. Bagaimana tidak, seorang pengikut Kristus yang menjual ladangnya lalu sebagian dari hasil penjualan ladang tersebut dipersembahkan kepada Tuhan, tetapi ketika ia sedang berhadapan dengan hamba Tuhan untuk mempersembahkan sebagian hasil penjualan ladangnya tersebut, malah dia rebah ke tanah dan putuslah nyawanya. Wow … hal ini sangat mengerikan! Bukan hanya sampai di situ, kira-kira tiga jam kemudian istrinya juga rebah ke tanah, sebab ia juga berdusta terhadap Roh Kudus. Mereka berdua telah mencemarkan kekudusan Tuhan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena di dalam kekudusan ada kuasa yang sangat dahsyat.
Kekudusan bukan hanya sekedar sebuah kata tetapi kekudusan adalah sesuatu yang memiliki kuasa. Apabila kita perhatikan dalam Perjanjian Lama, di mana ada kekudusan, di situ pasti sesuatu yang dahsyat terjadi. Misalnya, ketika Tuhan menampakkan diri di gunung Sinai kepada Musa dan bangsa Israel, maka terjadilah guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan. Musa menyatakan seluruh gunung itu kudus dan barangsiapa menyentuhnya pastilah ia mati (Kel. 19:16). Para imam yang melaksanakan tugas harus kudus. Kalau tidak, ia akan mati. Bahkan Raja Daud pernah mengungsikan tabut perjanjian ke rumah Obed – Edom karena tabut tersebut telah merenggut nyawa Uza yang mencoba menyentuhnya (2 Sam. 6:6-10). Di sini terlihat jelas bahwa kekudusan Tuhan sangat berkuasa.
Dalam gereja mula-mula, orang yang berdusta saja mengalami sesuatu yang luar biasa, tetapi bagaimana dengan gereja sekarang? Kadang-kadang kita prihatin mendengar ada orang-orang dalam gereja yang sudah jelas-jelas melakukan dosa, bisa bebas “berkeliaran” di dalam jemaat Tuhan. Dapatkah gereja sekarang kembali memiliki kuasa seperti gereja mula-mula? Jawabannya: dapat! Asal tingkat kekudusannya sama dengan gereja mula-mula. Bagaimana agar kekudusan gereja sekarang dapat sama dengan gereja mula-mula? Kita harus kembali kepada cinta gereja mula-mula, kasih gereja mula-mula, dan ketekunan berdoa gereja mula-mula.
Renungan:
Untuk melihat pernyataan kuasa Allah yang dahsyat kita harus hidup dalam kekudusan Allah. Kita harus berani membersihkan setiap kotoran yang melekat pada baju-baju jemaat. Mukjizat tidak menjamin orang hidup dalam kekudusan, tetapi kekudusan menjamin terjadinya mukjizat.
Tags: Para imam yang, Ananias dan putuslah, kira kira, Allah yang, Dalam gereja mula-mula

