Kisah 5:12-16; Mazmur 80:20
“Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan” (Kisah 5:14).
Kita lebih senang membicarakan pengalaman masa lalu, apalagi masa lalu itu begitu manis untuk dikenang. Dalam sejarah gereja, kita senang mengungkit masa-masa kejayaan kebangunan rohani: Charles Finney, Alexander Dowie, Evan Roberts, Smith Wigglesworth, atau Oral Roberts. Apakah kita hanya hidup pada masa lalu? Tidak! Kita hidup pada zaman sekarang! Apabila kita belum melihat gereja dipenuhi dengan kuasa Allah, apa yang tidak beres? Yang salah jemaatnya atau belum waktunya Tuhan? Seorang hamba Tuhan memberikan alasan-alasan mengapa kita masih belum melihat kebangunan rohani hingga kini: Pertama, gereja kehilangan kerinduan. Kesibukan dan aktivitas yang luar biasa membuat kita kehilangan kerinduan akan hal-hal rohani. Jujur saja, kita bisa duduk berjam-jam dengan “manis” dengan rekan yang menawarkan prospek bisnis yang bagus. Namun, berbicara mengenai firman Tuhan, 5 menit saja sudah begitu membosankan dan menjemukan. Kapan kebangunan rohani akan terjadi kalau hati kita begitu dingin terhadap perkara-perkara rohani? Hal ini bukan berarti kita harus selalu melakukan hal-hal rohani 24 jam sehari, tetapi yang dimaksudkan disini adalah adalah bagaimana tetap menciptakan kerinduan tanpa harus kehilangan aktivitas kita sehari-hari. Kedua, gereja malas berdoa. Mungkin saudara ingat dengan seorang yang masih berstatus sebagai pacar. Tidak ada kebosanan yang terpancar di wajahnya saat ia sedang bercengkerama dengan sang pacar. Nyamuk-nyamuk yang membentuk brigade di sekeliling kaki dan tangannya tidak mengurangi minat sedikit pun untuk terus “rapat” yang tidak ada kesimpulannya itu dengan sang pacar. Sebab apa? Jawabannya satu kata: cinta! Sama juga dengan gereja Tuhan. Kalau gereja sudah tidak atau berkurang cintanya kepada Tuhan, doa akan menjadi rutinitas yang amat menjemukan. Padahal, dulu saat baru jatuh cinta dengan Tuhan, berdoa menjadi hobi yang tidak dapat digantikan dengan kegiatan apapun juga. Ketiga, gereja mudah berkompromi dengan dosa. Hal ini merupakan persoalan serius dalam gereja. Banyak gereja yang kurang ketat dalam menerapkan teguran terhadap jemaat Tuhan yang berbuat dosa. Padahal firman Tuhan mengajarkan supaya kita menegur dengan kasih bagi mereka yang melakukan pelanggaran. Akhirnya masuklah budaya “sungkan”, apalagi ini menyangkut jemaat kehormatan yang setia memberikan sumbangan kepada gereja dalam jumlah besar!
Renungan:
Marilah kita mempunyai perasaan bersalah apabila api kemuliaan Allah belum membakar gereja. Berdoalah mulai sekarang supaya Allah memberikan kebangunan rohani bagi gereja-Nya.
Gereja adalah alat bagi Allah untuk memberkati bangsa lain.




Recent Comments