0

Rekayasa Dua Tuduhan

Posted on Feb 26 , 2008 in Renungan

 

“Maka Hanas mengirim Dia terbelenggu kepada Kayafas, Imam Besar itu” (Yohanes 18:24).

Dalam sejarah peradilan di dunia, kesalahan terbesar yang dilakukan oleh lembaga yang membela keadilan ini bukanlah dilepaskannya bandar judi dari jeratan hukum atau dibebaskannya seorang koruptor kelas kakap, tetapi hukuman mati yang dijatuhkan oleh Sanhedrin ­- pengadilan tertinggi orang Yahudi - kepada seorang yang sama sekali tidak bersalah.

William Barclay dalam salah satu komentarnya tentang suasana dalam sidang ini menulis:

“….. Sanhedrin mempunyai peraturan tertentu. Semua kasus kriminal harus diperiksa selama siang hari dan harus selesai juga pada siang hari juga. Kasus kriminal tidak dapat dilakukan pada masa Paskah…… Dan tidak ada keputusan Sanhedrin yang sah bila tidak dilakukan pertemuan dalam Hall of Hewn Stone di dalam Bait Allah. Semua bukti harus diteguhkan oleh 2 orang saksi, diperiksa secara terpisah dan mereka tidak boleh saling bertemu. Dan setiap saksi dusta akan dihukum mati……“

Semua prosedur dalam sidang yang mengadili Yesus itu ilegal alias tidak sah! Mereka tidak dapat menemukan saksi yang bahkan saling sependapat untuk dituduhkan kepada Yesus. Tetapi apakah artinya prosedur atau peraturan bila hati sudah demikian panas agar segera bisa membantai lawan? Itulah yang ada dalam benak ahli-ahli Taurat dan Imam Besar! Akhirnya mereka merekayasa 2 tuduhan yang dibuat-buat: pertama, Yesus akan merobohkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam 3 hari (Mat. 26:61); kedua, lebih parah lagi, Yesus menyamakan diri-Nya dengan Allah (Yoh. 10:33; Mat. 26:63, 64).

Tapi itulah Yesus. Dia tahu bahwa hidup-Nya telah ditentukan untuk menjadi tumbal bagi dosa seisi dunia, karena itu Ia tidak mencoba berteriak memanggil bala tentara surgawi ataupun berseru kepada Bapa-Nya. Apa yang dilakukan saat itu adalah berserah kepada Bapa. Ia tahu saat itu ketidakadilan berlaku atas diri-Nya. Ia tahu bahwa diri-Nya hanyalah menjadi obyek kekesalan orang-orang yang membenci-Nya. Tapi kasih-Nya kepada manusia membuat Ia rela menerima perlakuan itu.

Renungan:

Yesus mendapatkan perlakuan yang tidak adil, namun hati-Nya tetap lembut. Semuanya itu dilakukan untuk Anda dan saya. Marilah kita mengucapkan syukur kepada Yesus, Anak Allah yang telah menderita buat kita. Yesus adalah bukti nyata kasih Allah kepada manusia.

Tags: , ,

Leave a Reply