Kisah 28:17-31; Yesaya 60:1-3
“….. Pada hari yang ditentukan itu datanglah mereka dalam jumlah besar ke tempat tumpangannya. Ia menerangkan dan memberi kesaksian kepada mereka tentang Kerajaan Allah; dan berdasarkan hukum Musa dan kitab para nabi ia berusaha meyakinkan mereka tentang Yesus. Hal itu berlangsung dari pagi sampai sore” (Kisah 28:23).
Kalau ada orang yang paling senang melihat kerumunan massa, Paulus orangnya. Inilah kesempatan baginya untuk memberitakan Injil. Bagi Paulus, semakin banyak orang yang datang untuk mendengarkan Injil ia akan semakin senang. Bahkan dengan senang hati Paulus berbicara tentang Injil dari pagi sampai sore.
Melihat kegigihan Paulus dalam memberitakan Injil, membuat kita berpikir, apakah Paulus tidak mempunyai waktu sedikit untuk “refreshing” misalnya dengan mancing, main golf, atau jalan-jalan ke mall, maksudnya, nyantai sedikit? Alkitab memang tidak menuliskan hal-hal itu, tetapi yang pasti bahwa ia kadang melakukan hal-hal yang rileks. Tetapi ia tidak menempatkan itu dalam prioritas utama dalam hidupnya. Dalam salah satu suratnya kepada Timotius ia berkata, “LATIHAN BADANI terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Tim. 4:8).
Paulus menempatkan urutan yang benar: ibadah dulu baru latihan badani. Orang Kristen zaman sekarang suka membolak-balik urutan yang benar:
• Main golf dulu, dan kalau waktunya masih ada, baru datang ke gereja.
• Fitnes seminggu lima kali dan ibadah sekali saja dalam seminggu.
• Pagi-pagi baca koran dulu 2 jam, baru baca Alkitab 1 menit saja (itu pun kalau sempat).
• Ngrumpi dulu baru berdoa dengan sesingkat-singkatnya.
Ini bukan gaya Paulus. Dan ia pasti heran bila melihat orang Kristen dengan gaya hidup seperti ini. Bagaimana kita merindukan kebangunan rohani kalau hidup kita asal-asalan seperti itu? Bagaimana kita berbicara tentang jiwa-jiwa yang terhilang kalau pikiran kita jauh sekali dari perkara-perkara rohani? Ayo, kita introspeksi diri. Anda tidak punya nyala api yang membara lagi. Anda seperti sebalok es batu yang dingin! Duduk di bangku gereja yang dingin untuk mendengarkan khotbah yang dingin, dengan pendeta yang dingin pula! Kalau begitu, dengarlah suara tertawa iblis.
Renungan:
Sadarilah bahwa gereja bukan sekedar ajang untuk melampiaskan emosi, sebab banyak orang datang gereja just for fun (untuk bersenang-senang) belaka. Tetapi gereja adalah tangan Allah untuk melanjutkan misi Tuhan Yesus: menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang.
Gereja yang hidup adalah gereja yang bersaksi.
Tags: yang hidup, kita asal-asalan seperti, Injil dari pagi, Yang pasti, ia akan semakin

